Mengenal Ikrar Halal bi Halal dari Ulama Betawi, Abuya KH Abdurrahman Nawi

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta Masyarakat Betawi baru mengenal istilah halal bihalal setelah diprakarsai oleh salah satu pendiri Nahdlatul Ulama (NU), KH Abdul Wahab Chasbullah kepada Presiden Soekarno pada tahun 1948.

Seiring waktu berjalan, rutinitas halal bi halal semakin populer di masyarakat Betawi. Karenanya, salah satu ulama Betawi, Abuya KH Abdurrahman Nawi, membuat ikrar halal bi halal dan kaifiat atau tata caranya.

Acara yang menjadi ikrar halal bi halal dan kaifiatnya yang disusun oleh Kiai Abdurrahman Nawi lazimnya dilakukan sesaat usai sholat Idul Fitri oleh khatibnya atau saat halal bi halal.

Ikrar halal bi halal untuk dimaksudkan untuk memaafkan dan menghalalkan kesalahan sesama.

Ia menyandarkan dalilnya pada Al-Qur`an Surat Ali Imran ayat 134 yang artinya, "(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan."

Ikrar ini juga bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada orang lain yang pernah berbuat kesalahan untuk meminta maaf.

Ikrar halal bi halal ini juga merupakan sebuah pengakuan bahwa sebagai manusia tak luput dari kesalahan baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja. Karenanya perlu ada pernyataan yang jelas agar kesalahan-kesalahan tersebut dimaafkan oleh orang lain.

Menurut cucunya, Ustasz Darul Qutni, ikrar yang pertama kali dirilis saat 1998 ketika mengantar Abuya Kiai Abdurrahman Nawi sholat Idul Fitri di Masjid Yaqin KH Salim Nai. Saat itu ia yang masih berstatus sebagai pelajar Tsanawiyah.

Isi dari ikrar halal bi halal tersebut mengatakan, pertama jamaah dianjurkan untuk mendengarkan lebih dulu dari ucapan pemimpin ikrar.

"Pada hari ini, saya halalkan dan maafkan segala kesalahan hadirin yang ada di sini, baik disengaja maupun tidak, lahir maupun batin, besar maupun kecil, ikhlas dan ridha karena Allah ta’ala, dan ketiga atau terakhir, jamaah diajak membaca Surat Al-Fatihah.

Mengenal Sosok Abuya KH Abdurrahman Nawi

Lantas, siapa sosok Abuya KH Abdurrahman Nawi?

Abuya KH Abdurrahman Nawi adalah ulama Betawi kelahiran Tebet, Melayu Besar, Jakarta Selatan. Lahir pada tahun 1932 M, KH Abdurrahman Nawi lahir dari pasangan H Nawi bin Su’ide dan Ainin binti Rudin.

Dia merupakan ulama besar dan terkemuka Betawi yang mendapatkan pelajaran keagamaan pesantren dari majelis taklim yang ada di Betawi. Dia tidak mengikuti pondok pesantren atau madrasah.

Sejumlah ulama dengan nama besar pernah menjadi gurunya. Di antaranya KH Muhammad Yunus, KH Basri Hamdani, KH M Ramli, dan Habib Abdurrahman Assegaf. Dan mengaji kepada KH Muh Zain (Kebon Kelapa, Tebet), KH M Arsyad bin Musthofa (Gang Pedati, Jatinegara), KH Mahmud (Pancoran), KH Musannif (Menteng Atas), KH Ahmad Djunaedi (Pedurenan), KH Abdullah Husein (Kebon Baru, Tebet), KH Abdullah Syafi’i (Matraman), Habib Husein Al-Haddad (Kampung Melayu), dan masih banyak lagi.

Ada hal yang unik dalam perjalanannya, walaupun tidak mengemban dalam sekolah, madrasah atau pondok pesantren, cara ia belajar bisa mendatangi tiga tempat dalam sehari dengan tiga mata pelajaran.

Sistem yang digunakan menggunakan kitab, dengan seorang guru yang membacakan ibarah dalam kitab dan menerangkan ke dalam Bahasa Indonesia. Kemudian menerangkan maksud dari ibarah tersebut dengan penjelasan yang mendalam.

Meski hanya lulusan majelis taklim, KH Abdurrahman Nawi bisa membangun pondok pesantren terkemuka bernama Pondok Pesantren Al-Awwabin yang berlokasi di daerah Depok, Jawa Barat.

Pada tahun 1962 M, dia membuka majelis taklim di rumahnya di Jalan Tebet Barat VIII, Jakarta Selatan yang diberi nama As-Salafi. Salah satu muridnya bahkan menjadi ulama terkemuka, sepeti almarhum Abuya KH Saifuddin Amsir.

Daffa Haiqal

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel