Mengenal Sosok Sembilan Istri Soekarno

·Bacaan 4 menit

VIVA – Presiden pertama Republik Indoneisa, Soekarno atau sering disapa Bung Karno dikenal sebagai sosok laki-laki yang memiliki karisma mempesona dan penuh wibawa. Soekarno merupakan tokoh pejuang kemerdekaan yang memegang peran penting dalam upaya memerdekakan Indonesia dari penjajahan.

Soekarno juga sebagai Proklamator Kemerdekaan Indonesia bersama Mohammad Hatta pada tanggal 17 Agustus 1945. Tidak hanya bersikap tegas sebagai pemimpin bangsa, namun Bung Karno diketahui berhasil memikat perhatian banyak kaum Wanita. Diantaranya juga berhasil dipersunting dan memiliki anak.

Diketahui bahwa istri Soekarno tidak hanya Ibu Fatmawati saja, namun ada sembilan istri. Siapa saja istri Bung Karno? Berikut ulasan selengkapnya yang dikutip dari berbagai sumber.

Mengenal Sosok Kesembilan Istri Soekarno

  1. Siti Oetari Tjokroaminoto

Bung Karno memiliki istri pertama yang Bernama Siti Oetari Tjokroaminoto yang juga merupakan putri sulung pemimpin Sarekat Islam, Haji Oemar Said Tjokroaminoto. Disebutkan salah satu alasan Bung Karno menikahi Oetari karena simpati dengan Ibu Oetari, Suharsikin. Oetari menikah dengan Soekarno di saat usianya 16 tahun pada tahun 1921 di Surabaya, Jawa Timur.

Setelah pernikahannya, Soekarno meninggalkan Surabaya dan pindah ke Bandung untuk melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi di THS yang sekarang ITB. Kemudian, Soekarno menceraikan Oetari secara baik-baik.

  1. Inggit Garnasih

Inggit Garnasih merupakan istri kedua Soekarno. Putra Sang Fajar ini bertemu Inggit pada saat menuntut ilmu di Bandung. Diketahui sebelum bersanding dengan Soekarno, Inggit telah menikah dua kali dengan Nata Atmaja dan Sanusi.

Selama di Bandung, Soekarno tinggal di rumah saudagar dan anggota pergerakan Syarikat Islam Indonesia, bernama Sanusi yang merupakan suami Inggit. Soekarno mulai merasakan benih-benih cinta kepada Inggit.

Akhirnya ia menceraikan Oetari, begitu pula Sanusi yang menceraikan Inggit. Soekarno kemudian menikahi Inggit pada 24 Maret 1923 di Jalan Javaveem, Bandung.

Inggit selalu setia menemani Soekarno di masa-masa sulitnya. Selain itu, Inggit yang membantu membiayai perjuangan Soekarno mulai dari biaya kuliah hingga aktivitas politik. Namun, pada tahun 1942 mereka bercerai.

  1. Fatmawati

Ibu Fatmawati, merupakan istri ketiga dari Soekarno. Ibu Fatmawati juga menjadi Ibu Negara Indonesia pertama dari tahun 1945-1967. Fatmawati memiliki nama asli Fatimah, keduanya bertemu saat masa pembuangan Soekarno di Bengkulu dan menikah pada 1 Juni 1943.

Ibu Fatmawati dikenal karena jasanya yang menjahit bendera sang saka Merah Putih. Pada saat itu, Ibu Fatmawati dalam kondisi fisik yang cukup rentan sebab sedang hamil tua dan sudah waktunya untuk melahirkan putra sulungnya, Guntur Soekarnoputra.

Pernikahannya dikaruniai lima anak yaitu Guntur Soekarnoputra, Megawati Soekarnoputri, Rachmawati Soekarnoputri, Sukmawati Soekarnoputri, dan Guruh Soekarnoputra.

