Mengenal karakteristik 5G untuk percepat tranformasi digital Indonesia

·Bacaan 2 menit

Sekjen Pusat Kajian Kebijakan dan Regulasi Telekomunikasi ITB Ridwan Effendi membagikan beberapa karakteristik jaringan 5G yang kini mulai diperkenalkan dan digunakan di 11 daerah di Indonesia serta digadang-gadang bisa mempercepat transformasi digital Tanah Air.

Mulai dari penggunaan spektrum frekuensi yang luas hingga sifatnya yang low latency menjadi hal menarik agar jaringan ini bisa dimanfaatkan lebih maksimal.

“5G itu mencakup semua spektrum frekuensi. Mulai dari low band, middle band, dan high band. Ketiganya harus digunakan secara bersamaan agar bisa dimanfaatkan dengan maksimal,” kata Ridwan dalam webinar bertajuk “Ketersediaan Spektrum 5G Sebagai Upaya Memaksimalkan Layanan 5G”, Rabu.

Baca juga: Implementasi 5G bukan demi gengsi, tapi untuk kesejahteraan masyarakat

Di Indonesia ada untuk frekuensi pita rendah atau low band yang diharapkan bisa digunakan untuk menghadirkan jaringan 5G adalah pita 700 MHz.

Biasanya untuk low band itu digunakan untuk bisa memberikan layanan kepada masyarakat umum dan bisa diakses oleh semua khalayak.

Hingga kini pita 700 MHz masih dimanfaatkan untuk siaran TV analog yang diharapkan bisa bermigrasi ke digital dengan tenggat waktu November 2022 sesuai regulasi UU Cipta Kerja.

Sama halnya dengan fungsi low band, untuk menciptakan jaringan 5G yang bisa dijangkau semua pihak disiapkan juga middle band atau pita berfrekuensi menengah seperti 2,6 GHz dan 3,5 GHz.

Terakhir pada high band dalam pemanfaatannya pita berfrekuensi tinggi itu diharapkan bisa menyokong sistem Internet of Things (IoT) yang masif.

Baca juga: Kemkominfo umumkan aturan baru TKDN 5G, minimal 35 persen

Contohnya seperti menghadirkan autonomous transportation hingga sistem rumah tangga yang terintegrasi dengan ponsel pintar.

Untuk high band, di Indonesia tersedia pita 26-28 GHz yang pemanfaatannya untuk satelit- satelit.

Ridwan menyebutkan idealnya setiap operator seluler memiliki cakupan pita frekuensi yang terdiri dari tiga jenis pita tersebut, namun jika berkaca pada pelaksanaannya penyesuaian di lapangan masih dapat terjadi sesuai dengan aturan yang berlaku.

“Semua tergantung ekosistem yang berjalan baik dari perangkat hingga ketersediaan jaringan,” ujar Ridwan.

Saat ini di Indonesia 5G baru tersedia di 11 kota yaitu Medan, Batam, Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Solo, Surabaya, Denpasar, Banjarmasin, Balikpapan, dan Makassar.

Harapannya dengan penyesuaian penggunaan pita frekuensi oleh Kementerian Kominfo, layanan 5G bisa semakin dirasakan merata oleh masyarakat Indonesia lainnya dan tentunya percepatan transformasi digital bisa terlaksana dengan lebih baik.

Baca juga: Penggunaan 5G diprediksi berdampak besar pada sektor industri

Baca juga: Kolaborasi pemangku kepentingan penting untuk akselerasi 5G

Baca juga: Kominfo: 5G momen Indonesia tidak hanya jadi "smart user"

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel