Mengenal Kopi Endemik dan Bendera Belanda di Biting Manggarai Timur

·Bacaan 6 menit

VIVA – Kabut tipis membalut teduh tanah Colol Raya saban hari. Hijau daun kopi terbentang dari bukit tersambat sampai ke pekarangan rumah-rumah penduduk. Saking luasnya, kopi di Lembah Colol Raya tak lagi diartikan sebagai kebun tapi hutan kopi, membentang dari Wuas, Tangkul, Welu, Biting dan Colol dengan luas kebun kopi lebih dari 10000 hektar.

Tanah Colol raya merupakan pusaka eminen di Kabupaten Manggarai Timur Nusa Tenggara Timur. Berada di ketinggian 1300 mdpl, tanah ini dikaruniai kesuburan dan terkenal sebagai salah satu paradiso kopi di Indonesia.

Tanaman kopi yang luasnya sejauh mata memandang itu sekaligus menambal kisah kerusakan hutan pada Gunung Golo Lalong dan Gunung Poco Nembu di masa lalu.

Dulunya Biting dan Colol serta kampung-kampung tetangga merupakan wilayah Desa Ulu Wae namun desa ini kemudian dimekarkan menjadi tiga desa baru. Tangkul dan Wuas merupakan wilayah Desa Rende Nao. Biting sendiri tetap Desa Ulu Wae, Colol menjadi Desa Colol dan Welu Desa Wenang Mali.

Desa boleh berubah, namun dalam konteks tatanan kehidupan, warga 4 desa itu sangat harmonis dan tak terpisahkan. Mereka tak menyebut identitas pada KTP tapi sebagai anak tanah Colol raya. Masyarakat Colol raya terikat dalam satu garis budaya. Gendang atau rumah adat diposisikan sebagai pusat peradaban bahkan kopi yang kini berbuah lebat berakar dari budaya lonto leok, musyawarah mufakat.

Varietas kopi yang tumbuh di wilayah Colol raya yakni arabika, robusta, Yellow Caturra, S 795 dan teranyar jenis Linie S varian mutasi arabika dari Jerman serta dua jenis kopi endemik yakni kopi Manggarai dan juria.

Kopi bermula di Kampung Biting

Mungkin sudah akrab di telinga tentang kopi Colol namun tidak banyak yang tahu, ternyata sejarah kopi di Colol raya bermula di kampung Biting. Ada legenda kopi di kampung tersebut. Masyarakat Manggarai raya (Manggarai, Manggarai Timur dan Manggarai Barat) tahu minum kopi sejak program perkebunan mulai digalakkan tahun 1950-an.

Namun jauh sebelum itu, orang Biting sudah akrab dengan kopi karena mereka memiliki kopi endemik sebelum tahun 1930. Dikisahkan oleh tokoh kampung Biting, Benediktus Taluk (80), konon seseorang yang sedang mengembalakan ternak secara tak sengaja menemukan kambing peliharaannya tengah memakan kulit biji-bijian yang berserakan di bawah pohon Uwu.

Kampe demikian nama bapak itu, lantas mengumpulkan biji-bijian itu dan lekas memperlihatkan temuannya kepada pemangku adat. Tapi tak satupun dari tetua adat yang mengenal nama biji-bijian itu. Empat pemangku adat Biting kemudian mengecek pohon yang berbuah lebat itu.

Kampe kemudian disuruh untuk membawa biji-bijian yang kulitnya terasa manis itu kepada otoritas Kesultanan Bima di Reok. Dari pihak kesultanan barulah diketahui bahwa biji-bijian itu bernama kopi yang biasa diminum. Dalam bahasa Bima disebut kahawa.

Karena sudah pasti biji-biji itu adalah kopi dan merupakan minuman di lingkungan kesultanan membuat petinggi kampung Biting langsung menamai tanaman itu Kopi Manggarai.

“Itu kopi ditemukan persis di samping kayu Uwu dekat rumah adat oleh leluhur kami, bernama Kampe sekitar tahun 1930an,” cerita Benediktus kepada VIVA, Senin 24 Mei 2021.

Seiring berjalannya waktu, Kopi Manggarai yang berasal dari satu pohon tidak lama berkembang pesat di Biting hingga ke kampung-kampung terdekat. “Dari satu pohon itu menjadi banyak pohon kopi. Karena dulu kopi tak ada harganya, kopi Manggarai kami bawa ke Reok untuk ditukarkan dengan garam dan ikan kering,” kenangnya.

Jika ditarik ke belakang usia kopi Manggarai Biting telah berumur 91 tahun.

Hadiah Bendera Belanda

Pemerintah Belanda pada saat itu terkagum-kagum dengan aroma dan cita rasa Kopi Manggarai. Belanda lalu mengumpulkan petani kopi dan menggelar sayembara. Itu di tahun 1937. Yang panen terbanyak keluar sebagai juara.

Disampaikan Benediktus Taluk, pemerintahan Kolonial Belanda bersama para pemangku adat saat bersepakat Kopi Manggarai harus dikembangkan di semua wilayah Gelarang Colol.

Tahun 1937 pemerintah Belanda menggelar sayembara nasional kopi bertajuk ”Pertandingan Keboen”.

“Dari hasil penilaian Belanda bahwa kampung kami (Biting) yang terbaik maka kami mendapat hadiah bendera negara Belanda melalui lopo (bapak) Bernadus Odjong salah satu tokoh pengembang kopi Manggarai,” kisahnya.

Bendera Belanda itu sambungnya, disimpan dalam wadah bambu khusus di rumah Aloysius Lesin (48) di Kampung Biting. Aloysius adalah putra Bernadus Odjong yang meninggal tahun 1987. “Bendera Belanda merupakan saksi bisu, bahwa Biting yang pertama mengembangkan kopi. Pohon Uwu dan lahan yang ikut perlombaan masih ada. Artinya yang lain-lain dari belakang,” klaim Benediktus.

Dari sisa-sisa pohon yang diremajakan, kopi Manggarai yang masih ada nyaris sama dengan juria. Tinggi pohon mencapai lima meter dan berbuah merah. Hanya bedanya, batang kopi Manggarai rapuh sementara pohon kopi juria sangat kokoh.

Kopi Juria

Sementara kopi Juria, sambung Benediktus muncul jauh setelah Kopi Manggarai dikembangkan. Itu setelah seorang anggota DPRD Manggarai bernama Rudolof Kawur melakukan studi banding tentang kopi di Toraja sekitar tahun 1950-an.

Waktu pulang, Rudolof membawa serta biji kopi dari Toraja dan menanamnya di Colol dan Biting. Kopi yang belum bernama itu tumbuh subur dan berbuah lebat dan nikmatnya menyamai Kopi Manggarai. “Karena orang ramai-ramai menanam kopi dari Toraja itu maka Rudolof menamakan kopi itu Juria. Juria berarti ‘mari-mari bersukaria’,” jelasnya.

Perkembangan Juria kata Benediktus bahkan menelikung popularitas Kopi Manggarai. Dua kopi ini merupakan jenis endemik pembawa berkah bagi petani kopi di Biting dan sekitarnya.

Karolus Juru, petani kopi Desa Ulu Wae, mengatakan, semua kopi yang dihasilkan di tanah Colol raya, berkelas spesial makanya sangat diburu pebisnis kopi.

Selain karena berada di ketinggian, pengolahan biji kopi oleh petani sudah mengikuti ketentuan pengolahan pascapanen Pengolahan Kering (Dry Process/DP) dan Pengolahan Basah (Wet Process/WP).

“Mutu sangat berpengaruh terhadap nilai atau harga jual komoditi kopi. Untuk memenuhi permintaan konsumen, kami memperkerjakan sejumlah orang sebagai tenaga sortir. Harga jual kopi (green bean) dari wilayah Colol raya memang mahal tapi tinggi kualitas,” terang Karolus.

“Cita rasa juria menyamai beberapa varian rasa, seperti cokelat, kacang dengan rasa manis. Juria menjadi salah satu varietas favorit petani di sini,” katanya.

Satu kilogram kopi Juria grade I dibanderol Rp250 ribu rupiah sementara green bean untuk kelas specialties biasa dijual dengan harga Rp100 ribu- Rp150 ribu per kg.

Di Desa Ulu Wae saja, lanjut Karolus, areal tanaman kopi Juria mencapai 2000an hektar. Dari jumlah tersebut, kopi Juria menempati urutan ketiga dari luas areal setelah Arabika dan Robusta. Sementara Kopi Manggarai si kopi langka tertinggal hanya 60-100 hektar.

Menjuarai kontes

Pada tahun 2015 lalu, kopi jenis arabika dan robusta asal Colol dinobatkan sebagai kopi terbaik Indonesia. Karena berasal dari jenis arabika tipyca, kopi juria yang belum pernah bermutasi ini ikut dalam kontes tersebut.

Kopi ini berhasil menggeser peringkat kopi Jambi dalam kontes kopi spesialti Indonesia yang berlangsung di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur pada 10-14 November 2015 lalu. Dalam kontes yang diselenggarakan tahunan oleh Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia, serta Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Jember juria mendapat nilai 84,32 point.

Di level internasional, kopi Colol juga meraih penghargaan dalam ajang AVPA Gourmet Pruduct di Paris, 23 Oktober 2018. Dalam ajang ini, kopi dengan label Papaku Manggarai meraih kategori gold gourmet. Kopi dan kehidupan masyarakat Colol Raya adalah bak dua sisi mata uang. Setiap aktifitas dan perjumpaan berawal dari kopi. Kopi yang disajikan kepada tmu biasanya kopi pahit.

Laporan: Jo Kenaru/ Manggarai Timur-NTT

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel