Mengenal Penyebab ISPA, Kenali Gejala dan Cara Mengobatinya

·Bacaan 4 menit

Liputan6.com, Jakarta Penyebab ISPA atau Infeksi Saluran Pernapasan Akut harus diketahui sejak dini, sebab penyakit ini mudah menular dan dapat diderita oleh siapa saja terutama anak-anak dan lansia. ISPA adalah infeksi di saluran pernapasan, yang menimbulkan gejala batuk, pilek, disertai dengan demam.

Sesuai dengan namanya, ISPA akan menimbulkan peradangan pada saluran pernapasan, mulai dari hidung hingga paru-paru. Kebanyakan ISPA disebabkan oleh virus, sehingga dapat sembuh dengan sendirinya tanpa pengobatan khusus dan antibiotik.

Jangan menyepelekan penyakit ini terutama saat masih berada di tengah pandemi Covid-19. Sebab, beberapa penyakit yang termasuk ke dalam ISPA salah satunya adalah Covid-19. Untuk itu, penting untuk mengetahui penyebab ISPA hingga gejalanya agar mendapatkan pengobatan yang tepat.

Berikut ini penjelasan mengenai penyebab ISPA beserta gejala dan cara mengobatinya yang telah dirangkum oleh Liputan6.com dari berbagai sumber, Rabu (15/9/2021).

Penyebab ISPA

Gambar ilustrasi diperoleh pada 27 Februari 2020 dengan izin dari Food and Drug Administration AS menunjukkan Virus Corona COVID-19. (US Food and Drug Administration/AFP)
Gambar ilustrasi diperoleh pada 27 Februari 2020 dengan izin dari Food and Drug Administration AS menunjukkan Virus Corona COVID-19. (US Food and Drug Administration/AFP)

Ada dua faktor yang bisa menjadi penyebab ISPA pada seseorang. Penyebab ISPA adalah adanya infeksi virus atau bakteri di saluran pernapasan. Adapun beberapa jenis virus yang menjadi penyebab ISPA adalah sebagai berikut:

1. Virus Influenza

2. Parainfluenza virus

3. Rhinovirus

4. Adenovirus

5. Respiratory syntical viruses (RSVs)

6. Virus Covid-19 atau Corona

Bukan hanya itu saja, penyakit ISPA juga bisa dikarenakan adanya infeksi bakteri. Adapun beberapa macam bakteri yang menjadi penyebab ISPA adalah sebagai berikut:

1. Streptococcus

2. Haemophilus

3. Chlamydia

4. Staphylococcus aureus

5. Mycoplasma pneumoniae

6. Corynebacterium diphteriae

Penyakit ISPA mampu menyerang saluran napas atas maupun bawah. Sejumlah penyakit yang termasuk ke dalam ISPA meliputi sinusitis, radang tenggorokan akut, common cold, laringitis akut, pneumonia dan Covid-19. Penularan bakteri atau virus penyebab ISPA sendiri bisa melalui kontak dengan percikan air liur pasien terinfeksi.

Virus atau bakteri yang ada di dalam liur nantinya akan menyebar melalui udara. Kemudian akan masuk ke hidung atau mulut seseorang. Selain itu, virus juga bisa menyebar melalui sentuhan dengan benda terkontaminasi. Bahkan juga bisa ditularkan saat berjabat tangan dengan pasien ISPA.

Kelompok Rentan Tertular ISPA

Ilustrasi Lansia Credit: pexels.com/PaulTheodorOja
Ilustrasi Lansia Credit: pexels.com/PaulTheodorOja

Walaupun penyebarannya mudah, ada beberapa kelompok orang yang lebih rentan tertular ISPA, yaitu:

1. Orang Dewasa dengan Sistem Imun Lemah

Sistem kekebalan tubuh memang sangat berpengaruh pada penyakit ISPA. Sistem kekebalan tubuh mampu melawan infeksi virus ataupun bakteri. Saat kekebalan tubuh menurun, risiko seseorang terinfeksi akan kian meningkat. Terutama bagi para penderita AIDS dan kanker.

2. Penderita Gangguan Jantung & Paru-Paru

Kelompok lainnya adalah penderita gangguan jantung dan paru-paru. ISPA memang lebih sering terjadi pada pasien penyakit jantung dan paru-paru. ISPA juga bisa menghampiri seseorang yang memiliki kedua penyakit ini sebelumnya.

3. Perokok Aktif

Kelompok terakhir adalah perokok aktif. Hal ini lantaran perokok aktif memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan fungsi paru serta saluran pernapasan. Sehingga mereka akan rentan terkena ISPA dan cenderung lebih sulit untuk sembuh.

4. Anak-Anak dan Lansia

Anak-anak dan lansia memiliki sistem kekebalan tubuh yang rendah, sehingga rentan terhadap berbagai infeksi. Selain itu, penyebaran virus atau bakteri ISPA di kalangan anak-anak dapat terjadi sangat cepat karena anak-anak banyak berinteraksi secara dekat dan melakukan kontak dengan anak-anak yang lain.

Gejala ISPA

Penyakit ISPA (sumber: iStock)
Penyakit ISPA (sumber: iStock)

Seperti penyakit pada umumnya, ISPA juga akan menimbulkan beberapa gejala bagi para penderitanya. Gejala ISPA biasanya bisa berlangsung antara 1-2 minggu. Sebagian besar para penderita akan mengalami perbaikan gejala usai minggu pertama. Adapun gejala ISPA tersebut berupa:

a. Bersin

b. Batuk

c. Pilek

d. Hidung tersumbat

e. Sesak napas

f. Nyeri tenggorokan

g. Sakit kepala

h. Nyeri otot

i. Demam

Cara Mengobati ISPA

Ilustrasi dokter | Via: istimewa
Ilustrasi dokter | Via: istimewa

Seperti telah disebutkan sebelumnya, ISPA paling sering disebabkan oleh virus, sehingga akan sembuh sendiri tanpa perlu penanganan khusus. Beberapa tindakan untuk meredakan gejala dapat dilakukan secara mandiri di rumah, yaitu :

1. Memperbanyak istirahat dan konsumsi air putih untuk mengencerkan dahak, sehingga lebih mudah untuk dikeluarkan.

2. Mengonsumsi minuman lemon hangat atau madu untuk membantu meredakan batuk.

3. Berkumur dengan air hangat yang diberi garam, jika mengalami sakit tenggorokan.

4. Menghirup uap dari semangkuk air panas yang telah dicampur dengan minyak kayu putih atau mentol untuk meredakan hidung yang tersumbat.

5. Memposisikan kepala lebih tinggi ketika tidur dengan menggunakan bantal tambahan, untuk melancarkan pernapasan.

Jika gejala yang dialami tidak membaik, Anda perlu berkonsultasi dengan dokter. Dokter dapat memberikan obat-obatan untuk meredakan gejala, antara lain:

1. Ibuprofen atau paracetamol, untuk meredakan demam dan nyeri otot.

2. Diphenhydramine dan pseudoephedrine, untuk mengatasi pilek dan hidung tersumbat.

3. Obat batuk.

4. Antibiotik, jika dokter menemukan bahwa ISPA disebabkan oleh bakteri.

Pencegahan ISPA

Tindakan pencegahan utama ISPA adalah menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat. Beberapa cara yang dapat dilakukan, yaitu:

1. Cuci tangan secara teratur, terutama setelah beraktivitas di tempat umum.

2. Hindari menyentuh wajah, terutama bagian mulut, hidung, dan mata, untuk menghindari penularan virus dan bakteri.

3. Gunakan sapu tangan atau tisu untuk menutup mulut ketika bersin atau batuk. Hal ini dilakukan untuk mencegah penyebaran penyakit ke orang lain.

4. Perbanyak konsumsi makanan kaya vitamin, terutama vitamin C, untuk meningkatkan daya tahan tubuh.

5. Olahraga secara teratur.

6. Berhenti merokok.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel