Mengatasi Scarring Effect jadi Kunci Sukses Wujudkan Pemulihan Ekonomi

Merdeka.com - Merdeka.com - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkap kunci sukses untuk mewujudkan pemulihan ekonomi yang lebih kuat, berkelanjutan, dan inklusif di tengah tekanan pandemi Covid-19. Yakni, mengatasi scarring effect atau luka memar yang banyak dialami perusahaan atau korporasi.

"Ketika ekonomi global secara bertahap pulih dari pandemi, penting bagi kita untuk membangun kembali ekonomi bersama-sama dan lebih kuat. Ini berarti kita perlu memastikan bekas lukanya efek diminimalkan," ujar Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso dalam webinar The G20/OECD Corporate Governance Forum di Bali, Kamis (14/7).

Wimboh mengatakan, untuk mengatasi hal itu bisa dilakukan melalui perbaikan tata kelola perusahaan. Antara lain dengan meningkatkan koordinasi antara dewan komisaris dan jajaran direksi suatu perusahaan untuk mencapai target yang ditetapkan

"peran dewan dan manajemen dalam bisnis dalam mendefinisikan suara penting untuk memastikan semua keputusan adalah untuk kepentingan terbaik semua pemangku kepentingan," ungkapnya.

Selain itu, penguatan tata kelola perusahaan juga berarti bersiap-siap untuk mengembangkan sumber ekonomi baru yang lebih ramah lingkungan. Hal ini demi pertumbuhan secara berkelanjutan untuk pulih dari pandemi Covid-19 dan mitigasi risiko yang muncul.

"Kita harus mendekati lingkungan, sosial, dan prinsip tata kelola dengan serius seperti risiko bisnis lainnya dan peluang, untuk mencapai pertumbuhan yang berkelanjutan," tutupnya.

Tiga Tantangan Besar Pemulihan Ekonomi RI 2022

Sebelumnya, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo membeberkan tiga tantangan utama besar terhadap pemulihan ekonomi global yang berlangsung, termasuk di Indonesia tahun 2022. Pertama, normalisasi kebijakan negara maju yang mulai terindikasi dari kenaikan suku bunga AS.

Kedua, dampak luka memar yang berpengaruh terhadap pemulihan ekonomi, antara lain terhadap pemulihan di sektor dunia usaha dan upaya transformasi di sektor riil untuk mendorong daya saing dan produktivitas, serta transisi ke ekonomi hijau dan keuangan yang berkelanjutan.

Ketiga, ketegangan geopolitik Rusia-Ukraina yang berdampak pada pemulihan ekonomi global berupa kenaikan harga-harga komoditas global, baik energi dan pangan yang berdampak pada inflasi sejumlah negara.

"Dampak lainnya adalah gangguan dalam mata rantai perdagangan global yang memengaruhi distribusi dan volume perdagangan serta pertumbuhan pada ekonomi global, serta pada jalur keuangan dimana terjadi pembalikan arus modal ke aset yang dianggap aman (safe haven asset) sehingga dapat berdampak pada stabilitas eksternal dan nilai tukar, " jelas Perry dalam pernyataannya, Selasa (22/3). [azz]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel