Mengenal Dukungan Sosial Penuh untuk Atasi Gangguan Psikologis Anak Stunting

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta Orang dengan gangguan psikologis, khususnya anak dengan stunting membutuhkan bantuan dari pihak lain terutama orangtua. Dalam ilmu psikologi Dukungan Sosial Penuh (DSP) dapat menjadi salah satu cara untuk mengatasi masalah psikologis orang-orang terdekat termasuk anak.

DSP adalah tindakan yang dilakukan orang lain khususnya orangtua pada anak untuk memberikan kenyamanan, kepedulian, ataupun bantuan sehingga penerimanya merasa diterima. Prinsip dalam DSP yakni tepat sasaran, tepat takaran, dan tepat waktu.

“Yang kita bantu tidak boleh tergantung pada kita terus jadi harus tepat sasaran, tepat takaran, dan tepat waktu,” ujar Psikolog di Rumah Sakit Mitra Keluarga Waru, Surabaya, Naftalia Kusumawardhani, S.Psi, M.si dalam webinar Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) ditulis pada Selasa (10/11/2020).

Dukungan sosial dapat diberikan dalam berbagai bentuk, lanjut Naftalia. Setidaknya ada empat bentuk dukungan sosial yakni dukungan informasi, emosional, instrumental, dan pertemanan.

“Beberapa orang itu tampaknya hanya butuh bantuan informasi terkait apa yang harus dilakukan. Kemudian, dukungan emosional, butuh didengarkan, duduk bersama sediakan dua telinga, dengarkan saja tanpa menyela dan tanpa menghakimi itu sudah cukup.”

Dukungan Instrumental dan Pertemanan

Berbeda dengan dukungan informasi dan emosional, dukungan instrumental membutuhkan tindakan langsung. Misal, butuh uang untuk berobat.

“Misalkan orang itu butuh uang untuk bayar sekolah, kalau mampu ya bantu.”

Terakhir adalah dukungan pertemanan. Dukungan ini cenderung mengedepankan ketulusan dan kepedulian.

“Benar-benar berteman tidak ada syarat dan sebagainya, kepedulian dan ketulusan itu syarat utama.”

Dukungan Psikologi Awal

Selain DSP ada pula Dukungan Psikologi Awal (DPA). Menurut Naftalia, DPA adalah serangkaian tindakan yang dilakukan untuk mengurangi dampak negatif distres dan meminimalkan munculnya gangguan psikologis di kemudian hari.

DPA sendiri memiliki tiga prinsip yaitu hak, martabat, dan keamanan. DPA dapat dilakukan orangtua atau kerabat sebagai pertolongan pertama untuk masalah psikologis yang dialami anak atau orang yang membutuhkan.

Dalam melakukan DPA, ada 4 tahap yang perlu diingat. Tahapan-tahapan tersebut yakni persiapan, melihat, mendengarkan, dan menghubungkan.

“Di tahap persiapan kita sendiri harus punya informasi tentang anak-anak yang lagi stres, kesulitan belajar, atau mengalami bullying itu kita perlu tahu bagaimana cara menanganinya.”

Selain membekali diri dengan informasi, persiapan juga mencakup tenaga dan waktu. Mengingat, DPA bukanlah pekerjaan sambilan, kata Naftalia.

“Sekali bapak ibu menangani satu kasus, jangan lepaskan sampai ketuntasan tertentu jadi ini bukan pekerjaan iseng.”

Tahapan kedua adalah melihat kebutuhan apa yang harus dipenuhi untuk anak dan melihat keadaan fisik, mental, dan lingkungan anak.

“Lihat kebutuhan anak saat itu apa, butuh perlindungan atau butuh makanan kah? Penuhi saat itu juga, utamakan yang paling penting. Kalau anak dibully dan luka ya jangan dinasihati, jangan diajak berdoa tapi bawa ke fasilitas kesehatan setempat atau obati kalau mampu.”

Tahap ketiga adalah mendengarkan. Dalam tahap mendengarkan, pemberi DPA perlu betul-betul mendengarkan setiap keluhan anak tanpa memberi nasihat terlebih dahulu.

“Dengarkan dulu apa yang mau dia bicarakan.”

Tahap keempat adalah menghubungkan. Pemberi DPA harus mengetahui Batasan yang dimiliki, jika mampu maka bisa dibantu dan jika tidak maka bisa dihubungkan dengan pihak yang tepat.

“Ketahui akses penghubungnya ke mana, ke fasilitas kesehatan kah, tenaga ahli, atau lembaga lain yang sesuai tergantung kondisi anak,” pungkasnya.

Infografis Deretan Efek Negatif Marah bagi Kesehatan Tubuh

Infografis Deretan Efek Negatif Marah bagi Kesehatan Tubuh. (Liputan6.com/Lois Wilhelmina)
Infografis Deretan Efek Negatif Marah bagi Kesehatan Tubuh. (Liputan6.com/Lois Wilhelmina)

Simak Video Berikut Ini: