Mengenal Heldy Djafar, Pelabuhan Cinta Terakhir Sukarno

·Bacaan 6 menit

Liputan6.com, Jakarta - Heldy Djafar, istri ke-9 Presiden pertama Republik Indonesia Sukarno meninggal dunia pada Senin 11 Oktober 2021.

Kabar wafatnya Heldy Djafar pertama kali disampaikan oleh mantan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Roy Suryo melalui akun Twitter resminya @KRMTRoySuryo2.

"Innalillahi wa innaillaihi rojiun ...Telah wafat Istri ke-9 Bung Karno hari ini, Heldy Djafar (Lahir 11 Juni 1947) dalam Usia 74th. Mungkin tdk banyak yg tahu bahwa Proklamator / Presiden RI pertama kita tsb memiliki 9 Istri yg syah. Belum lagi yg "terlupakan" Sejarah. JAS MERAH," tulis Roy dalam akunya tersebut.

Heldy meninggal dunia setelah berjuang melawan kanker stadium empat yang diidapnya dan gagal ginjal. Sebelumnya, Heldy menjalani perawatan di RSCM Jakarta Pusat.

Diketahui dari catatan Liputan6.com, Heldy Djafar merupakan istri terakhir Sukarno. Keduanya menikah pada 1966 silam.

Kala itu, Sukarno yang berusia 66 tahun, menikahi Heldy di usia 18 tahun. Usia pernikahan mereka cukup muda, kurang lebih hanya 2 tahun.

Berikut mengenal Heldy Djafar, istri ke-9 Presiden pertama Republik Indonesia Sukarno dihimpun Liputan6.com:

1. Profil Singkat

Presiden Indonesia Achmed Sukarno disambut oleh istri Dewi Sukarno yang tiba sehari sebelumnya di Bandara Orly, Paris, 01 Juli 1965. Sukarno adalah presiden pertama Indonesia yang diberi kemerdekaan pada tahun 1945. (AFP PHOTO)
Presiden Indonesia Achmed Sukarno disambut oleh istri Dewi Sukarno yang tiba sehari sebelumnya di Bandara Orly, Paris, 01 Juli 1965. Sukarno adalah presiden pertama Indonesia yang diberi kemerdekaan pada tahun 1945. (AFP PHOTO)

Dikutip Liputan6.com dari berbagai sumber, Heldy Djafar lahir pada 11 Juni 1947 di Tenggarong, Kutai Kartanegara, Provinsi Borneo (Kalimantan Timur).

Heldy Djafar lahir dari pasangan H Djafar dan Hj Hamiah. Ia merupakan anak bungsu dari sembilan bersaudara.

Sebagai putri dari pasangan yang sudah berhaji, Heldy lekat dengan kehidupan agama. Ia bahkah telah mengkhatamkan atau menamatkan membaca Alquran sejak kecil.

Erham, kakak kandung Heldy yang paling tua menyebut, orangtua mereka cukup terpandang di daerahnya.

Rumah orangtua Heldy adalah rumah panggung. Bangunannya memanjang ke samping mencapai 30 meter dan memanjang ke belakang 40 meter.

Rumah orangtua Heldy terbuat dari kayu pilihan dengan plafon rumah setinggi empat meter dan memiliki jendela yang berukuran panjang ke bawah dengan kisi-kisi kayu, lalu berlapis kaca pada bagian luarnya.

Jumlah jendelanya pun cukup banyak. Di atas pintu masuk depan rumah tertulis tahun dibangunnya rumah tersebut yaitu 1938.

2. Sempat Ingin Bertemu Presiden hingga Akhirnya Hijrah ke Jakarta

Dalam buku Samudera Merah Putih 19 September 1945, Jilid 1 (1984) karya Lasmidjah Hardi, alasan Presiden Sukarno memilih tanggal 17 Agustus sebagai waktu proklamasi kemerdekaan adalah karena Bung Karno mempercayai mistik. (Dok.Arsip Nasional RI)
Dalam buku Samudera Merah Putih 19 September 1945, Jilid 1 (1984) karya Lasmidjah Hardi, alasan Presiden Sukarno memilih tanggal 17 Agustus sebagai waktu proklamasi kemerdekaan adalah karena Bung Karno mempercayai mistik. (Dok.Arsip Nasional RI)

Pada saat penumpang mobil menyebarkan selebaran berisi pengumuman bahwa akan ada pidato Presiden Sukarno di Samarinda, kakak kandung Heldy, Yus, ikut memungut lembaran kertas itu sambil berdiri di balik pagar rumahnya, Jalan Mangkurawang.

Heldy pun merengek ingin bertemu Presiden, namun ditolak.

Waktu terus berjalan. Heldy beranjak menjadi remaja yang menarik perhatian rekan-rekannya. Ketika itu ia masih duduk di bangku SMP yang letaknya di Gunung Pedidi, Jalan Rondong, Demang Tenggarong, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.

Saat ia duduk di bangku SMP kelas tiga, Heldy pindah sekolah ke sebuah SMP di Samarinda. Kepindahan Heldy dilakukan karena adanya nasionalisasi perusahaan-perusahaan Belanda.

Akibatnya, H Djafar, ayah Heldy untuk sementara waktu beristirahat dari pekerjaannya di Oost Borneo Maatschapppij.

Setelah tamat dari SMP, Heldy hijrah ke Jakarta menyusul kakaknya untuk mencari ilmu. Cita-cita Heldy kecil ingin menjadi seorang desainer interior.

Kendati jarak antara Samarinda-Jakarta lumayan jauh, namun Heldy tak pernah surut untuk melangkahkan kakinya meraih asa.

Dari Samarinda, ia menumpang kapal menuju Balikpapan. Selanjutnya ia naik kapal laut Naira dari Pelabuhan Semayang, Balikpapan, menuju ke Surabaya ditemani kakaknya, Milot (jamilah) dan Idzhar iparnya.

Selanjutnya dari Surabaya mereka menumpang kereta api menuju Jakarta dan berhenti di Stasiun Gambir. Saat kakinya kali pertama menyentuh Jakarta, Heldy merasa bangga.

Apalagi pada 1963, jalan Ibu Kota sudah beraspal, jembatan Semanggi yang lebar dan membentuk lengkungan menarik, rumah dan gedung terbuat dari beton dan rimbunnya dedaunan pohon-pohon besar di tepi jalan.

Di kota metropolitan, Heldy tinggal di rumah kakaknya, Erham yang ada di Jalan Ciawi III nomor 4, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Erham sendiri bekerja di sebuah perusahaan bank dan sudah memiliki tiga orang anak. Sementara Yus, kakak Heldy, saat itu masih kuliah di Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Ia memilih tinggal di asrama Kalimantan, Jalan Cimahi 16, Menteng, Jakarta Pusat.

Heldy kemudian menimba ilmu di Sekolah Guru Kepandaian Putri (SGKP) di Pasar Baru, Jakarta Pusat. Dia belajar ilmu memasak dan mengurus rumah tangga.

3. Bertemu dengan Sang Pujaan Hati

Patung proklamator Indonesia Sukarno atau Bung Karno di Polder Stasiun Tawang, Semarang, Jawa Tengah. (Foto: Dokumentasi PDIP).
Patung proklamator Indonesia Sukarno atau Bung Karno di Polder Stasiun Tawang, Semarang, Jawa Tengah. (Foto: Dokumentasi PDIP).

Memiliki paras cantik membuat Heldy Djafar cepat populer. Fotonya yang memakai busana khas Tenggarong lengkap dengan sanggul cepol di atas dan tusuk kembang goyang pernah menghiasi sampul majalah Pantjawarna.

Pada 1964, kakak Heldy, Yus dipercaya oleh protokol kepresidenan untuk menyiapkan barisan Bhinneka Tunggal Ika ke Istana Negara dalam rangka penyambutan tim Piala Thomas.

Heldy terpilih sebagai bagian dari barisan tersebut sebagai wakil dari Kalimantan. Begitu juga sepupu dan keponakannya.

Saat itu, Presiden Sukarno menaiki anak tangga Istana melalui barisan Bhineka Tunggal Ika yang sudah rapi berbaris dan berdiri di setiap anak tangga.

