Mengenal musik Bluegrass

Alviansyah Pasaribu
·Bacaan 4 menit

Tembang "Overhang" dengan tempo cepat Ary Juliyant & The Badjigur Bluegrass pada September 2019 silam di Taman Budaya Nusa Tenggara Barat. Memang menarik dan akan mengajak kaki para penonton untuk bergerak dengan sendirinya.

"Overhang" merupakan tembang petualangan yang menggambarkan bagaimana aksi para pemanjat merayap perlahan-lahan di batuan cadas, saat nyawa melayang terus mengintip bila salah pegangan jari jemari.

"Puncak tebing batu terjal, tengah menantikan hadir di sana, kupanjati batu terjal untuk membawaku hadir di sana. Overhang di depan menghadang, Overhang tersenyum merangsang. Bila Aku ragu berpegang, ku jatuh melayang..."

Dengan personel Arry Juliant (banjo), Yuga Anggana (gitar), Wawan (bass), serta Arief Prasojo (biola), sedikit mengingatkan akan musik "celtic" yang memiliki "beat" cepat. Ary Juliyant yang akrab dipanggil Kang Ary kadang bermain melalui tuts piano, meski biasanya dengan dawai banjo. Namun dalam sebuah pertunjukkan, itu tidak jadi masalah sebab bisa ditutupi dengan kepiawaian Yuga Anggana dalam gitar, Wawan bass, serta Arief Prasojo biola.

Baca juga: Musik rock sudah mati atau stagnasi?

Baca juga: Jejak kaum hawa dalam histori rock Indonesia

Nah menarik untuk mengenal genre bluegrass, sekilas memang mirip musik country yang diusung dari western Negeri Paman Sam. Hal itu tak terlepas dengan alat musik banjo-nya.

Disebutkan bahwa sumber aliran musik itu yakni tradisional Inggris, Skotlandia, Irlandia, musik Appalachia, musik Old-Time, Musik Afrika-Amerika, string band, dan blue jazz.

Memang wajar saat imigran Inggris dan Irlandia tiba di Amerika Serikat mereka membawa seni dan budaya dari negeri leluhurnya itu. Seperti musik tradisional dan mereka tinggal di daerah Applachia pada abad ke-18.

Appalachia sendiri istilah yang digunakan untuk menyebut kawasan budaya Amerika Serikat Timur yang membentang dari Southern Tier di negara bagian New York hingga wilayah utara Alabama, Mississippi, dan Georgia.

Sementara Pegunungan Appalachia membentang dari Belle Isle di Kanada hingga Pegunungan Cheaha di negara bagian Alabama, Amerika Serikat, wilayah budaya Appalachia hanya merujuk pada pegunungan bagian tengah dan selatan.

Alat musik yang biasa digunakan fiddle, banjo, mandolin, gitar akustik, dobro, double bass. Sedangkan subgenrenya, bluegrass progresif dan blue grass internasional.

Tradisi tersebut biasanya terdiri dari balada Inggris dan Skotlandia—yang tak secara khas disertai naratif dan musik tari, seperti tari "reel" asal Irlandia yang disertai dengan sebuah gesekan.

Beberapa lagu bluegrass lama datang langsung dari Kepulauan Britania. Beberapa balada bluegrass Appalachia, seperti "Pretty Saro", "Cuckoo Bird" dan "House Carpenter", datang dari Inggris dan menyajikan tradisi balada Inggris dalam hal melodi dan lirik.

Yang lainnya, seperti The Two Sisters, juga datang dari Inggris, namun, liriknya tentang Irlandia. Beberapa lagu gesekan bluegrass yang populer di Appalachia, seperti "Leather Britches", dan "Pretty Polly", memiliki turunan Skotlandia.

Nada tari Cumberland Gap datang dari nada yang disertai balada Skotlandia Bonnie George Campbell. Lagu lainnya memiliki nama berbeda di tempat berbeda contohnya di Inggris, terdapat sebuah ballad lama yang dikenal sebagai "A Brisk Young Sailor Courted Me", tetapi lagu yang sama dalam bluegrass Amerika Utara dikenal sebagai "I Wish My Baby Was Born".

Baca juga: Yang terjadi di industri musik saat bintang rock jual seluruh lagunya

Baca juga: Musik rock pada era digital

Bagaimana di Indonesia?

Di antaranya dibawakan oleh grup musik Ary Juliyant & The Badjigur Bluegrass. Ary Juliyant merupakan musisi asal Kota Kembang yang saat ini tinggal di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Alat musik banjo dan biola sudah menjadi ciri khas dari grup musik ini. Bahkan iramanya berbeat cepat yang merangsang penonton untuk turut bergoyang mengikuti nada-nada lagunya.

Pada 2021, Ary Juliyant & The Badjigur Bluegrass merilis album "Sevenium Pre Milenium" hasil kerja sama gerilya bebas bersama Ariftone Studio, Dinpust AJ&F, Folkopi Records & R.O.O.M di Lombok, Nusa Tenggara Barat.

"Album ini selesai pada Januari 2021," kata Ary Juliyant.

Ia menjelaskan album tersebut berisikan tujuh lagu karyanya selama rentang 1987 sampai 2006. Lagu karyanya dalam album itu pernah dinyanyikan penyanyi lain.

Seperti lagu "Aku Tidak Tidur, Manis (1996) yang pernah dibawakan Alm. Micko (Protonema) &Vivie, "Down in Timika Roads" oleh Time Bomb Blues.

Selanjutnya tembang "Nyanyian Dewi" yang dibawakan Rian Rusliansyah. "Album ini bisa dikatakan merupakan aransemen ulang dari tujuh lagu saya selama rentang 1987-2006," katanya.

Ary Juliyant & The Badjigur Bluegrass sendiri terdiri dari Ary Juliyant pada gitar, banjo, vokal, keyboard, perkusi, tinwhistle, aransemen dasar.

Arif Prasojo pada biola, gitar, sound engineering, dan aransemen final dan Wawan Werdaya pada bass fretless custom.

Untuk yang tertarik memesan album ini silakan hubungi instagram Ary Juliyant atau Rahadyan Shalam.

Ia mengucapkan terima kasih atas atensi dan apresiasi para pecinta Ary Juliyant & The Badjigur Bluegrass selama ini. "Salam gerilya kesenian dan sehat selalu," katanya.

Baca juga: Ary Juliyant & The Badjigur Bluegrass rilis "Sevenium Pre Milenium"

Baca juga: Ary Juliyant tampil beda saat bawakan "Overhang" di Napak Tilas Perupa

Baca juga: Pergerakan musik rock dan metal di Saparua dituangkan dalam dokumenter