Mengenal Model Starter Mesin Motor MotoGP

Tri Cahyo Nugroho
·Bacaan 2 menit

Motor-motor MotoGP memang tidak dilengkapi starter, manual dengan genjotan kaki (kick) maupun elektrik. Salah satu alasannya agar bobot motor tidak bertambah berat.

Setiap motor balap pasti akan mengejar rasio tenaga dengan berat (power to weight) yang lebih tinggi. Power to weight yang bagus juga membantu saat pengereman mengingat bobot menjadi faktor momentum.

Jadi, alasan utama motor MotoGP tidak memiliki starter adalah karena komponen itu akan menambah berat motor. Starter juga membuat kerja teknisi lebih rumit meskipun takkan menjadi masalah serius.

Ditambah, aturan teknis MotoGP tidak pernah menyebut soal harus ada atau tidaknya starter di motor.

Publik pasti bertanya, mengapa motor MotoGP tidak bisa mengatasi tambahan beban yang tidak terlalu berat dengan memasang starter? Ternyata tidak sesederhana itu.

Mesin motor MotoGP saat ini maksimal empat silinder dengan kapasitas 800 cc sampai 1.000 cc. Untuk mesin 800 cc, berat minimal 150 kg sementara kapasitas 801 cc sampai 1.000 cc adalah 157 kg.

Inilah crankshaft starter milik Red Bull KTM Factory Racing di MotoGP 2020 lalu.

Inilah crankshaft starter milik Red Bull KTM Factory Racing di MotoGP 2020 lalu.<span class="copyright">Gold and Goose / Motorsport Images</span>
Inilah crankshaft starter milik Red Bull KTM Factory Racing di MotoGP 2020 lalu.Gold and Goose / Motorsport Images

Gold and Goose / Motorsport Images

Sekira mulai 2016 atau 2017, tim-tim MotoGP mulai menggunakan crankshaft starter untuk menghidupkan mesin motor MotoGP. Sistem kopling slipper clutch tidak selalu memiliki torsi balik agar bisa menggunakan rollers starter.

Karenanya memutar langsung crankshaft (poros engkol) – dengan sebuah mesin dengan besi yang bisa dimasukan langsung ke blok – menjadi cara untuk menghidupkan mesin.

Terakhir, mengapa banyak pembalap kerap menekan-nekan bodi motor ke bawah saat melakukan push start seusai insiden yang membuat mesin mati, misalnya.

Kekuatan tekanan ke bawah adalah faktor yang menentukan besarnya friksi dengan bidang datar. Pembalap harus menekan-nekan bagian belakang motor agar gesekan ban dengan aspal lebih besar.

Motor balap didesain memiliki bobot ringan. Jadi jika tidak ada beban tambahan di bagian belakang, kemungkinan mesin motor tidak akan menyala saat pembalap melepas kopling karena ban belakang kekurangan traksi.