Mengejar 'Mimpi' Transformasi RSUD Abepura Jayapura jadi Rumah Sakit Modern

Merdeka.com - Merdeka.com - Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Abepura di jalan Kesehatan Nomor 1 Kelurahan Yobe, Distrik Abepura, Kota Jayapura, Papua terakreditasi paripurna bintang 5 oleh Komisi Akreditasi Nasional Indonesia Kementerian Kesehatan RI. Direktur RSUD Abepura dr Daisy Urbinas mengatakan pihaknya menyiapkan rumah sakit Abepura menjadi rumah sakit modern di Tanah Papua.

"Dari 29 kabupaten dan 1 kota yang tersebar di wilayah Pemerintahan Provinsi Papua, RSUD Abepura menjadi satu-satunya rumah sakit yang terakreditasi paripurna bintang 5 oleh Komisi Akreditasi Nasional Indonesia Kementerian Kesehatan RI," ujar Direktur RSUD Abepura dr Daisy Urbinas, saat ditemui Merdeka.Com, Kamis (27/10).

Daisy mengatakan dirinya menjadi asesor internal pertama kalinya di rumah sakit tersebut ketika lulus diversi tahun 2007 dan tahun 2012.

"Saya adalah satu-satunya asesor untuk mempersiapkan akreditasi ini. Mempersiapkan asesor berikutnya dan akhirnya tongkat estafet terus berjalan hingga hari ini. Dan ini adalah sebuah prestasi nasional untuk Papua," kata Daisy.

RSUD Abepura bakal mengikuti ujian akreditasi pada Januari 2023. Pihaknya akan melakukan persiapan RSUD Abepura menjadi standar internasional atau Joint Commission International (JCI) bila lulus akreditasi.

"Terkait dengan hal tersebut di bulan Juni kemarin kami ada 68 orang untuk grup pertama melakukan branchmarking ke rumah sakit Gleneagles Hospital Penang, Malaysia. Untuk melihat bagaimana konsep JCI yang diterapkan di rumah sakit disana," tuturnya.

Saat berada di Penang, pihaknya melihat keunggulan dari pelayanan kesehatan yang membuat orang Indonesia lebih banyak memilih berobat ke negeri jiran itu.

"Padahal di Indonesia ada juga rumah sakit yang bagus tapi kenapa orang Indonesia lebih suka berobat ke Penang? Nah, jika ada pelayanan mereka yang lebih unggul, yang lebih bagus, itu mungkin yang akan kita adopsi, ya kalau bisa adopsi ya kita adopsi," tutur Daisy.

Grup kedua melakukan kunjungan ke Gleneagles Hospital Medini Johor Medical Center di Malaka. Bahkan, ada juga tim dari RSUD Abepura juga dikirim ke RS Pertamina Jakarta untuk belajar manajemen kaizen atau filosofi strategi bisnis yang diterapkan Jepang dalam menduniakan produk Toyota.

Upaya tersebut bertujuan untuk mengajak SDM di RSUD Abepura agar mulai merubah pola pikir kedaerahan untuk lebih maju dan modern.

"Kita tidak boleh berpikir Papua lagi, jadi hari ini harap maklum kita tidak bisa berbicara lokal Papua. Papua itu cerdas, saya selalu katakan kepada mereka bahwa Papua bisa maju dan ini waktunya," tegasnya.

Dalam sebulan, Daisy gencar melakukan road show ke Kementerian. Dia bertemu Direktur Fasyangkes dan Kesehatan Rujukan, mempresentasekan konsep yang diusung RSUD Abepura.

"Puji Tuhan kami dikasih kesempatan untuk presentasi di Direktur Regional III Bappenas, di waktu yang sama juga saya melakukan presentasi di Direktur Kesehatan Bappenas kemudian saya juga presentasi di Set Wapres dengan tim Felix Wanggai sebagai Direktur Eksekutif Percepatan Pembangunan Papua sebanyak dua kali," tuturnya.

Mimpi dr Daisy sangat sederhana. Dia hanya ingin ketika orang datang ke Papua melihat dan merasakan pelayanan rumah sakit tidak terkesan seperti rumah sakit pada umumnya.

"Ketika saya ke Malaysia melihat orang masuk rumah sakit, begitu dia lihat atau menginjak pintu rumah sakit tidak ada kesan rumah sakit, tapi ada kesan seperti kaya di mal. Ya, seperti rumah sehat lah. Jadi, itu yang saya impikan ketika mereka ke Papua dan menginjakkan kaki di rumah sakit di tanah Papua, wow mereka takjub ternyata ini Papua," akunya

Daisy mengaku impiannya ini tentu bisa diwujudkan dengan dukungan semua SDM yang ada di RSUD Abepura. Menurut dia, sebenarnya ia sudah memiliki orang-orang sefrekuensi sevisi-misi untuk merealisasi impian tersebut.

"Tapi sangat disayangkan ketika hal-hal yang sebenarnya bukan masalah karena rumah sakit sangat bertanggungjawab untuk menyelesaikan persoalan. Namun hal itu diangkat sebagai isu yang merusak mimpi besar yang sedang kita kerjakan hari ini. Dan saya tahu biasanya ada oknum-oknum yang mau menunggangi, yang tidak suka rumah sakit ini maju dan berkembang," sebutnya.

Dia tidak menampik sebagai rumah sakit dengan sederet prestasi, namun kurang dalam publikasi. Humas yang ada rumah sakit tersebut tidak efektif, sehingga RSUD Abepura tidak begitu familiar.

“Selain dengan beberapa prestasi, kami juga hari ini dipercayakan untuk menjadi satu-satunya Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) Rumah Sakit Daerah yang diharapkan Pemprov Papua bisa menjadi pusat branchmarking untuk BLUD, untuk akreditasi dan kemudian juga dipersiapkan sebagai rumah sakit pendidikan,” ungkapnya.

Di tahun 2014 hingga 2015, RSUD Abepura juga diganjar penghargaan market of the year dan Hospital Excellence untuk Papua. Kemudian tahun 2020 di masa pandemi Covid-19, RSUD Abepura juga mendapat kepercayaan dari Pemprov Papua sebagai rumah sakit yang siap melayani 100 persen pasien Covid-19 di tahun 2020-2021.

"Kemudian dilakukan survei independen oleh BPJS, hasil kepuasan pasien terhadap pelayanan RS Abepura itu 97 persen, di mana masyarakat Kota Jayapura merasa puas berobat di sini," bebernya.

"Dengan prestasi-prestasi ini saya pikir kami sangat optimis untuk rumah sakit ini bisa lebih menjadi rumah sakit modern di Papua. Jadi, jika ada satu dua oknum yang tidak merubah mindsetnya dan perilaku budaya kerjanya, itu sangat disayangkan karena bisa menghambat Papua maju di dunia kesehatan," pungkasnya. [ray]