Mengenal dan Memahami Hidup New Normal yang sedang Dibentuk Singapura di Tengah Pandemi COVID-19

·Bacaan 3 menit

Fimela.com, Jakarta Singapura, sama seperti negara-negara lainnya terus berupaya untuk mengendalikan varian Delta yang mengkhawatirkan. Tingkat penularannya yang tinggi akan menyulitkan untuk menurunkan angka infeksi ke nol.

Sebagai gantinya, Singapura mengadopsi strategi pagar cincin yang agresif, yaitu memasang jaring lebar untuk mengisolasi kontak orang yang terinfeksi dan menguji puluhan ribu orang setiap harinya, seperti dilansir dari straitstimes.com. Tujuannya adalah meminimalisir risiko pembentukan kluster yang besar.

COVID-19 mungkin tidak akan pernah hilang, yang bisa diusahakan adalah hidup normal bersamanya. Kuncinya adalah vaksinasi.

Vaksin sangat efektif dalam mengurangi risiko infeksi dan juga penularan. Bahkan, jika kamu terinfeksi, vaksin akan membantu mencegah gejala COVID-19 yang parah.

Yang terjadi di Israel menunjukkan bahwa tingkat infeksi di antara orang-orang yang sudah divaksin adalah 30 kali lebih sedikit, daripada mereka yang tidak divaksin. Tingkat rawat inap untuk yang sudah divaksin juga lebih rendah, 10 kali lipat.

Di Singapura sendiri, individu yang telah divaksin lengkap dan tetap terinfeksi COVID-19, termasuk beberapa yang berusia di atas 65 tahun, semuanya tidak memiliki gejala atau gejala ringan. Untuk mempertahankan tingkat perlindungan yang tinggi dan bertahan melawan strain mutan baru yang resisten terhadap vaksin saat ini, suntikan booster mungkin dibutuhkan di masa mendatang.

Upaya Singapura menanggulangi pandemi COVID-19

Tidak asal, ada alasan mendasar dan sangat penting mengapa Singapura berani mengambil langkah besar untuk hidup new normal di tengah pandemi COVID-19. Simak di sini.
Tidak asal, ada alasan mendasar dan sangat penting mengapa Singapura berani mengambil langkah besar untuk hidup new normal di tengah pandemi COVID-19. Simak di sini.

Pengujian dan pengawasan juga tetap dilakukan, tapi fokusnya berbeda. Di dalam Singapura, pengujian tidak lagi dijadikan alat utama memagari dan mengkarantina orang yang terpapar orang lain yang terinfeksi.

Sebaliknya, ini menjadi cara memastikan bahwa acara, kegiatan sosial, dan perjalanan luar negeri dapat berlangsung dengan aman, serta mengurangi risiko penularan, terutama bagi mereka yang rentan terhadap infeksi. Singapura juga merasa tidak lagi bisa hanya mengandalkan tes PCR saja yang memutuhkan waktu lama untuk mengetahui hasilnya, mereka telah menggunakan banyak tes COVID-19 lain yang lebih cepat dan mudah.

Ada juga pengujian air limbah, yang berguna untuk mengetahui apakah ada infeksi tersembunyi di asrama, hostel, atau perumahan. Selain itu, Singapura telah memiliki serangkaian perawatan yang efektif untuk COVID-19, salah satu alasan mengapa angka kematian akibat COVID-19 di negara ini termasuk yang paling rendah di dunia.

Singapura memiliki banyak agen terapi yang efektif dalam mengobati sakit kritis, mempercepat pemulihan, dan mengurangi perkembangan penyakit, keparahan, dan kematian. Kementerian Kesehatan di sana juga melacak perkembangannya dengan cermat, memastikan ada persediaan obat-obatan yang memadai, serta peneliti medis mereka secara aktif berpartisipasi dalam pengembangan perawatan baru.

Hal terpenting adalah tanggung jawab setiap warga negara. Jika semua orang mempraktikkan kebersihan pribadi yang baik, peduli satu sama lain, menjauhi keramaian saat merasa tidak enak badan, dan memikul beban ini bersama, maka masyarakat juga akan jauh lebih aman.

Mari melihat hidup new normal yang sedang dibentuk oleh Singapura

Tidak asal, ada alasan mendasar dan sangat penting mengapa Singapura berani mengambil langkah besar untuk hidup new normal di tengah pandemi COVID-19. Simak di sini.
Tidak asal, ada alasan mendasar dan sangat penting mengapa Singapura berani mengambil langkah besar untuk hidup new normal di tengah pandemi COVID-19. Simak di sini.

Dengan vaksinasi, pengujian, pengobatan, dan tanggung jawab sosial, mungkin dalam waktu dekat, saat seseorang terinfeksi COVID-19, respon kita bisa sangat berbeda dari sekarang.

1. Orang yang terinfeksi bisa sembuh di rumah, karena vaksinasi, maka gejalanya cenderung akan ringan. Risiko penularan juga rendah untuk orang lain yang berada di sekitar orang yang terinfeksi dan telah divaksin. Dengan begitu, sistem perawatan kesehatan juga tidak akan kewalahan.

2. Tidak perlu lagi melakukan pelacakan kontak besar-besaran dan mengkarantina orang setiap kali terjadi infeksi. Orang-orang bisa menguji diri sendiri secara teratur menggunakan berbagai tes yang cepat dan mudah. Jika hasilnya positif, mereka bisa mengonfirmasi dengan tes PCR dan mengisolasi diri.

3. Daripada memantau jumlah infeksi COVID-19 setiap hari, masyarakat akan fokus pada hasil berapa banyak yang jatuh sakit, berapa banyak yang berada di unit perawatan intensif, dan berapa banyak yang membutuhkan intubasi oksigen, seperti bagaimana kita memantau influenza sekarang.

4. Secara progresif bisa melonggarkan aturan manajemen yang aman dan melanjutkan pertemuan besar. Para pelaku usaha akan mendapatkan kepastian opersional mereka tidak terganggu.

5. Semua orang bisa melakukan perjalanan lagi, setidaknya ke negara-negara yang juga telah berhasil mengendalikan virus ini dan mengubahnya menjadi norma endemik. Masyarakat bisa saling mengenali sertifikat vaksinasi masing-masing.

Sejarah telah menunjukkan bahwa pandemi akan berlalu dengan sendirinya, sekarang yang bisa dilakukan adalah memanfaatkan semua energi, sumber daya, dan kreativitas untuk secepat mungkin menuju ke keadaan yang diinginkan. Kita semua harus melakukan bagian kita.

#Elevate Women

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel