Mengenal Hantavirus, Gejala dan Penyebarannya saat Pandemi Covid-19

Fimela.com, Jakarta Hantavirus kini tengah menjadi perbincangan diseluruh dunia, kemunculannya menjadi kekhawatiran baru tatkala Covid-19 masih belum bisa dikendalikan. Virus ini mulai ramai dibicarakan saat Harian China Global Times menyebutkan bahwa ditemukan satu korban dari Provinsi Yunnan yang positif terinfeksi virus dan meninggal didalam bus selama perjalanan menuju Provinsi Shandong.

Setelah kemunculan berita tersebut, Hantavirus sempat menjadi Trending di Twitter dan banyak orang membahasnya di media sosial. Bahkan berita palsu mengenai terinfeksinya 32 orang penumpang yang ikut didalam bus bermunculan. Menurut beberapa sumber menyebutkan bahwa 32 penumpang sudah menjalani tes tetapi hasilnya tidak diungkapkan kepada publik.

Hal ini membuat seluruh orang didunia merasa panik, ditengah pandemi Covid-19 yang terus memakan korban jiwa setiap harinya. Banyak yang mengira bahwa virus ini lebih berbahaya dibandingkan Covid-19. Oleh karena itu, Fimela.com kali ini akan membahas Hantavirus secara spesifik agar tidak ada lagi kesalahpahaman informasi mengenai virus yang viral ini.

Hantavirus Ternyata Bukan Virus Baru

Ilustrasi Peneliti Hantavirus Credit: pexels.com/pixabay

Berkaca dari virus sebelumnya, Covid-19, membuat orang-orang berspekulasi bahwa Hantavirus merupakan virus baru. Akan tetapi, ternyata Hantavirus bukan merupakan virus baru, melainkan jenis virus yang sudah didiagnosis sejak tahun 1993.

Menurut informasi yang dilansir dari laman resmi Centers for Disease Control and Prevention (CDC), sebelum Hantavirus didiagnosis, pertama kali kasus muncul pada tahun 1993. Pada waktu itu muncul wabah penyakit paru-paru yang tidak dapat dijelaskan, wabah tersebut muncul di Amerika Serikat tepatnya disekitar wilayah Arizona, New Mexico, Colorado, dan Utah yang juga dikenal sebagai “The Four Corners”.

Wabah itu muncul saat seorang lelaki muda yang sehat secara fisik mengalami sesak napas dan dilarikan ke rumah sakit di New Mexico lalu meninggal dengan sangat cepat. Setelah kasus ini, investigasi pun dilakukan diseluruh wilayah Four Corners. Beberapa minggu kemudian, kasus-kasus baru pun ditemukan. Hal inilah yang mengarahkan para peneliti mulai melakukan beberapa percobaan penelitian untuk menemukan virus penyebab wabah.

Pada awal kemunculannya, Hantavirus dikenal dengan nama virus Muerto canyon-kemudian diubah menjadi virus Sin Nombre (SNV) kemudian berubah lagi menjadi nama yang dikenal sampai saat ini yakni Hantavirus atau virus yang menyebabkan Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS). Proses penemuan virus ini juga melewati pemeriksaan beberapa sample dari jaringan paru-paru orang yang sudah meninggal.

Hasil mengejutkan didapatkan oleh para peneliti bahwa ternyata virus ini sudah ada sejak 1959. Berdasarkan pemeriksaan sample-sample tersebut diketahui bahwa seorang pria Utah berusia 38 tahun sudah terinfeksi virus sejak 1959.

Hantavirus Disebabkan oleh Hewan Pengerat

Ilustrasi Hewan Pengerat Credit: pexels.com/pixabay

Hantavirus merupakan jenis virus yang disebarkan oleh hewan pengerat terutama tikus dan dapat menyebabkan berbagai sindrom penyakit pada manusia. Hantavirus menyebabkan seseorang mengidap Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS). Virus ini banyak ditemukan di Eropa dan Asia, mereka dapat menyebabkan demam berdarah dan sindrom ginjal.

HPS merupakan penyakit pernapasan akut dan fatal. Manusia yang bersentuhan dengan tikus yang membawa Hantavirus akan berisiko tinggi terkena HPS. Hewan pengerat misalnya tikus menumpahkan Hantavirus melalui urin, kotoran, dan air liur. Virus ini dapat ditularkan kepada manusia melalui udara yang terhirup dan sebelumnya sudah terkontaminasi virus.

Selain udara, urin hewan pengerat, kotoran, atau bahan yang tercampur cairan Hantavirus juga dapat menyebabkan seseorang terkena HPS. Ketika tikus yang memiliki Hantavirus didalamnya menggigit manusia juga bisa menjadi medium penularan walau prosentase tertular sangat kecil.

Gejala yang Disebabkan oleh Hantavirus

Ilustrasi Gejala Hantavirus Credit: pexels.com/AndreaPiacquadio

Walaupun kini semua orang tengah mengkhawatirkan wabah Hantavirus, perlu diketahui bahwa jumlah kasus HPS sebenarnya sangat sedikit. Jumlah kasus yang sedikit tersebut membuat ‘waktu inkubasi’ tidak diketahui secara pasti. Namun, berdasarkan informasi, gejala HPS dapat terlihat dari minggu pertama hingga minggu kedelapan sejak seseorang terpapar urin, air liur, atau kotoran dari tikus yang terinfeksi.

Gejala awal yang dapat terlihat yakni, mengalami kelelahan, demam, serta nyeri otot. Gejala juga dapat menyerang sistem pencernaan yang menyebabkan mual, muntah, diare hingga sakit perut.

Sementara untuk gejala HPS akut, penderitanya dapat mengalami gangguan pernapasan berat seperti batuk dan sesak napas. Hal tersebut menciptakan sensasi sesak yang luar biasa karena paru-paru telah dipenuhi cairan.

Hantavirus Tidak Menular Melalui Manusia

Ilustrasi Pencegahan Penularan Kepada Manusia Credit: pexels.com/GustavoSpring

Seperti yang dibahas sebelumnya, Hantavirus menjadi heboh ketika masyarakat memiliki asumsi bahwa virus ini serupa dengan Covid-19 yang dapat menular dari manusia ke manusia lain. Nampaknya asumsi tersebut diragukan. Dilansir dari Liputan6.com yang menuliskan bahwa ahli virus dari Wuhan University, Yang Zhanggiu mengatakan bahwa cara penularan Hantavirus tidak seperti Covid-19.

"Berbeda dengan COVID-19, hantavirus dalam banyak kasus tidak menular melalui sistem pernapasan. Namun kotoran manusia dan darah pasien yang terinfeksi bisa mentransmisikan virus ke manusia," kata Yang seperti dilansir dari Liputan6.com pada Kamis (26/3). Menurutnya, virus ini juga tidak berbahaya seperti Covid-19 karena masih bisa dicegah dan dikendalikan.