Mengenal Cervest, Platform AI yang Melacak Risiko Iklim Perusahaan

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta Dalam sebuah pembangunan properti, semisal hotel, apartemen, dan gedung lainnya, tentu menghadirkan berbagi risiko kepada lingkungan.

Termasuk risiko mengenai iklim, seperti naiknya permukaan air laut atau risiko terjadi banjir dari jaringan perusahaan yang dimiliki.

Adalah EarthScan dari Cervest yang akan menunjukkan risiko fisik seperti banjir atau kekeringan yang pernah terjadi secara historis, kemudian memprediksi apa yang akan terjadi selama 80 tahun ke depan.

Kemudian, fitur itu akan dapat menunjukkan seberapa cepat tindakan iklim akan memengaruhi dampak tersebut.

Dikutip dari Fast Company, Selasa (25/5/2021), platform baru itu kini sedang dalam pengujian dengan 20 perusahaan, menggunakan kecerdasan buatan atau Aritificial Intelligence (AI) untuk terus melacak risiko tersebut.

“Jika Anda ingin mengetahui harga suatu saham, Anda bisa mendapatkannya dalam hitungan detik, mengapa Anda tidak bisa mendapatkannya untuk informasi terkait risiko iklim?,” kata CEO Cervest, Iggy Bassi.

Diketahui, perusahaan yang berbasis di London ini baru saja mengumumkan putaran Seri A senilai USD 30 juta atau setara Rp 431 miliar yang dipimpin oleh Draper Esprit.

Dalam platform tersebut, perusahaan dapat memetakan aset mereka, mulai dari gedung perkantoran dan gudang hingga pusat data, serta bagian penting dari rantai pasokan mereka, seperti pabrik.

“Bisa dibilang, apa yang akan terjadi di dunia yang selaras dengan Paris pada aset saya dari sudut pandang risiko fisik? Apa yang akan terjadi dalam skenario bisnis seperti biasa, atau semacam jalan tengah?,” paparnya mengibaratkan.

Prediksi Risiko

Tampilan fitur EarthScan di situs Cervest. (dok: Cervest)
Tampilan fitur EarthScan di situs Cervest. (dok: Cervest)

Cara kerjanya, pemodelan perusahaan menarik data tentang bagaimana alam berubah. Misalnya, jika perusahaan dekat dengan hutan, akan ada informasi mengenai laju deforestasi berubah secara radikal, yang memungkinkan terjadinya banjir.

“Deforestasi juga dapat mengubah pola curah hujan lokal secara signifikan sehingga pabrik tidak lagi memiliki sumber air yang dapat diandalkan dan mungkin perlu direlokasi,” kata Iggy Bassi.

Platform tersebut membantu perusahaan mengidentifikasi risiko tertinggi sehingga mereka dapat secara strategis memilih di mana akan melakukan intervensi dan menargetkan tindakan. Sementara beberapa platform lain melakukan pemodelan serupa, Cervest mengatakan ingin membuat data lebih mudah diakses.

“Kami pada dasarnya percaya harus ada intelijen massal untuk semua orang secepat mungkin. Dan kami ingin orang-orang memulai percakapan dengan melihat aset satu sama lain,” katanya.

Rangkul 20 Perusahaan

Dalam tahap pengujian saat ini, startup itu bekerja sama dengan 20 perusahaan untuk beberapa bulan ke depan. Saat ini uji coba baru melingkupi wilayah Amerika Serikat, Inggris, dan Eropa, namun tidak menutup kemungkinan segera dilakukan uji coba secara global.

“Nanti di tahun ini, itu akan terbuka untuk semua orang. Siapa pun akan dapat menggunakannya untuk menganalisis risiko di beberapa lokasi secara gratis,” tuturnya.

Iggy Bassi menilai, teknologi serupa yang dikembangkan Cervest adalah sesuatu yang diperlukan oleh regulator seperti Security and Exchange Commission (SEC) AS. Mereka sedang mempelajari sistem untuk mengungkapkan keadaan iklim dari perusahaan di bursa saham.

“Akan ada ribuan dan ribuan perusahaan di seluruh dunia yang perlu memahami jejak tingkat aset mereka dengan sangat, sangat cepat,” tutupnya.