Mengenal Burnout Akibat Stres Kerja, Ketahui Tahapan, Tanda, dan Pencegahannya

·Bacaan 4 menit

Liputan6.com, Jakarta Stres akibat pekerjaan, hubungan, atau aktivitas sehari-hari bisa memengaruhi kondisi fisik dan mental. Salah satu kondisi yang bisa muncul akibat stres adalah burnout. Istilah burnout banyak digunakan untuk mendeskripsikan tanda kelelahan berat.

Orang yang berjuang untuk mengatasi stres di tempat kerja dapat menempatkan diri mereka pada risiko tinggi kelelahan. Burnout bisa membuat seseorang merasa lelah, kosong, dan tidak mampu mengatasi tuntutan hidup.

Kelelahan dapat disertai dengan berbagai gejala kesehatan mental dan fisik juga. Jika tidak ditangani, burnout dapat menyebabkan stres dan kondisi mental jangka panjang. Berikut pengertian tentang burnout, tahapan, tanda, dan cara pencegahannya, dirangkum Liputan6.com dari Healthline, Jumat(28/5/2021).

Mengenal burnout

Ilustrasi burnout. Sumber foto: unsplash.com/Nik Shuliahin.
Ilustrasi burnout. Sumber foto: unsplash.com/Nik Shuliahin.

Istilah burnout pertama kali diciptakan oleh psikolog Herbert Freudenberger, pada 1974 silam. Burnout digambarkan sebagai kondisi stres yang parah yang menyebabkan kelelahan fisik, mental, dan emosional yang parah. WHO mendefinisikan burnout sebagai sindrom yang dikonseptualisasikan sebagai akibat dari stres kronis di tempat kerja yang belum berhasil dikelola.

Burnout jauh lebih buruk daripada kelelahan biasa. Burnout membuat orang sulit mengatasi stres dan menangani tanggung jawab sehari-hari. Orang yang mengalami burnout sering kali merasa tidak ada lagi yang bisa mereka berikan dan takut bangun dari tempat tidur setiap pagi. Ini membuat burnout menyebabkan perasaan pesimis terhadap kehidupan dan merasa putus asa.

Siapa pun yang terus-menerus terpapar stres tingkat tinggi bisa mengalami burnout. Jika tidak ditangani burnout, dapat menyebabkan penyakit fisik dan psikologis yang serius seperti depresi, penyakit jantung, dan diabetes.

Tahapan burnout

Ilustrasi Stres dan Kelelahan Credit: pexels.com/pixabay
Ilustrasi Stres dan Kelelahan Credit: pexels.com/pixabay

Burnout tidak menyerang sekaligus. Psikolog Herbert Freudenberger dan Gail North telah menguraikan 12 fase dari burnout. Berikut tahapannya:

1. Ambisi yang berlebihan

Tahapan ini biasa terjadi pada orang yang memulai pekerjaan baru atau melakukan tugas baru, terlalu banyak ambisi dapat menyebabkan kelelahan.

2. Dorongan diri sendiri untuk bekerja lebih keras

Ambisi mendorong seseorang untuk bekerja lebih keras.

3. Mengabaikan kebutuhan diri sendiri.

Orang yang mengalami burnout mulai mengorbankan perawatan diri seperti tidur, olahraga, dan makan dengan baik.

4. Salah menempatkan persepsi

Alih-alih mengakui bahwa ia mendorong diri sendiri secara maksimal, penderita burnout menyalahkan atasan mereka, tuntutan pekerjaan, atau kolega atas masalahnya sendiri.

5. Tidak ada waktu untuk kebutuhan yang tidak berhubungan dengan pekerjaan

Orang yang burnout mulai menarik diri dari keluarga dan teman. Undangan sosial ke pesta, film, dan kencan makan malam mulai terasa memberatkan, bukannya menyenangkan.

6. Penyangkalan

Ketidaksabaran dengan orang-orang di sekitar meningkat. Alih-alih mengambil tanggung jawab atas perilaku, orang yang mengalami burnout menyalahkan orang lain, melihat mereka sebagai tidak kompeten, malas, dan sombong.

7. Penarikan

Orang yang burnout mulai menarik diri dari keluarga dan teman. Undangan sosial ke pesta, film, dan kencan makan malam mulai terasa memberatkan, bukannya menyenangkan.

8. Perubahan perilaku

Mereka yang berada di jalan menuju kelelahan mungkin menjadi lebih agresif dan membentak orang yang dicintai tanpa alasan.

9. Depersonalisasi

Merasa terlepas dari hidup dan kemampuan untuk mengendalikan hidup.

10. Kekosongan atau kecemasan batin

Merasa hampa atau cemas. Orang yang burnout mungkin beralih ke perilaku pencarian sensasi untuk mengatasi emosi ini, seperti penggunaan narkoba, perjudian, atau makan berlebihan.

11. Depresi

Hidup kehilangan maknanya dan mulai merasa putus asa.

12. Keruntuhan mental atau fisik

Ini dapat memengaruhi kemampuan untuk mengatasi burnout. Kesehatan mental atau perhatian medis mungkin diperlukan.

Ciri-ciri burnout

Ilustrasi burnout. Sumber foto: unsplash.com/Francisco Moreno.
Ilustrasi burnout. Sumber foto: unsplash.com/Francisco Moreno.

Kelelahan

Merasa terkuras secara fisik dan emosional. Gejala fisik mungkin termasuk sakit kepala, sakit perut, dan nafsu makan atau perubahan tidur.

Isolasi

Orang dengan kejenuhan cenderung merasa terbebani. Akibatnya, mereka mungkin berhenti bersosialisasi dan curhat kepada teman, anggota keluarga, dan rekan kerja.

Melarikan diri dengan fantasi

Tidak puas dengan tuntutan pekerjaan yang tidak pernah berakhir, orang yang kelelahan mungkin berfantasi untuk melarikan diri atau melakukan liburan sendiri. Dalam kasus yang ekstrim, mereka mungkin beralih ke obat-obatan, alkohol, atau makanan sebagai cara untuk menghilangkan rasa sakit emosional mereka.

Sifat lekas marah

Burnout dapat menyebabkan orang kehilangan ketenangan dengan teman, rekan kerja, dan anggota keluarga dengan lebih mudah. Mengatasi stres normal seperti mempersiapkan rapat kerja, mengantar anak ke sekolah, dan mengerjakan tugas rumah tangga juga mungkin mulai terasa tidak dapat diatasi, terutama ketika segala sesuatunya tidak berjalan sesuai rencana.

Sering sakit

Burnout, seperti stres jangka panjang lainnya, dapat menurunkan sistem kekebalan, membuat lebih rentan terhadap pilek, flu, dan insomnia. Kelelahan juga dapat menyebabkan masalah kesehatan mental seperti depresi dan kecemasan.

Cara mencegah burnout

Ilustrasi bahagia - stres (iStockphoto)
Ilustrasi bahagia - stres (iStockphoto)

Stres mungkin tidak bisa dihindari, tapi kelelahan bisa dicegah. Berikut cara mencegah burnout:

Olahraga

Olahraga tidak hanya baik untuk kesehatan fisik, tetapi juga dapat memengaruhi emosi. Olahraga ringan seperti jalan kaki dan bersepeda bisa membantu mengatasi burnout.

Makan makanan yang seimbang

Makan makanan sehat yang diisi dengan asam lemak omega-3 bisa menjadi antidepresan alami. Menambahkan makanan yang kaya omega-3 seperti minyak biji rami, kenari, dan ikan dapat membantu meningkatkan mood.

Praktikkan kebiasaan tidur yang baik

Tubuh membutuhkan waktu untuk istirahat dan mengatur ulang, itulah sebabnya kebiasaan tidur yang sehat sangat penting untuk fisik dan mental. Pastikan mendapatkan cukup tidur setiap hari.

Meminta bantuan

Selama masa-masa stres, penting untuk mencari bantuan. Jika meminta bantuan terasa sulit, pertimbangkan untuk bercerita dengan teman dekat dan anggota keluarga sehingga dapat menjaga satu sama lain selama masa-masa sulit.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel