Mengenal Heli Chinook, Yang Digunakan BNPB Bawa Bantuan Gempa Sulbar

Agus Rahmat, Eduward Ambarita
·Bacaan 2 menit

VIVA – Untuk menembus daerah terisolir dampak gempa magnitudo 6,2 SR di Sulawesi Barat, mau tidak mau bantuan harus dikirimkan melalui jalur udara, helikopter.

Maka Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menggunakan helikoter Chinook, agar bantuan tersebut bisa sampai ke daerah terisolir. Bantuan ini dikirim ke Desa Kalobang dan Lemo-Lemo di Sulawesi Barat (Sulbar).

Pilot yang mengoperasikan helikopter asal Amerika Serikat itu Instruktur Penerbang Ariel Arief Machmud. Ada 8 ton bantuan yang harus dibawa. Tidak dimasukkan ke heli, tapi diikat menggunakan tali beberapa meter ke bawah heli. Teknik ini lebih dikenal dengan precision long line atau sling load.

Yaitu teknik menggantungkan barang bantuan dengan tali yang tepat di bawah badan helikopter. Helikopter ini mampu mengangkut muatan hingga berat 4.000 ton.

Baca juga: Keren, Cara Heli BNPB Bawa 8 Ton Bantuan ke Desa Terisolir di Sulbar

Untuk membawanya tentu bukan perkara mudah. Karena ia terbang tidak seperti pada umumnya. Selain faktor berat muatan, pilot juga harus memperhitungkan kecepatan angin dan cuaca sepanjang rute tujuan. Cuaca di wilayah Sulawesi Barat sangat cepat berubah sehingga pilot membutuhkan presisi data terkait kondisi tersebut.

"Karena pilot yang sewajarnya terbang melihat ke depan, sedangkan dengan teknik ini mau tidak mau harus lihat ke bawah. Sebuah persepsi teknik terbang yang di luar kelaziman pada umumnya pilot pesawat maupun heli manapun,” ujar Ariel lewat pesan singkatnya, Sabtu 30 Januari 2021.

Teknik sling load digunakan helikopter untuk operasi pada area yang dapat dikategorikan berisiko tinggi. Satu hal yang berbeda juga, jelas Ariel, memasukkan barang bantuan ke dalam heli.

Teknik precision long line terlebih dulu memasukkan barang bantuan ke alas jaring berbobot 200 kilogram. Dan kemudian jaring ditutup dengan jaring lainnya saling terikat.

Helikopter bermesin ganda ini berhasil mendaratkan bantuan dengan berat total 8 ton di dua desa terdampak gempa kemarin, Jumat 29 Januari 2021.

Kedua desa tersebut merupakan desa terisolir yang berada di Kecamatan Ulumanda, Kabupaten Mamuju. Pada pengiriman kedua, helikopter Chinook tak perlu mendarat.

Tali pengait diterima oleh personel darat untuk memasangkan antar pengait tali dengan pengait muatan. Dengan cepat barang bantuan terangkat dan sekejap meninggalkan lokasi Bandar Udara Tampa Padang.

“Ini perjuangan yang harus kami lalui menembus medan Kendari menuju Mamuju lalu kembali ke Makassar,” ujar Ariel.

Sekadar diketahui, Helikopter Chinook bertipe CH47D dan berkode Reg. N303AJ telah berperan dalam misi penanggulangan bencana di Tanah Air. Chinook merupakan helikopter berbadan besar dengan bobot kosong mencapai 10.185 kg. Nama helikopter yang diambil dari nama suku Indian ‘Chinook’ dikembangkan Amerika Serikat sejak 1957.

Berdasarkan catatan yang dihimpun VIVA, heli jenis Chinook ini oleh militer AS telah dioperasikan pada Perang Vietnam (1955-1975) dan dikenal sebagai ‘pisang terbang’ atau flying banana karena bentuknya seperti pisang.

Selain untuk alat angkut, burung besi itu juga bisa diperuntukkan keperluan tempur. Sementara BNPB menggunakannya belakangan untuk keperluan penanganan kebakaran hutan dan lahan serta pengiriman distribusi logistik COVID-19.