Mengenal Kecerdasan Buatan, Solusi Kemenkes Permudah Akses Layanan Kesehatan

Merdeka.com - Merdeka.com - Kementerian Kesehatan menilai Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan bisa menjawab masalah kesehatan yang ada di Indonesia. Salah satunya memudahkan masyarakat mengakses layanan kesehatan.

"Dengan adanya AI deteksi dini (kondisi kesehatan) bisa dilakukan sehingga bisa mengurangi kecacatan atau tahap lanjut," kata Kepala Biro Komunikasi Kementerian Kesehatan RI dr Siti Nadia Tarmizi, Kamis (19/1).

Nadia menyebut, sudah ada sejumlah kecerdasan buatan di Indonesia. Di antaranya PeduliLindungi (PL) dan Biomedical & Genome Science Initiative (BGSi).

Menurut Nadia, kedua platform tersebut sangat membantu masyarakat mendapatkan pelayanan kesehatan. Terutama bagi masyarakat yang berada di daerah dengan keterbatasan fasilitas kesehatan.

"Dengan adanya platform PL, adanya BGSi, dan adanya Sarpras memungkinkan untuk pemanfaatan AI tentunya akan sangat memudahkan terutama di daerah daerah yang terbatas SDM dan peralatannya," jelasnya.

Selain memudahkan masyarakat, kecerdasan buatan juga memudahkan fasilitas kesehatan untuk melihat rekam medis pasien.

"Sangat membantu memudahkan melinkkan berbagai pemeriksaan dan layanan, paperless, memonitor dan sharing rekam medis atar faskes juga akan lebih mudah," ujarnya.

Bisa Atasi Masalah Keterbatasan Faskes

Presiden Komisaris PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO), John Riady menyatakan, kecerdasan buatan merupakan keniscayaan bagi industri kesehatan nasional.

"Saat ini banyak upaya pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan untuk memainkan peran lebih penting di industri kesehatan," kata dia.

John mengungkapkan para pemimpin dan pebisnis tingkat dunia menyoroti tentang pentingnya pegumpulan dan pengolahan data kesehatan masyarakat. Kini, basis data dan penggunaan teknologi digital semakin penting untuk mengatasi persoalan riil dunia kesehatan.

Menurutnya, dunia kesehatan di Indonesia harus menghadapi berbagai kekurangan, mulai dari jumlah dokter spesialis, jumlah ketersediaan ranjang, hingga pemerataan kualitas dan kuantitas layanan kesehatan.

Sebagai salah satu upaya, Siloam International Hospitals terus memperkuat jaringan dan jangkauan layanan kesehatan. Saat ini saja sudah memiliki jaringan 40 rumah sakit di 27 provinsi.

"Kami terus berupaya memperluasnya," kata John.

Dalam rangka mengatasi berbagai kesenjangan masyarakat mengakses layanan kesehatan, Siloam International Hospitals menjadi pionir layanan digital kesehatan atau telehelath yang langsung digawangi rumah sakit. Melalui MySiloam memungkinkan pasien untuk membuat janji dengan dokternya, baik itu konsultasi offline atau online melalui aplikasi.

Dengan memanfaatkan gawai, para pasien dan dokter juga dapat mengakses catatan rekam medis sehingga proses penanganan dapat berkesinambungan. MySiloam merupakan jembatan antara pasien dengan layanan rumah sakit, sekaligus memenuhi kebutuhan kesehatan jarak jauh yang terhubung dengan 1.000 dokter.

“Layanan preventif itu sangat penting bagi kami, tidak sekadar sehat melainkan harus wellness. Jadi penanganan tiap orang bisa berbeda, juga pencegahannya. Untuk menjalankan sistem kesehatan seperti itu, tentunya basis data sangat penting,” tukas John

Antisipasi Ledakan Masalah Kesehatan

Sementara itu, Wakil Presiden PT Siloam International Hospitals Tbk Caroline Riady menilai penggunaan teknologi informasi, khususnya AI memainkan peran bagi strategi dan langkah antisipasi ledakan masalah kesehatan masyarakat.

Dia mengungkapkan pandemi Covid-19 telah memberikan banyak pelajaran dan ujian bagi sistem kesehatan global maupun nasional. Pandemi telah mendera selama tiga tahun belakangan telah menunjukkan pentingnya basis data kesehatan, mulai dari pemetaan penyakit kronis, hingga upaya pelacakan, dan pencegahan penularan.

“Pengumpulan dan pengolahan data kesehatan masyarakat sangat penting bagi penguatan sistem kesehatan. Pada akhirnya teknologi AI pun berguna bagi peningkatan kualitas hidup masyarakat, hal ini selayaknya selaras dengan visi dunia kesehatan yang seharusnya menawarkan strategi proaktif,” kata Caroline.

Dia mencontohkan penggunaan AI bagi dunia kesehatan telah dimulai oleh Novartis Pharmaceutical dari Jerman. Menurut Caroline, program Novartis yang menggandeng Microsoft telah menerapkan teknologi AI dalam pencegahan dan pemetaan penyakit jantung di New York, Amerika Serikat.

Melalui data yang diolah AI, pemerintah dan rumah sakit bisa mendiagnosa secara cepat kerentanan penyakit jantung masyarakat. Lebih jauh, AI secara personal bisa memberikan berbagai saran dan pencegahan kepada para pasien yang kerapkali dipengaruhi berbagai faktor nonmedis.

Di sisi lain, Caroline menilai kemungkinan upaya membangun basis data kesehatan yang solid terbuka juga untuk Indonesia. “Semua pihak harus berkolaborasi untuk membangunnya, karena ini sangat penting bagi kebijakan yang proaktif,” kata Caroline. [tin]