Mengenal Formasi 4-4-2 dalam Sepak Bola: Kelebihan dan Kekurangannya

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Formasi merupakan aspek dasar dalam permainan sepak bola yang berperan memandu suatu tim dalam melakukan serangan dan pertahanan. Formasi merepresentasikan taktik tiap manajer dalam menghadapi dan menekuk perlawanan tim seberang.

Adapun, salah satu formasi dalam permainan sepak bola adalah 4-4-2. Formasi ini termasuk umum digunakan dalam permainan sepak bola dunia. Pasalnya, formasi 4-4-2 mudah diadaptasi dan memberi kekuatan pada lini tengah.

Formasi 4-4-2 dikenal sebagai formasi klasik Inggris yang ditandai dengan penggunaan empat bek (dua bek tengah serta masing-masing satu bek sisi kanan dan kiri), empat gelandang (dua gelandang tengah dan dua sayap di sisi kiri kanan), serta dua striker.

Sifatnya yang sederhana merupakan daya tarik utama dari formasi 4-4-2. Formasi ini juga memungkinkan penyerang utama untuk maju tanpa harus menunggu sokongan dari gelandang.

Oleh karena itu, striker yang bermain dalam formasi 4-4-2 haruslah striker yang mudah beradaptasi sehingga mampu menghadapi berbagai situasi, meski hanya memperoleh dukungan terbatas dari lini tengah.

Kelebihan Formasi 4-4-2

Gelandang Liverpool, Philippe Coutinho, berusaha melewati gelandang Burnley, Joey Barton. Pada laga ini Liverpool turun memakai skema 4-3-3 sementara Burnley menggunakan formasi 4-4-2. (AFP/Paul Ellis)
Gelandang Liverpool, Philippe Coutinho, berusaha melewati gelandang Burnley, Joey Barton. Pada laga ini Liverpool turun memakai skema 4-3-3 sementara Burnley menggunakan formasi 4-4-2. (AFP/Paul Ellis)

Formasi 4-4-2 memungkinkan klub memiliki distribusi pemain yang seimbang di lapangan. Jika tiap-tiap pemain mampu melakukan tugasnya dengan baik, sangat mungkin bagi tim untuk menunjukkan pertahanan yang kompak.

Di sisi lain, dua striker dalam formasi ini umumnya terdiri atas satu striker yang jago berduel di udara, dan satu lainnya yang memiliki kecepatan serta kemampuan dribble mumpuni. Kombinasi kedua striker tersebut berpotensi meningkatkan tekanan pada pertahanan lawan.

Berkat kemudahan aplikasi dan strukturnya yang jelas, banyak skuad sepak bola yang mengadopsi formasi 4-4-2, atau menggunakan pengaturan yang mirip dengan formasi tersebut.

Kekurangan Formasi 4-4-2

Striker Portugal, Cristiano Ronaldo, melepaskan tandukan kepala ke gawang Selandia Baru. Pada pertandingan tersebut Portugal memakai skema 4-4-2 sementara Selandia Baru dengan formasi 5-3-2. (EPA/Georgi Licovski)
Striker Portugal, Cristiano Ronaldo, melepaskan tandukan kepala ke gawang Selandia Baru. Pada pertandingan tersebut Portugal memakai skema 4-4-2 sementara Selandia Baru dengan formasi 5-3-2. (EPA/Georgi Licovski)

Meski demikian, formasi 4-4-2 terkesan kaku dan mudah diprediksi. Formasi ini telah digunakan dalam dunia sepak bola untuk jangka waktu yang panjang. Tak heran jika terdapat sejumlah taktik lain yang dikembangkan guna mengantisipasi tim dengan formasi 4-4-2.

Di samping itu, jarak yang jauh antara gelandang bertahan dan striker umumnya sangat dirasakan, terutama ketika pemain di formasi 4-4-2 melakukan transisi setelah menang dalam hal penguasaan bola.

Penerapan Formasi 4-4-2

Penerapan formasi 4-4-2 dapat dilihat dari Timnas Indonesia di bawah asuhan manajer Shin Tae-yong. Skuad Garuda umumnya menggunakan formasi ini pada pertandingan berskala internasional.

Dalam pengaplikasiannya, tim dengan formasi 4-4-2 biasanya sangat mengandalkan serangan dari pemain sayap kiri dan kanan. Pemain-pemain tersebut berugas untuk memberi bola pada striker.

Penulis: Melinda Indrasari

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel