Mengenal Adat Tonggeyamo, Penentuan Awal Ramadan di Gorontalo

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Gorontalo - Setiap daerah pasti memiliki adat yang berbeda, dalam memutuskan awal Ramadan. Bahkan saat ini penentuan satu Ramadan oleh pemerintah, harus melalui sidang isbat yang dihadiri oleh pemuka agama.

Namun berbeda dengan yang ada di Provinsi Gorontalo. Warga Gorontalo memiliki cara tersendiri dalam memutuskan awal satu Ramadan, yakni melalui rapat adat yang disebut dengan Tonggeyamo.

Udin Maksum, salah satu tokoh yang dituakan dalam adat tersebut mengaku, bahwa adat Tonggeyamo diartikan sebagai hitungan atau menghitung. Rapat adat ini wajib dihadiri oleh tokoh adat, pemuka agama dan para pimpinan daerah setempat, layaknya sidang isbat.

"Adat Tonggeyamo adalah menghitung dan menentukan bulan ramadan pertama antara Hisab dan Rukyat," kata Udin, Sabtu (10/4/2021).

Menurutnya, di rapat adat Tonggeyamo juga layaknya sidang isbat. Tokoh adat meminta tanggapan dari seluruh tamu undangan yang hadir saat itu dan meminta mereka menjelaskan hitungan pergerakan bulan.

"Mereka memaparkan pengetahuan mereka tentang perjalanan bulan. Akan tetapi mereka tidak menggunakan teropong, untuk memantau pergerakan bulan seperti yang digunakan pada umumnya," ujarnya.

"Mereka menghitung secara manual dan ilmu tersebut sudah turun temurun digunakan," katanya.

Mulai Ikut Pemerintah

Namun kata Udin, seiring berjalanya waktu, adat Tonggeyamo kini mulai mengikuti keputusan pemerintah pusat terkait penentuan 1 Ramadan. Sembari menunggu keputusan pemerintah, mereka melakukan musyawarah adat Tenggeyamo terlebih dahulu.

"Zaman dulu memang adat ini dipakai oleh warga Gorontalo untuk menentukan satu ramadan. Namun karena saat ini sudah modern, maka secara tidak langsung Tonggeyamo sendiri ikut keputusan pemerintah," ungkapnya.

"Pelaksanaan adat ini dilaksanakan sehari sebelum bulan ramadan yang dilaksanakan dari tingkat kabupaten hingga provinsi," ucapnya.

Ia berharap agar adat Tonggeyamo tersebut, tidak pernah ditinggalkan oleh masyarakat khususnya di Provinsi Gorontalo. Sebab adat ini merupakan warisan leluhur mereka.

"Meski zaman sudah modern, mari kita rawat baik-baik adat ini. Terlebih membaca pergerakan bulan tanpa bantuan alat," ujarnya.

Simak juga video pilihan berikut: