Mengenal Metode Control Delivery dalam Penanganan Kasus Narkoba

Merdeka.com - Merdeka.com - Institute for Criminal Justice Reform (ICJR) menyoroti kasus penangkapan dua hakim dan seorang aparatur negeri sipil (ASN) Pengadilan Negeri (PN) Rangkasbitung terkait penyalahgunaan narkotika dengan metode controlled delivery.

Peneliti ICJR, Lovina mengatakan metode controlled delivery yakni teknik penyidikan penyerahan di bawah pengawasan terhadap pengiriman paket yang diduga merupakan narkotika difokuskan meringkus bandar besar.

"Ditujukan untuk peredaran gelap, bukan semata-mata pada pengguna narkotika untuk kepentingan pribadi," kata Peneliti ICJR, Lovina dalam keterangannya, Kamis (26/5).

Menurutnya, penggunaan teknik controlled delivery dipakai untuk melakukan pengawasan dan memastikan pembongkaran dan jaringan sampai dengan pada pucuk jaringan.

Dia juga menyarankan agar mekanisme controlled delivery dan undercover buy (pembelian terselubung) diatur lebih tegas dan rinci dalam UU Narkotika dan khususnya KUHAP.

"Penggunaan metode-metode ini berpotensi sangat besar disalahgunakan dan tidak pada tempatnya, sehingga perlu pengaturan yang lebih kuat," tuturnya.

Lovina meminta BNNP seharusnya fokus kepada tindakan pendekatan kesehatan melalui pemberian treatment kepada pengguna narkotika.

Pemberian sanksi pidana kepada pengguna narkotika tidak membawa dampak menurunnya angka perdagangan gelap narkotika, malah justru menimbulkan permasalahan baru.

Mengenal metode controlled delivery

Lovina menjelaskan bahwa teknik itu sebenarnya telah diatur dalam Undang- undang Narkotika yang termuat dalam Pasal 75. Teknik seperti ini sebenarnya telah diatur dengan tujuan membongkar jaringan narkotika.

Dalam perspektif internasional, perluasan teknik-teknik investigasi non-konvensional seperti penyerahan di bawah pengawasan (controlled delivery) ditujukan untuk membongkar jaringan atau sindikat peredaran gelap narkotika.

Namun dalam praktiknya, penggunaan teknik controlled delivery dengan penyerahan yang diawasi dilakukan secara kasus demi kasus, kerap menyasar tingkat para pengguna.

"Sayangnya teknik yang bertujuan untuk menjerat pengedar, produsen atau bandar besar narkotika dalam jaringan yang sulit dibongkar ini seringkali digunakan untuk menjerat pengguna atau pecandu narkotika," katanya.

"Penggunaan teknik ini untuk menjerat pengguna narkotika dapat berpotensi pada kesewenang-wenangan dan tidak sesuai dengan peruntukan pengaturannya," sambungnya.

Padahal, lanjut dia, dalam UU No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika sama sekali tidak mengatur bagaimana controlled delivery ini dilaksanakan dalam konteks hukum acara.

Undang-undang itu sebatas menyatakan pelaksanaan kedua kewenangan ini dilakukan oleh penyidik atas perintah tertulis dari pimpinan.

"Situasi ini menyebabkan pelaksanaan kewenangan itu tergantung pada inisiatif-inisiatif penegak hukum pada praktik, yang tentu saja berkonsekuensi pada ketiadaan standar yang dapat diacu," sebutnya.

Terutama, sambungnya, apabila terdapat pelanggaran hak seseorang dan membutuhkan pengujian terhadap tindakan-tindakan yang sudah dilakukan oleh penyidik.

"Dengan demikian, sulit sekali untuk menguji mana tindakan penyerahan yang diawasi secara sah dan tidak sah," tuturnya.

Tindakan penyerahan yang diawasi melalui penjebakan dilarang hukum acara pidana dan putusan pengadilan. Namun teknik investigasi ini tidak memiliki mekanisme pengujian terhadap pelaksanaannya.

Terutama terkait alasan dan bukti yang cukup untuk menggunakan teknik investigasi ini dan dalam titik ekstrem. Hini kemudian berdampak pada besarnya peluang penyalahgunaan kekuasaan.

Oleh sebab itu, Lovina mendesak agar teknik penyelidikan penyerahan di bawah pengawasan (controlled delivery), seharusnya fokus kepada jaringan ataupun sindikat narkotika yang lebih bersifat massif.

"Bukan dilakukan kepada pengguna narkotika untuk kepentingan pribadi sekalipun dia adalah pejabat negara," ujarnya.

Dua Hakim Diciduk

Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Banten mengamankan dua hakim dan seorang ASN yang bertugas di Pengadilan Negeri (PN) Rangkasbitung. Ketiganya diamankan saat akan mengkonsumsi narkoba jenis sabu jenis ice di PN Rangkasbitung. Ketiga orang yang diamankan yakni hakim YR, hakim D dan pegawai berinisial RAS.

Penangkapan berawal dari Informasi yang diterima petugas BNNP Banten bahwa akan ada pengiriman sabu pada 17 Mei 2022 dari Sumatera ke Banten melalui jasa pengiriman kurir.

Mendapatkan informasi tersebut petugas BNNP Banten melakukan kontrol pengiriman paket dan menelusuri tujuan akhir paket tersebut.

Setelah dilakukan penelusuran, paket sabu itu berhenti di sebuah jasa kurir di Rangkasbitung Barat, Lebak, Banten. Kemudian datang ASN Pengadilan Negeri Rangkasbitung berinisial RAS yang akan mengambil paket sabu tersebut.

"Pertama kita tangkap RAS dan kita interogasi yang bersangkutan. Dia membantah bahwa paket itu miliknya. Dia hanya diperintah oleh atasannya berinisial YR (hakim)," kata Kepala BNNP Banten Brigjen Pol Hendri Marpaung, Senin (23/5).

Petugas BNNP Banten kemudian mendatangi PN Rangkasbitung bersama Ketua PN Rangkasbitung, BNNP Banten memeriksa hakim YR.

"Pada saat tim menggeledah ruang kerja YR disaksikan atasannya ternyata YR menyimpan alat yang bisa digunakan sabu. Ada pipet, bong, korek," ungkapnya.

Kepada penyidik, hakim YR mengaku sering melakukan pesta sabu bersama hakim D, dan hasil tes urine dari keduanya juga positif sabu.

Kepada penyidik BNNP Banten, hakim YR mengaku sudah mengkonsumsi sabu lebih dari setahun. Sementara hakim D dan ASN RAS memulai menggunakan barang haram tersebut setelah diajak YR.

Kini ketiganya resmi menjadi tersangka penyalahgunaan narkoba dengan barang bukti yang diamankan sabu jenis ice seberat 20,6 gram. Hakim YR mengaku pernah menggunakan sabu di PN Rangkasbitung di tempatnya bertugas sebagai hakim.

Ketiganya dijerat undang-undang nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika dengan ancaman hukuman minimal 4 tahun kurungan dan maksimal 20 tahun kurungan penjara. [ray]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel