Mengenal PCR-SGTF untuk Deteksi Ashanty yang Positif Covid-19, Begini Cara Kerjanya

·Bacaan 4 menit

Liputan6.com, Jakarta Penyanyi Ashanty positif virus Covid-19 setelah pulang dari berlibur di Turki bersama keluarganya. Dalam laman akun Instagram Story pribadinya, Ashanty mengungkapkan telah menjalani serangkaian tes Polymerase Chain Reaction (PCR) setibanya di Jakarta pada Kamis (6/1/2021).

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melalui Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Siti Nadia Tarmizi pun angkat bicara terkait hal ini. Ia menjelaskan, sesuai prosedur yang ada, semua kasus positif PPLN dilakukan pemeriksaan metode PCR S-Gene Target Failure (SGTF) untuk mendeteksi kemungkinan varian Omicron dan dilanjutkan dengan, Whole Genome Sequencing (WGS) untuk memastikan variannya.

"Saat ini sedang dalam proses pemeriksaan keduanya dan untuk melokalisir omicron pemerintah mengambil kebijakan semua kasus positif harus melakukan isolasi terpusat di RS atau Wisma Atlet," kata dia saat dikonfirmasi wartawan, Jumat (7/1/2022).

Apa itu PCR SGTF? Dan bagaimana cara kerjanya? Berikut ini ulasan mengenai PCR-SGTF yang telah dirangkum oleh Liputan6.com dari berbagai sumber, Jumat (7/1/2022).

Mengenal PCR-SGTF

Petugas medis mengambil sampel untuk tes PCR COVID-19 di sebuah pasar di Lima, Peru, Rabu (5/1/2022). Peru mengonfirmasi pada Selasa dimulainya gelombang ketiga infeksi virus corona di mana negara itu mencatat 309 kasus varian omicron yang sangat menular. (AP Photo/Martin Mejia)
Petugas medis mengambil sampel untuk tes PCR COVID-19 di sebuah pasar di Lima, Peru, Rabu (5/1/2022). Peru mengonfirmasi pada Selasa dimulainya gelombang ketiga infeksi virus corona di mana negara itu mencatat 309 kasus varian omicron yang sangat menular. (AP Photo/Martin Mejia)

Kita sudah sering mendengar istilah PCR (Polymerase Chain Reaction) untuk mendeteksi virus Covid-19 di dalam tubuh kita. Kini ada metode baru dan lebih mendetail untuk mendeteksi virus Covid-19. Metode itu disebut dengan WGS dan SGTF.

SGTF singkatan dari S-Gene target failure yang merupakan teknologi RNS untuk melakukan pemeriksaan probable omicron. Penggunaan teknologi PCR-SGTF diklaim dapat menunjukkan indikasi awal positif omicron. Cara kerja PCR-SGTF untuk mendeteksi virus omicron dilakukan ketika gen S pada hasil tes laboratorium menggunakan PCR tak mampu mendeteksi gen S pada sampel.

Saat ini penggunaan PCR-SGTF atau pemeriksaan menggunakan PCR-SGTF masih terbatas. PCR-SGTF diberlakukan baru di setiap pintu masuk bandara antar negara untuk mendeteksi varian omicron yang mungkin terbawa oleh pelancong dari luar negeri ke Indonesia.

PCR SGTF bertujuan untuk skrining awal keberadaan virus covid-19. Seperti yang diketahui covid-19 bermutasi menjadi beberapa varian, yang terbaru adalah varian omicron. Munculnya Omicron baru-baru ini, membuat semua pihak dan individu di berbagai negara menjadi lebih responsif pada kemungkinan penyebarannya yang meluas.

Cara Kerja PCR-SGTF

Warga menjalani tes usap PCR COVID-19 di Puskesmas Kecamatan Duren Sawit, Jakarta, Kamis (22/7/2021). Peningkatan testing dan tracing di wilayah padat penduduk diharapkan bisa mempercepat upaya memutus mata rantai penyebaran COVID-19. (Liputan6.com/Faizal Fanani)
Warga menjalani tes usap PCR COVID-19 di Puskesmas Kecamatan Duren Sawit, Jakarta, Kamis (22/7/2021). Peningkatan testing dan tracing di wilayah padat penduduk diharapkan bisa mempercepat upaya memutus mata rantai penyebaran COVID-19. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Dikutip dari CNNIndonesia, Guru Besar Fakultas Kedokteran dari Universitas Indonesia (FKUI) Tjandra Yoga Aditama menjelaskan cara kerja metode S Gene Target Failure (SGTF) untuk mendeteksi Covid-19 varian Omicron atau varian B.1.1.529. Metode SGTF bisa dilakukan ketika Gen S pada hasil test laboratorium menggunakan Polymerase chain reaction (PCR) tak mampu mendeteksi gen S pada sampel.

"Jadi PCR itu memang memeriksa beberapa gene, kalau kita test pcr kan itu terlihat gene ini angkanya sekian, rata-rata angkanya sekian. Nah kalau SGTF ini (gen) Snya tidak bisa terdeteksi," ujar Tjandra.

Tjandra menjelaskan apabila individu melakukan tes PCR, biasanya akan ada hasil angka yang menunjukkan informasi CT Value, terdiri dari keterangan gen pada sampel yang diambil. Apabila hasil dari PCR itu tidak mendeteksi adanya gen S, maka individu tersebut dianjurkan untuk melakukan proses pengecekan Whole Genome Sequencing (WGS).

"Jadi Gen S itu tidak terdeteksi dites PCR di laboratorium. Kalau Anda pernah test PCR maka hasil pemeriksaanya keluar beberapa angka, Misalnya rata-rata CT value itu 25, itu terdiri dari gen ini sekian gen ini sekian," pungkasnya.

Dari hasil PCR yang tidak terdeteksi adanya Gen S itu, kata Tjandra seseorang patut dicurigai bahwa individu tersebut terpapar varian Omicron. Kemudian, untuk memastikannya perlu dilakukan tes WGS.

"Tapi kalau orangnya datang dari Afsel enggak usah nunggu PCR lagi, langsung saja WGS," tandasnya.

Rentan Waktu Pengambilan Test PCR-SGTF

Petugas medis melakukan tes usap PCR COVID-19 kepada warga di Puskesmas Kecamatan Duren Sawit, Jakarta, Kamis (22/7/2021). Pemerintah dalam waktu dekat akan meningkatkan testing dan tracing di wilayah padat penduduk. (Liputan6.com/Faizal Fanani)
Petugas medis melakukan tes usap PCR COVID-19 kepada warga di Puskesmas Kecamatan Duren Sawit, Jakarta, Kamis (22/7/2021). Pemerintah dalam waktu dekat akan meningkatkan testing dan tracing di wilayah padat penduduk. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Ahli Biologi Molekuler Ahmad Rusdan Utomo merespons pernyataan Menteri Kesehatan Budi Gunawan menjelaskan soal hasil tes PCR Covid-19 dengan metode S Gene Target Failure (SGTF) dapat keluar dalam rentang 4-5 jam pasca pengambilan sampel.

Menurut Rusdan hal tersebut sangat lumrah lantaran metode yang digunakan sengaja difokuskan terhadap area genome varian Omicron atau varian B.1.1.529 di Indonesia.

"Bisa lebih cepat, karena teknik SGTF sudah fokus ke area genome si Omicron yang kehilangan (atau delesi) beberapa huruf genetik di gen S (spike)," kata Ahmad melalui pesan singkat kepada wartawan, Selasa (21/12).

Ia menjelaskan area ter-delete pada gen S sebelumnya memang tidak rutin diperiksa. Rusdan menyebut di laboratorium Indonesia umumnya pemeriksaan hanya kepada gen N dan gen ORF.

"Sejauh ini area yang ter-delete ini memang umumnya ditemukan di Omicron, tidak di Delta misalnya. Maka ketika teknik SGFT ini positif ya kemungkinan besar Omicron," ujar dia.

Ia juga menyebut teknik SGTF tersebut tidak perlu menggunakan mesin Nextgen Sequencing lagi, melainkan dapat menggunakan mesin RT-PCR yang umumnya sudah ada.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel