Mengenal Proud Boys, Kelompok Pendukung Trump Masuk Daftar Teroris

Toto Pribadi
·Bacaan 2 menit

VIVA – Nama Proud Boys mungkin belum setenar Al Qaeda atau Boko Haram. Namun kelompok sayap kanan pendukung militan Donald Trump ini juga punya stempel sebagai organisasi teroris laiaknya Al Qaeda maupun Boko Haram terhitung sejak 3 Februari 2021.

Nah, dalam kesempatan ini, redaksi mencoba merangkum beberapa info mengenai sejarah hingga sepak terjang kelompok sayap kanan yang punya logo Ayam Jago ini. Proud Boys didirikan penulis dan tokoh sayap kanan Kanada, Gavin Mclnnes pada 2005.

Nama Proud Boys sendiri diyakini diambil dari lagu 'Proud of Your Boy' di film Aladdin yang rilis pada 1992. Karakter Aladdin yang awalnya menggambarkan sosok anak nakal yang kemudian berjanji akan membuat bangga ibunya menjadi pegangan anggota kelompok ini.

Musuh bebuyutan kelompok Proud Boys adalah kelompok antifacist dan semua kelompok kiri. Catatan menarik lainnya, kelompok Proud Boys yang diperkirakan punya anggota hingga 6 ribu orang ini mengharamkan merekrut wanita, apalagi cowok 'jadi-jadian'.

Kelompok ini punya banyak anggota di Amerika Serikat dan Kanada. Anggota semua laki-laki mengingat kelompok teroris yang satu ini punya ideologi Antifeminisme. Selain itu, Proud Boys juga dikenal sebagai kelompok anti-Islam dan pendukung garis keras Trump.

Proud Boys juga sangat meyakini bahwa teori konspirasi pemusnahan warga kulit putih tengah dijalankan sehingga kelompok ini merasa menjadi tembok pertahanan menangkal usaha konspirasi tersebut. Sekilas tentu sangat mirip dengan gerakan Nazi ala Jerman.

Sebelum ditetapkan sebagai organisasi teroris oleh Kanada dan Amerika Serikat (AS), eksistensi kelompok Proud Boys juga telah dilarang di beberapa media sosial seperti Facebook, Instagram dan Twitter.

Catatan hitam ditorehkan kelompok yang satu ini sejak awal berdiri. Dari berbagai sumber yang dirangkum, tercatat lebih dari 30 aksi yang ditunggangi kelompok ini yang mayoritas berakhir dengan kerusuhan dan kekerasan.

Terbaru, kelompok ini juga dituding menjadi biang kerok saat pendukung Donald Trump membuat rusuh dan merangsek masuk ke Gedung Parlemen AS, Januari lalu. Kelompok ini akhirnya dimasukan dalam daftar kelompok teroris yang juga ditandai dengan ditangkapnya sang pemimpin, Henry Enrique Tarrio, pria berdarah Cuba-AS.