Mengenal Revenge Porn, Kekerasan Seksual yang Mengatasnamakan Cinta

·Bacaan 2 menit

Fimela.com, Jakarta Sejak kemarin sosial media kita ramai dengan unggahan satu video pribadi yang mirip dengan artis Indonesia, Gisel. Video yang disebar di internet itu sontak membuat ramai jagat maya. Banyak yang menyayangkan mengapa video itu diunggah, namun tak sedikit yang menyalahkan Gisel.

Sayangnya tidak semua memahami, bahwa tidak ada satu pun orang yang ingin video pribadinya diunggah di internet. Disebarluaskan dan menjadi konsumsi publik. Namun, tahu kah kamu jika menyebarkan video atau foto pribadi ke internet termasuk kejahatan seksual?

Banyak alasan mengapa video atau foto seseorang diunggah ke internet. Salah satunya adalah karena dendam dan rasa benci kepada korban yang merupakan pasangan atau orang terdekat. Istilah ini biasa disebut dengan Revenge Porn.

Tentang Revenge Porn

Perempuan./Copyright shutterstock.com/g/PRPicturesProduction
Perempuan./Copyright shutterstock.com/g/PRPicturesProduction

Menurut Danielle dan Mary Anne dalam jurnal "Criminalizing Revenge Porn", konten yang berupa video atau video ini dapat digunakan oleh pelaku untuk memeras subjek untuk melakukan tindakan seks lainnya, untuk memaksa mereka melanjutkan hubungan, dan sebagai bentuk balas dendam karena mengakhiri hubungan mereka.

Banyak pasangan yang memang dengan senagaja merekam aktivitas pribadinya untuk kepentingan pribadi. Menurut penelitian, hal itu bukan kelainan. Hal itu akan menjadi masalah jika memang kita sengaja merekamnya dan menyebar luaskan unggahan video maupun foto dnegan konten privat tersebut.

Perempuan Seringkali Menjadi Korban

Photo by Antony Xia from Unsplash
Photo by Antony Xia from Unsplash

Korban Revenge Porn memang tidak memandang gender, namun yang sering terjadi korbannya adalah perempuan. Mengapa hal itu terjadi? Perempuan masih sering dijadikan objek dalam satu hubungan. Mulai dari diimingi-imingi sesuatu, dijanjikan banyak hal, dan ungkapan yang secara persuasif namun memaksa mereka untuk mengikuti apa kata pasangan.

Sayangnya saat hubungan berakhir atau tidak berjalan sesuai dengan harapan, kerap video atau foto sering kali dijadikan ancaman kepada pihak perempuan. Tak jarang inilah yang seringkali membuat banyak perempuan sulit untuk melepas hubungan beracunnya. Dalam data dari Komnas Perempuan pada tahun 2019 lalu, tercatat 125 kasus kekerasan cyber dan yang paling tinggi adalah kasus mengenai revenge porn yaitu sebesar 33%.

Jadi, kasus Gisel bukanlah yang pertama terjadi di Indonesia. Sederet publik figure pun pernah menjadi korban revenge porn. Namun selalu berulang, korban kerap disalahkan. Jadi, apakah kita akan diam saja? Dan menjadi perempuan yang leluasa menghakimi perempuan lain. Be kind, Sahabat Fimela.

#ChangeMaker