  1. Hartini

Pernikahan Soekarno dan Hartini diawali pertemuan di Candi Prambanan, Jawa Tengah saat Soekarno sedang kunjungan kerja. Ketika dipinang oleh Soekarno, status Hartini adalah janda dengan lima anak. Sebelumnya, Soekarno telah meminta izin kepada Fatmawati untuk menikah lagi.

Hartini menikah dengan Soekarno pada 7 Juli 1953. Pernikahan keduanya dikarunia dua anak yaitu Taufan Soekarnoputra dan Bayu Soekarnoputra.

  1. Ratna Sari Dewi

Soekarno jatuh hati dengan wanita Jepang yang bernama Ratna Sari Dewi. Ia lahir dengan nama Naoko Nemoto di Tokyo, Jepang. Dewi bertemu Soekarno saat kunjungannya ke Jepang tahun 1959.

Dewi berkenalan dengan Soekarno lewat seseorang ketika Bung Karno berada di Hotel Imperial, Tokyo. Keduanya menikah pada tahun 1962, pada saat itu, Dewi menikah di usia 22 tahun. Pernikahannya dikaruniai anak yang bernama Kartika Saru Dewi Seokarno.

Sebelum menjadi istri Soekarno, Dewi merupakan seorang pelajar dan entertainer. Namun, menjelang redupnya kekuasaan Soekarno, Dewi meninggalkan Indonesia. Setelah lebih 10 tahun di Paris, sejak 1983 Dewi kembali ke Jakarta. Pada 2008, Dewi kembali ke Jepang dan menetap di Shibuya, Tokyo.

  1. Haryati

Haryati merupakan istri keenam Soekarno. Ia merupakan mantan penari istana dan Staf Sekretaris Negara Bidang Kesenian. Mereka menikah pada 21 Mei 1963 dengan acara sederhana karena Soekarno berpendapat pernikahan mereka sebaiknya tidak diumumkan kepada masyarakat luas.

Namun, Haryati paling tidak akur dengan istri atau keluarga istri Soekarno yang lain. Hingga akhirnya mereka memutuskan bercerai pada tahun 1966.

  1. Yurike Sanger

Istri ketujuh Soekarno yaitu Yurike Sanger, ia pertama kali bertemu dengan Yurike Sanger pada tahun 1963. Saat itu, Yurike masih berstatus pelajar dan menjadi anggota Bhinneka Tunggal Ika pada acara Kenegaraan.
Mereka akhirnya menikah dengan rasa cinta pada 6 Agustus 1964.

Berselang tiga tahun kemudian, kondisi Soekarno pada 1967 yang secara de facto dimakzulkan sebagai presiden berdampak pada kehidupan pribadinya. Soerkarno yang menjadi tahanan rumah di Wisma menyarankan Yurike untuk meminta cerai.

  1. Kartini Manoppo

Kartini Manoppo merupakan istri kedelapan Soekarno. Wanita asal Bolang Mongondow, Sulawesi ini terlahir dari keluarga terhormat. Kartini pernah bekerja sebagai pramugari Garuda Indonesia. Keduanya bertemu saat melihat lukisan karya Basuki Abdullah. Pada tahun 1959, keduanya menikah dan dikarunia anak bernama Totok Suryawan Soekarnoputra pada 1967.

  1. Heldy Djafar

Istri terakhir Soekarno yang kesembilan yaitu Heldy Djafar. Saat dinikahi Soekarno, usia Heldy masih belia, yaitu umur 18 tahun sementara Soekarno sudah berusia 65 tahun. Keduanya menikah pada tahun 1966 dan hanya bertahan dua tahun saja.

Komunikasi tak berjalan lancar karena setelah Soekarno menjadi tahanan di Wisma Yaso, Jalan Gatot Subroto. Heldy sempat mengatakan ingin berpisah, namun Soekarno masih mempertahankan pernikahan itu dan hanya ingin dipisahkan oleh maut.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel