Mengenal GeNose Alat Pendeteksi Corona Buatan UGM

Rochimawati, Isra Berlian
·Bacaan 2 menit

VIVA – Baru-baru ini pihak PT Kereta Api Indonesia (KAI) mewajibkan calon penumpang kereta di Jawa membawa hasil tes negatif COVID-19 melalui metode pemeriksaan dengan alat bernama GeNose. GeNose merupakan salah satu alat skrining COVID-19 rancangan Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta.

Alat skrining rancangan Universitas Gadjah Mada (UGM) ini pun telah resmi memiliki izin edar dan pemasaran. Saat ini, GeNose akan dipakai oleh sejumlah instansi pemerintahan sebagai alat skrining COVID-19.

Lantas apa itu GeNose dan bagaimana cara kerja serta kelebihan dari alat skrining ini?

Mengenal GeNose

GeNose merupakan sebuah alat pendeteksi virus corona yang dibuat para ahli dari UGM. Alat ini dapat mendeteksi keberadaan virus corona melalui hembusan nafas dalam waktu yang relatif singkat.

Nantinya, hembusan nafas seseorang akan diambil melalui sensor dan diolah datanya menggunakan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) untuk mendeteksi lalu mendiagnosa.

Genose juga akan mendeteksi Volatile Organic Compound atau VOC yang terbentuk akibat infeksi COVID-19 yang dikeluarkan bersamaan saat hembusan napas. Alat ini menggunakan sistem komputasi awan (cloud computing) untuk menghasilkan diagnosis pasien secara real-time.

Selain itu GeNose juga bekerja secara paralel dalam proses analisis terpusat dalam sistem jadi validitas data bisa terjaga untuk semua alat yang terhubung. Data-data yang dikumpulkan itu nantinya juga bisa dimanfaatkan, misalnya dalam pemetaan, pelacakan dan pemantauan penyebaran pandemi COVID-19 secara aktual.

Akurasi di atas 90 persen

Soal akurasi, GeNose cukup signifikan. Alat ini sudah melakukan uji profiling dengan 600 sampel data valid yang berasal dari Rumah Sakit Bhayangkara dan Rumah Sakit Lapangan Khusus COVID-19 Bambanglipuro – keduanya di Yogyakarta. Hasilnya akurat 97 persen.

Keuntungan dari alat GeNose

Salah satu keuntungan dari alat ini adalah sangat mudah dibawa. Lantaran, GeNose berbentuk seperti kubus. Alat ini dikatakan sangat handy dan mudah untuk dibawa ke mana-mana. Selain itu bisa dioperasikan seseorang dengan mandiri dan efisien. Selain mudah dibawa, harga untuk pengujian dengan alat ini juga terbilang murah.

Direktur Direktorat Pengembangan Usaha dan Inkubasi UGM, Hargo Utomo, beberapa waktu lalu menjelaskan bahwa pihaknya telah menetapkan jika Harga Eceran Tertinggi (HET) GeNose sebesar Rp62 juta per unit. Harga ini disebut oleh Hargo sebagai HET sebelum dikenai pajak.

Harga GeNose ini diketahui dapat digunakan untuk 100 ribu kali pengujian dinilai lebih murah dari rapid test maupun swab PCR. Sehingga harga tes per orang akan dikenakan biaya sekitar Rp15 ribu hingga Rp20 ribu.

Hargo menegaskan distribusi GeNose sudah dikelola oleh PT Swayasa Prakarsa. Saat ini telah ada 3 distributor resmi GeNose C19 dan menyusul 3 distributor lainnya.