Bung Karno menaiki anak tangga satu persatu sambil melihat ke kanan dan ke kiri. Tepat saat mendekati barisan di belakang Heldy, ia menyapa dengan caranya yang khas.

Selanjutnya, pertemuan antara Heldy dengan Bung Karno terjadi ketika kepala sekolahnya mengajak murid-muridnya, termasuk Heldy ke Istana Bogor untuk masuk ke dalam barisan Bhineka Tunggal Ika. Mereka berangkat menumpang bus khusus.

Sesampainya di Istana Bogor, para pagar ayu diminta berbaris dan menempati posisinya masing-masing untuk siap-siap menerima tamu.

Saat itu, Heldy memilih berdiri di pojok karena takut dilihat Sukarno. Ketika Presiden Sukarno memasuki ruangan untuk melihat barisan Bhineka Tunggal Ika, matanya mendadak menatap Heldy. Melalui ajudannya, Heldy lalu dipanggil Soekarno.

Setelah itu, pertemuan antara Sukarno dengan Heldy terjadi kembali, saat anggota barisan Bhineka Tunggal Ika diwajibkan menyanyi di depan presiden, satu persatu.

Dari sekian anggota, Heldy mendapat urutan nomor satu untuk menyanyi. Ia pun tarik olah vokal, menyanyikan lagu asal Kalimantan. Usai menyanyikan lagu berjudul 'Bajiku Batang' (padi), Bung Karno meminta Heldy untuk menyanyikannya sekali lagi.

Pertemuan selanjutnya terjadi saat Yus, kakak Heldy meminta ke Istana untuk menjadi pagar ayu kembali.

Saat Bung Karno masuk ruangan, kedua matanya menyapu semua sudut ruangan. Lalu, Bung Karno memperhatikan Heldy yang ketika itu mengenakan kebaya warna hijau. Lalu dipanggilah Heldy.

Heldy pun diminta untuk menampilkan tari lenso. Ia takut melakukan kesalahan saat lenso dengan presiden. Untungnya, selama di Jakarta, ia pernah diajari menari lenso oleh kakaknya.

Malam itu, tamu negara yang hadir diantaranya ada Titiek Puspa, Rita Zahara dan Feti Fatimah. Heldy lalu duduk di kursi yang letaknya persis di belakang presiden.

Selama ini siapa pun yang dipilih Bung Karno untuk menari lenso, selalu duduk di dekatnya. Saat berlenso dimulai. Bung Karno mulai mengajak Heldy.

4. Menikah dengan Sukarno Meski Tak Lama

Sukarno dan Hatta adalah 2 nama yang tak bisa dipisahkan dari kemerdekaan negeri ini.
Sukarno dan Hatta adalah 2 nama yang tak bisa dipisahkan dari kemerdekaan negeri ini.

Tak butuh waktu lama, pada 1966 Sukarno dan Heldy menikah. Kala itu, Sukarno berusia 66 tahun sedangkan Heldy 18 tahun.

Saksi pernikahan mereka adalah Ketua DPA Idham Chalid dan Menteri Agama Saifuddin Zuhri.

Pernikahan Heldy dan Sukarno hanya bertahan selama dua tahun. Kala itu situasi politik sudah semakin tidak menentu.

Komunikasi tak berjalan lancar usai Sukarno menjadi tahanan di Wisma Yaso, Jalan Gatot Subroto.

Heldy saat itu sempat mengucap ingin berpisah, tetapi Sukarno bertahan. Karena Sukarno hanya ingin dipisahkan oleh maut.

Akhirnya, pada 19 Juni 1968, Heldy Djafar yang berusia 21 tahun menikah lagi dengan Gusti Suriansyah Noor, keturunan dari Kerajaan Banjar.

Kala itu Heldy yang sedang hamil tua mendapat kabar Sukarno wafat. Sukarno tutup usia pada 21 Juni 1970 dalam usia 69 tahun.

Oleh karena itu, Heldy Djafar disebut sebagai cinta terakhir Sukarno karena sempat menemani sang proklamator sebelum akhirnya berpulang.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel