Mengenal Flightradar24, Situs Pelacak Pesawat Militer & Komersil yang Sedang Terbang

Merdeka.com - Merdeka.com - Rata-rata dalam sehari, ada lebih dari 200.000 penerbangan yang lepas landas dan mendarat di seluruh dunia. Itu termasuk pesawat komersil, kargo, dan sewaan yang jumlahnya sekitar setengah dari total seluruh penerbangan, juga ada pesawat bisnis, pesawat pribadi, helikopter, ambulans udara, pesawat pemerintah dan militer, drone, balon udara, dan pesawat peluncur (glider).

Sebagian besar pesawat tersebut dilengkapi sebuah transponder, alat untuk mengkomunikasikan posisi pesawat dan data penerbangan lainnya kepada ATC (pengendali lalu lintas udara), dan sinyal tersebut bisa ditangkap dengan mesin penerima (receiver) berbasis teknologi yang disebut ADS-B (Automatic Dependent Surveillance-Broadcast). Itulah yang dilakukan situs web Flightradar24, yang melacak setiap penerbangan,menyediakan pengguna dengan snapshot real-time dari segala sesuatu yang ada di langit (minus beberapa pengecualian).

Flightradar24, bagian dari kelompok layanan pelacakan penerbangan ternama selain Flight Aware dan Plane Finder, dibentuk di Swedia pada 2006. Direktur Komunikasi Flightradar24, Ian Petchenik mengatakan terbentuknya situs ini "benar-benar tanpa sengaja", sebagai cara untuk mengarahkan lalu lintas udara menjadi layanan perbandingan harga penerbangan.

Situs ini mulai terkenal di dunia pada 2010, ketika erupsi gunung api Islandia yang menyebabkan ribuan penerbangan dibatalkan dan situs itu menarik 4 juta pengunjung.

"Bbagaimana menampilkan lalu lintas udara ke publik secara real time dapat memengaruhi cara orang berpikir tentang berita dunia," kata Petchenik, dikutip dari CNN, Senin (29/8).

Salah satu penerbangan yang paling banyak ditelusuri di situs Flightradar24 adalah ketika pemimpin oposisi Rusia, Alexei Navalny kembali ke negarnya setelah menjalani perawat di Jerman dan ditangkap polisi sesaat setelah mendarat. Penerbangan pada Januari 2021 itu dilacak 550.000 orang.

Di luar peristiwa besar, jumlah orang yang melacak penerbangan melalui situs web ini meningkat.

"Kami mendapati banyak orang menggunakan situs ini untuk melacak orang terkasih mereka, melacak penerbangan mereka sendiri, atau melihat penerbangan berikutnya yang akan mereka tumpangi hari itu, untuk memastikan pesawatnya datang," jelas Petchenik.

"Selain itu ada juga orang-orang yang sangat tertarik dengan dunia penerbangan, atau memang suka mengikuti jenis pesawat tertentu," jelasnya.

"Kemudian ada juga orang-orang yang secara profesional berinvestasi dalam industri penerbangan, karena mereka memiliki pesawat terbang dan mereka menyewakannya, atau karena mereka memiliki armada pesawat dan mereka ingin mengawasinya. Akhirnya, ada orang yang secara profesional berinvestasi dalam memiliki banyak data penerbangan. Ini adalah maskapai penerbangan, bandara, produsen pesawat yang menggunakan kumpulan data besar untuk mendapatkan wawasan industri."

Menambang data

rev1
rev1.jpg

Untuk mengumpulkan data, Flightradar24 membangun jaringan receiver ADS-B sendiri, yang disebut terbesar di dunia dengan sekitar 34.000 unit, meliputi daerah-daerah terpencil seperti Antartika.

Sekitar seperempat receiver dibuat sendiri oleh Flightradar24, tetapi sebagian besar dirakit penggemar yang menyediakan data secara sukarela. Karena membangun receiver relatif murah -- biaya komponennya sekitar USD 100 atau Rp 1,4 juta-- banyak yang mendaftar sejak Flightradar24 mulai membuka jaringannya untuk umum pada 2009.

Memiliki jumlah data yang terperinci dan terlokalisasi dapat berguna untuk mendapatkan wawasan awal tentang keadaan darurat dan kecelakaan.

"Kami menyimpan semua yang masuk ke server kami dan jika perlu kami dapat kembali ke penerima tertentu dan mengambil data mentah. Itu biasanya dilakukan hanya jika ada kecelakaan atau jika kami memiliki permintaan dari penyedia layanan navigasi udara atau badan investigasi kecelakaan," jelas Petchenik.

Kadang-kadang, data dapat mengungkapkan penyebab kecelakaan sebelum penyelidikan resmi dilakukan. Dalam kasus Germanwings nomor penerbangan 9525, yang sengaja diterbangkan ke gunung oleh co-pilot pada 24 Maret 2015, data menunjukkan gambaran yang sangat jelas.

Namun, tidak semua data tersedia untuk setiap pesawat, karena itu tergantung pada jenis transponder dan receiver yang terlibat.
Pemilik atau operator pesawat juga dapat memutuskan untuk mencegah data mereka dipublikasikan, umumnya ini untuk pesawat militer, pemerintah, atau pribadi. Misalnya, mereka dapat mendaftar ke program seperti LADD (Limiting Aircraft Data Displayed) yang dikelola Badan Penerbangan Federal.

"Kami mematuhi daftar itu," kata Petchenik.

"Ini memungkinkan operator untuk menampilkan data mereka secara berbeda, secara anonim atau, dalam beberapa kasus, tidak ditampilkan sama sekali. Dari jumlah total pesawat yang kami lacak setiap hari, sekitar 3 persen memiliki beberapa jenis regulasi tampilan data." [pan]