Mengenal Jenis Granat, di Antaranya yang Meledak di Monas

Liputan6.com, Jakarta - Dua anggota TNI menjadi korban ledakan granat asap di kawasan Monas, Jakarta Pusat. Ledakan tersebut terjadi pada Selasa, 3 Desember 2019.

Akibat ledakan granat asap, kedua anggota TNI mengalami luka dan harus menjalani perawatan di Rumah Sakit Gatot Subroto Jakarta Pusat.

Rupanya, granat memang menjadi salah satu senjata andalan militer saat perang.

Salah satunya, granat M67. Granat ini merupakan salah satu granat berbahaya pernah digunakan dalam beberapa perang, seperti Perang Vietnam, Perang Irak, dan Perang Teluk Persia.

Granat buatan Amerika Serikat tersebut digunakan oleh beberapa negara, contohnya Kanada, Argentina, Turki, Malaysia, dan Filipina.

Namun ternyata, ada beberapa jenis granat dengan fungsi yang berbeda. Berikut ulasannya:

Granat Asap

Tim gabungan Polri-TNI melakukan olah TKP ledakan granat asap di kawasan Monas, Selasa (3/12/2019). Dua anggota TNI terluka dalam peristiwa itu. (Radityo Priyasmoro/Liputan6.com)

Granat asap biasanya berbentuk tabung dan digunakan untuk persinyalan, memberitahu target, atau sebagai penanda zona pendaratan. Granat ini akan mengeluarkan jumlah asap yang lebih banyak daripada bom asap.

Dalam satu granat berisi 250 hingga 350 gram komposisi asap berwarna. Komposisi asap seperti kalium klorat, laktosa, dan pewarna. Untuk granat asap putih biasanya menggunakan hexachloroethane-zinc dan aluminium granular.

Granat asap ada juga yang bisa meledak. Karena granat asap tersebut berisi fosfor putih dan gas piroforik yang jika menyebar bisa meledak.

Biasanya, granat asap digunakan untuk membantu persinyalan pesawat hingga pengalih perhatian musuh. Granat asap sangat jarang digunakan untuk tujuan perang.

 

Granat Anti Kerusuhan

Granat tangan tersebut ditaruh pelaku di bahu jalan nasional Blangpidie-Tapak Tuan yang berjarak hanya 20 meter dari pagar rumah dinas Bupati Aceh Barat Daya, Akmal Ibrahim. (Liputan6.com/ Rino Abonita)

Granat anti kerusuhan bisa disebut granat gas air mata. Granat ini berisi gas 80 hingga 120 gram (2,8 hingga 4,2 oz) dan dikombinasikan dengan piroteknik (bahan pembuatan kembang api) yang bisa terbakar.

Jika terkena ledakan granat ini, akibatnya terasa iritasi ekstrem pada mata, hidung, dan tenggorokan. Namun apabila terkena kulit bisa melepuh. Dan apabila terkena paru-paru, akan bisa mengakibatkan luka permanen.

 

Granat Pembakaran

Granat nanas yang ditemukan penambang pasir di Purbalingga (Liputan6.com / Gunanto ES)

Granat pembakaran memiliki kandungan kimia yang bisa menghasilkan panas. Granat ini berisi 600 hingga 800 gram termat versi termit era Perang Dunia II. Perlu diketahui, termit inilah yang menyebabkan panas.

Reaksi panas ini bersumber dari logam aluminium bubuk dan besi oksida. Kemudian dua komposisi itu bereaksi untuk menghasilkan aliran besi dan aluminium oksida.

Reaksi tersebut menghasilkan panas dan bisa terbakar pada 2.200 derajat Celcius. Ini membuat granat pembakar berguna untuk menghancurkan senjata, artileri, dan kendaraan.

Selain itu, fosfor putih juga bisa digunakan untuk agen pembakar. Fosfor putih mampu membakar pada suhu 2.800 derajat celsius. Granat ini biasa digunakan selama Perang Dunia II

Termit dan fosfor putih menyebabkan beberapa luka bakar karena suhu yang tinggi. Selain itu, fosfor putih sangat beracun.

 

Granat Kejut

Granat nanas ditemukan di selokan Larangan, Tangerang (Pramita Tristiawati/Liputan6.com)

Granat kejut atau biasa disebut flashbang berfungsi untuk mengacaukan atau mengalihkan perhatian musuh. Salah satu jenis granat kejut seperti M84.

Granat tersebut mampu mengeluarkan cahaya membutakan (6-8 juta Candela) dan juga bisa mengeluarkan ledakan keras (170-180 Desibel).

Ledakan keras mampu memekakkan telinga korban dan juga mengeluarkan cairan di telinga, dan menyebabkan kehilangan keseimbangan.

Granat ini memiliki isi 4,5 gram peledak campuran oksida logam magnesium dan ammonium perklorat atau potasium perklorat.

 

Reporter: Fellyanda Suci Agiesta

Sumber: Merdeka

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: