Mengenal Penyebab Autisme dan Gejalanya yang Harus Segera Disadari

·Bacaan 3 menit

Fimela.com, Jakarta Menurut dari data WHO, autisme atau yang disebut dengan gangguan spektrum autisme atau autism spectrum disorder (ASD), terjadi pada 1 banding 160 anak-anak di seluruh dunia.

Secara umum, autisme adalah gangguan yang terjadi pada gangguan otak, yang menyebabkan penderitanya susah untuk berkomunikasi dengan orang lain, gangguan perilaku hingga mengganggu minat penderita.

Autisme ini sering terjadi pada anak-anak yang sedang bertumbuh dan berkembang. Seorang anak yang menderita autisme, gejala dan ciri-cirinya akan terlihat lebih mencolok daripada anak yang lainnya. Untuk mengenali anak yang menderita autisme, berikut penyebab autisme, gejala dan ciri-cirinya, yang dilansir dari Merdeka.com:

Pengertian Autisme

ilustrasi autis/Polesie Toys/pexels
ilustrasi autis/Polesie Toys/pexels

Menurut Wright (2007:4), autisme adalah gangguan perkembangan yang terlihat di tiga tahun pertama kehidupan anak. Gangguan autisme ini dapat mempengaruhi anak dalam berkomunikasi, berinteraksi sosial, imajinasi dan perilaku.

Menurut Yumono (2009:26), autisme adalah gangguan perkembangan neurobiologis, yang mempengaruhi kehidupan dalam jangka panjang. Gangguan autisme ini meliputi aspek interaksi sosial, komunikasi, bahasa, perilaku, emodi, persepsi sensori dan motoric, yang muncul pada anak sebelum usia 3 tahun.

Dari kedua pengertian tentang autisme, sehingga secara garis besar autisme dapat disimpulkan sebagai gangguan perkembangan pada anak sebelum usia 3 tahun, yang sangat berpengaruh pada perkembangan pervasive, yang mengganggu fungsi kognitif, komunikasi, bahasa dan interaksi sosial.

Penyebab Autisme

ilustrasi autisme/cottonbro/pexels
ilustrasi autisme/cottonbro/pexels

Sebenarnya tidak ada penyebab secara signifikan, tetapi ada beberapa faktor yang bisa menjadi penyebab autisme. Faktor jenis kelamin bisa mempengaruhi autisme ini. Karena menurut sebuah penelitian, anak laki-laki 4 kali lebih berisiko terkena autisme, daripada anak perempuan.

Adanya faktor keturunan juga bisa menjadi penyebab autisme. Jika seorang anak memiliki orang tua yang mengidap autisme, maka anak yang lahir bisa mengalami gangguan autisme juga.

Faktor usia orang tua bisa berpengaruh terhadap kondisi anak. Semakin bertambahnya usia saat melahirkan anak, akan semakin tinggi risiko memiliki anak yang lahir dengan gangguan autisme. Begitu juga dengan anak yang lahir secara premature atau saat lahir pada usia kurang dari 26 minggu.

Anak yang mengidap autisme juga bisa disebabkan, karena orang tua melakukan pola hidup yang kurang sehat pada saat bayi masih di dalam kandungan, seperti mengonsumsi alkohol, merokok dan mengonsumsi obat-obatan, terutama obat epilepsi.

Gejala Autisme

ilustrasi autisme/Mudrik H. Amin/pexels
ilustrasi autisme/Mudrik H. Amin/pexels

Gejala yang dialami setiap anak yang mengidap autisme berbeda-beda. Sekitar kurang lebih 80% anak akan mengalami gejala autisme di usia 2 tahun. Jika gejalanya ringan, maka anak masih bisa melakukan aktivitas secara normal. Tetapi jika gejalanya parah, harus memerlukan penanganan khusus untuk mejalankan kehidupan sehari-hari. Berikut penjelasan tentang gejala autisme:

Gejela Interaksi dan Komunikasi

Sekitar kurang lebih 30% anak yang menderita autisme, kehilangan kemampuan berbicara tetapi saat saat kecil mereka bisa berbicara. Sedangkan 40% anak tidak berbicara sama sekali.

Gejalanya bisa ditandai dengan anak yang tidak merespon saat dipanggil, walaupun pendengarannya normal. Anak juga mengalami kesusahan dalam mengungkankan emosi, tidak peka terhadap perasaan orang lain, sering mengulang kata yang tidak ia pahami, bahkan sering menghindari kontak mata saat berkomunikasi.

Gejalanya juga bisa ditandai dengan nada bicara anak yang datar, lebih senang dengan dunianya sendiri, tidak mau berbagi atau bermain dengan orang lain, serta menghindari kontak fisik dengan orang lain.

Gejala Pola Perilaku

Pola perilaku anak yang mengidap autisme juga bisa ditandai dengan sensitif terhadap cahaya, sentuhan dan suara, tetapi tidak merespon terhadap rasa sakit.

Anak akan lebih sering melakukan kebiasaan atau aktivitas tertentu, dengan cara menyendiri atau dunianya dia sendiri, dan akan marah jika pola kebiasaan tersebut diubah oleh orang lain.

Gejala pola perilaku juga bisa ditandai dengan gerakan anak yang tidak seperti orang normal, melakukan gerakan repetitif dan mengonsumsi makanan tertentu. Saat anak mengalami gejala yang tidak normal, lebih baik segera konsultasikan pada dokter.