Mengatasi Macet Harus Menjadi Program Darurat

Walikota Solo Joko Widodo geleng-geleng kepala menyaksikan Jakarta yang semakin macet. "Saya ditinggal pesawat sampai lima kali padahal sudah berangkat 3 jam sebelumnya," kata Joko Widodo dalam wawancaranya dengan Yahoo! Indonesia di Hotel Sultan, Senayan, Jakarta, Sabtu 4 Februari 2012.

Berikut wawancara lengkapnya.

Ada saran mengatasi macet Jakarta?
Mestinya pemerintah menyiapkan program jangka pendek tengah dan panjang. Jangka pendeknya, busway harus segera ditutup. Bisnya dipindah ke tempat lain. Lalu dimulai diatas busway diletakkan rel untuk trem atau railbus yang bisa mengangkut ribuan orang lebih banyak. Jadi bisa lebih cepat. Ini jangka menengah. Jangka panjang, 5 tahun kemudian MRT dan monorel harus selesai dibangun.

Tiga-tiganya harus dimulai sekarang juga.

Soal dananya?
Menurut saya busway dan trem bisa pakai APBD. MRT bisa pakai investasi. tergantung manajemen APBD. Kalau APBD pakai manajemen fokus, problem utamanya yang dikerjain. Dana semua digerojokin ke situ.

Harus kebut-kebutan, ini kan dikejar waktu. Ini semua harus jadi program darurat karena macetnya sudah seperti ini.

Pembangunan fisik saja?
Selain membangun, kebijakan juga jalan. Ada ERP, parkir mahal, genap ganjil, dan ada manajemen waktu.  Manajemen waktu harus detil, misalnya anak sekolah jam 6, orang kantoran jam 8, mol buka jam 11. Kalau sudah begini harus diatur dengan manajemen yang detil, makro sudah nggak bisa.

Dan yang paling penting harus ada manajemen kontrol yang ketat oleh walikota dan gubernur. Saya di Solo ngantor cuma satu setengah jam. Sisanya dimana? Ya di pasar, di jalan, di tanggul, di bantaran sungai. Karena problem dan masalah ada di lapangan bukan di kantor.

Membuat monorail juga sama. Setiap satu meter harus diikuti. Jika ada problem selesaikan. Ini penyelesain lapangan, bukan cuma kebijakan makro. Pagi, sore, di lapangan. Malam juga, karena problem nggak cuma di siang, malam juga banyak.

Masalah kota harus dihadapi dengan detil, diikuti lapangannya dari waktu ke waktu, masalah akan semakin kelihatan. Mendesain sebuah kebijakan itu keputusannya akan benar ketika penguasaan lapangannya kita kuasai. Itu yang harus dilakukan disini (Jakarta).

Saya bekerja 23 tahun di industri kayu dengan cara itu. Saya kerja di produk kayu, bikin mebel, maka saya tahu semua konstruksi di dalamnya. Mana cara yang benar, mana yang tidak. Saya tahu cara nukang, cara pernis, finishing. Begitu juga dengan bekerja di kota. Kepala dinas saya juga harus di lapangan. Karena mereka tahu saya banyak di lapangan. Kalau ditanya di rapat nggak tahu ya besok bisa hilang. Saya copot kalau nggak ngikutin gaya saya. Bukan pernah lagi, sudah keseringan (tertawa).

Dan tidak perlu marah-marah. Dulu waktu kasus KTP: proses dua-tiga minggu jadi satu jam. 3 lurah satu camat hilang.  Sistem saya siapkan, kalau nggak mau ngikutin sistem saya, hilang saja besok. Ada kepala dinas nggak mau masuk sistem ini, ganti. Sederhana saja.

Kami ingin mendengar cerita pembaca di Jakarta, berapa banyak waktu yang dihabiskan di jalan setiap hari? Pukul berapa Anda berangkat ke kantor setiap pagi?

Berita lainnya:
Solo jadi Woodstock Indonesia
Galeri: Jawaban Jokowi atas permasalahan kota
Jokowi soal pencalonannya sebagai Gubernur DKI Jakarta
Rakyat adalah gudang gagasan.

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.