Mengenal Gejala Badai Sitokin Pada Penderita Covid-19

·Bacaan 2 menit

VIVA – Badai sitokin kembali menjadi perhatian masyarakat luas setelah Deddy Corbuzier melalui channel Youtubenya mengaku mengalaminya. Apa itu badai sitikon? bagaimana gejala dan cara pencegahannya?

Sindrom badai sitokin merupakan salah satu komplikasi yang bisa dialami oleh penderita COVID-19, sehingga perlu diwaspadai dan harus segera ditangani secara intensif. Karena bila dibiarkan dapat menyebabkan kegagalan fungsi organ hingga kematian.

Sitokin merupakan salah satu protein yang berperan dalam sistem kekebalan tubuh. Dalam kondisi normal, sitokin membantu sistem imun berkoordinasi dengan baik dalam melawan bakteri atau virus penyebab infeksi.

Namun, jika diproduksi secara berlebihan, sitokin justru dapat menyebabkan kerusakan di dalam tubuh. Inilah yang disebut sebagai badai sitokin.

Pada penderita COVID-19, badai sitokin menyerang jaringan paru-paru dan pembuluh darah. Alveoli atau kantung udara kecil di paru-paru akan dipenuhi oleh cairan, sehingga tidak memungkinkan terjadinya pertukaran oksigen. Itulah penyebab penderita COVID-19 kerap mengalami sesak napas.

Gejala Badai Sitokin

Badai sitokin dapat menyebabkan banyak gejala yang berbeda, tetapi penderita COVID-19 sebagian besar yang mengalami akan demam dan sesak napas hingga membutuhkan alat bantu napas atau ventilator. Kondisi tersebut biasanya terjadi sekitar 6–7 hari setelah gejala COVID-19 muncul.

Selain demam dan sesak napas, badai sitokin juga menyebabkan berbagai gejala, seperti:

1. Kedinginan atau menggigil

2. Kelelahan

3. Pembengkakan di tungkai

4. Mual dan muntah

5. Nyeri otot dan persendian

6. Sakit kepala

7. Ruam kulit

8. Batuk

9. Napas cepat

10. Kejang

11. Sulit mengendalikan gerakan

12. Kebingungan dan halusinasi

13. Tekanan darah sangat rendah

14. Penggumpalan darah

Cara Penanganan Badai Sitokin

Penderita COVID-19 yang mengalami badai sitokin memerlukan perawatan di unit perawatan intensif (ICU). Beberapa langkah penanganan yang akan dilakukan dokter, meliputi:

1. Pemantauan tanda-tanda vital, yang meliputi tekanan darah, denyut nadi, pernapasan, dan suhu tubuh, secara intensif

2. Pemasangan mesin ventilator

3. Pemberian cairan melalui infus

4. Pemantauan kadar elektrolit

5. Cuci darah (hemodialisis)

6. Pemberian obat anakinra atau tocilizumab (actemra) untuk menghambat aktivitas sitokin

Meski demikian, masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui penanganan yang tepat untuk penderita COVID-19 yang mengalami badai sitokin.

Bila mengalami gejala COVID-19 segera lakukan isolasi mandiri dan hubungi hotline COVID-19 di 119 Ext. 9 untuk mendapatkan pengarahan lebih lanjut. Semoga pandemi ini segera berakhir dan kehidupan kembali normal kembali. (penulis : Alumni Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya)

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel