Mengenal Alexandria Ocasio-Cortez: Pemimpin Perempuan Milenial

·Bacaan 3 menit

VIVA – Alexandria Ocasio-Cortez atau yang biasa dipanggil AOC adalah anggota kongres perempuan termuda sepanjang sejarah Amerika Serikat pada saat berusia 29 tahun.

Hal yang menginspirasi AOC untuk menjadi anggota kongres adalah tantangannya selama menjadi kelas pekerja. AOC merasakan kerentanan untuk kehilangan pekerjaannya, apalagi saat itu AOC juga tidak memiliki asuransi kesehatan mengingat di Amerika Serikat tidak memiliki sistem jaminan kesehatan bagi seluruh warga.

Kondisi tersebut mendorong AOC untuk memperdalam komitmennya terhadap masalah yang berdampak pada orang-orang kelas pekerja. AOC terpilih sebagai anggota DPR Amerika Serikat, fraksi Democratic Socialist of America (DSA) yang mewakili distrik ke-14 Bronx dan Queens, New York. Sejak itu, namanya terus meroket di dunia perpolitikan Amerika Serikat dan terus vokal terhadap masalah kelas pekerja, keadilan sosial, ras, ekonomi, dan lingkungan.

Selama menjabat menjadi anggota kongres, AOC sudah memiliki beragam pencapaian dan telah menginspirasi kaum millennial terutama perempuan untuk terjun di dunia politik.

Sumber Kekuasaan Alexandria Ocasio-Cortez

Dalam memasuki dunia politik, AOC memperoleh kursi di anggota kongres melalui referent power. Robbins & Judge (2018) mendefinisikan referent power sebagai kekuasaan yang didapatkan karena karisma, karakteristik individu, dan keteladanan atau kepribadian yang menarik. Referent power AOC terlihat saat pemilihan umum 2018.

Dalam kampanyenya, AOC lebih mengutamakan masyarakat dan memiliki slogan people vs money. AOC melakukan hal baru dari tradisi politik Amerika Serikat, yaitu hanya menerima sumbangan dana dari masyarakat, bukan dana dari korporasi.

Kampanye AOC menghabiskan biaya sebesar US$200,000, sedangkan lawannya sebanyak US$2,8 juta. Tentu saja hal tersebut menarik perhatian warga Amerika Serikat, karena di sana masih banyak yang melakukan politik uang. Selain itu, AOC juga sangat terbuka dengan kisah perjuangannya saat menjadi kelas pekerja. Karena kepribadiannya yang berani, gigih dan apa adanya, AOC berhasil mengalahkan petahana yang telah menjabat selama 14 tahun.

Kepemimpinan Situasional Alexandria Ocasio-Cortez

Menurut Fiedler (1967), kepemimpinan yang efektif adalah pemimpin yang memiliki daya tanggap tinggi dalam menghadapi situasi tertentu di lingkungan sekitarnya. Oleh karena itu, pemimpin harus mampu menyelesaikan masalah-masalah aktual secara progresif.

Selama dua tahun kepemimpinannya, AOC sudah melakukan berbagai upaya untuk mengatasi berbagai isu penting di Amerika Serikat. Setelah dilantik, AOC langsung bergabung ke dalam Sunrise Movement yang bergerak memperjuangkan masalah lingkungan hidup.

AOC juga memperkenalkan program Green New Deal yang bertujuan untuk memerangi perubahan iklim dengan menciptakan lapangan pekerjaan yang ramah lingkungan, memberikan akses udara dan air bersih, dan lingkungan yang berkelanjutan. AOC pun turut menulis paket Just Society untuk mengatasi ketidaksetaraan dan kesenjangan ekonomi.

AOC juga terus berjuang agar setiap masyarakat dapat memperoleh kesehatan yang berkualitas dan konsisten melalui program Medicare for All. Dalam bidang pendidikan, AOC mendukung Student Debt Cancellation Act of 2019 yang bertujuan untuk membebaskan para pelajar yang tidak mampu membayar biaya pendidikan.

Selain itu, ia mendukung perluasan Low Income Housing Tax Credit dan National Affordable Housing Trust Fund agar setiap orang mendapatkan rumah yang aman, bersih, dan terjamin. Di masa pandemi COVID-19, AOC adalah anggota kongres yang paling aktif mengadakan bantuan sosial dan berhasil mengumpulkan 1 juta dollar AS untuk warga yang membutuhkan.

Kepemimpinan Gender Alexandria Ocasio-Cortez

AOC dinilai berhasil menjadi inspirasi dalam mematahkan glass ceiling yang masih terjadi di dunia politik. Pasalnya, Kongres Amerika Serikat sendiri masih 80% didominasi oleh pria.

Glass ceiling sendiri merupakan hambatan yang dirasakan oleh kaum wanita dan kaum minoritas dalam meraih jabatan tertinggi di tempat kerja. Glass ceiling ini erat kaitannya dengan stereotip gender. Padahal, gender tidak hanya terbatas pada perbedaan jenis kelamin saja.

Gender merupakan perbedaan peran, fungsi, dan tanggung jawab dari hasil konstruksi sosial (Umar, 1999). Berdasarkan Bem Sex Role Inventory (1978), gender feminin dicirikan sebagai penuh kasih sayang, simpati dan empati kepada orang lain, peduli, dan antusias.

Sedangkan gender maskulin dicirikan sebagai berjiwa kokoh terhadap keyakinan sendiri, berani, dan percaya diri. Sebagai sosok yang berjiwa kokoh, suka berjuang, dan empati, maka dapat dikatakan bahwa AOC menggabungkan kedua peran gender tersebut dalam kepemimpinannya.

Selama menjabat di bangku kongres, AOC telah memberikan suara penting tentang topik sensitif wanita seperti aborsi, upah yang setara, pelecehan seksual, dan kesehatan wanita melalui Every Woman Act. (Athaya Sekar Ayu)