Mengenal Happy Hypoxia, Gejala COVID-19 yang Ditemukan di Kalbar serta Cara Pencegahannya

·Bacaan 2 menit

Fimela.com, Jakarta Meningkatnya kasus harian dan angka kematian akibat COVID-19 begitu mengkhawatirkan. Baru-baru ini ditemukan kasus kematian COVID-19 di Bengkayang, Kalimantan Barat yang disebabkan oleh happy hypoxia. Kondisi seperti apakah itu?

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat, I Made Putra Negara, menjelaskan happy hypoxia adalah penurunan kadar oksigen dalam darah. Kondisi ini membuat seseorang mengalami masalah pernapasan berupa sesak napas atau dispnea.

"Kasusnya, orangnya bisa jalan-jalan, bisa ketawa-ketawa, tiba-tiba sesak napas dan meninggal. Itu yang dikenal dengan happy hypoxia. sudah ada kasusnya di Bengkayang. Kami juga berduka ada salah satu kepala puskesmas di Bengkayang meninggal, yang juga sesaknya mendadak," katanya, dikutip dari Merdeka.com.

I Made Putra Negara menyebutkan angka kematian akibat COVID-19 merangkak naik di Bengkayang. Dan salah satu kasus kematian disebabkan oleh happy hypoxia.

Mengapa happy hypoxia bisa terjadi?

Gejala baru COVID-19 ditemukan di Kalimantan Barat, pasien meninggal akibat alami happy hypoxia. Kondisi seperti apakah itu?(FOTO: Unsplash.com/Syed Ali).
Gejala baru COVID-19 ditemukan di Kalimantan Barat, pasien meninggal akibat alami happy hypoxia. Kondisi seperti apakah itu?(FOTO: Unsplash.com/Syed Ali).

Dokter spesialis paru Divisi Infeksi Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI), Erlina Burhan, menjelaskan bahwa happy hypoxia terjadi karena ada kerusakan pada saraf yang mengantarkan sensor ke otak.

Normalnya, tubuh yang kekurangan oksigen akan mengirimkan sinyal ke otak untuk mengambil banyak oksigen. “Namun pada beberapa pasien COVID-19, kondisi ini (sesak) tidak terjadi karena sudah ada kerusakan pengriman sinyal ke otak,” kata dr. Erlina dalam siaran Youtube BNPB, pada Rabu (16/9/2020).

dr. Erlina mengungkapkan tidak diketahui kapan pertama kali muncul kasus Happy Hypoxia. Tetapi, pelaporan pertama kecurigaan ke arah Hypoxia terjadi pada bulan April–Mei 2020.

“Ada kasus seseorang 60 tahun laki-laki dan bergejala seperti COVID-19. Batuknya semakin parah, badannya semakin lemas, tetapi anehnya pasien ini tidak sesak dan masih bisa beraktivitas normal. Ketika diperiksa oleh dokter ternyata saturasi oksigennya 60% ini rendah sekali. Sedangkan kalau orang normal saturasi oksigennya 95-100%,” ujar dr.Erlina.

Cara mencegah happy hypoxia

Gejala baru COVID-19 ditemukan di Kalimantan Barat, pasien meninggal akibat alami happy hypoxia. Kondisi seperti apakah itu?(FOTO: Unsplash.com/Clay Banks).
Gejala baru COVID-19 ditemukan di Kalimantan Barat, pasien meninggal akibat alami happy hypoxia. Kondisi seperti apakah itu?(FOTO: Unsplash.com/Clay Banks).

dr. Erlina mengungkapkan, hal pertama yang dapat dilakukan dalam mencegah terjadinya Happy Hypoxia adalah mengetahui gejalanya. “Cara lainnya adalah sering-sering ukur saturasi oksigen dengan pulse oksimetri, jangan tunggu sesak,” tuturnya.

Cara mendasar lainnya adalah mencegah agar tidak terkena virus COVID-19 dengan memperketat protokol kesehatan seperti memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak.

Menjaga sistem imun tetap sehat juga perlu dilakukan dengan memakan makanan bergizi, istirahat cukup, tidak merokok, konsumsi suplemen, istirahat ringan rutin, dan hindari stress.

#Elevate Women

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel