Mengenal Surat Berharga Komersial, Jenis, dan Perbedaannya dengan Obligasi

Mengenal Surat Berharga Komersial, Jenis, dan Perbedaannya dengan Obligasi
Mengenal Surat Berharga Komersial, Jenis, dan Perbedaannya dengan Obligasi

RumahCom – Pasar uang adalah tempat bagi pihak atau perseorangan untuk meminjam dana dengan tingkat bunga sebagai imbalan atau keuntungan yang ditawarkan pada pemberi dana.

Secara sederhana, pasar uang bisa dikatakan merupakan kegiatan perdagangan surat berharga untuk memenuhi permintaan dan penawaran dana dalam jangka waktu pendek tanpa batasan tempat. Pasar uang bisa berfungsi sebagai sarana investasi, sumber pendanaan, sampai menjaga stabilitas perekonomian.

Salah satu contoh instrumen pasar uang adalah Surat Berharga Komersial (SBK). Apa itu SBK dan perbedaannya dengan obligasi. Lewat artikel ini, tim Rumah.com akan mengupas lengkap seputar Surat Berharga Komersial seperti berikut:

  • Surat Berharga Komersial

  • Jenis-Jenis Surat Berharga Komersial

  • Perbedaan Surat Berharga Komersial dengan Obligasi

  • Keunggulan dan Kekurangan Surat Berharga Komersial

Surat Berharga Komersial

<em>Surat berharga komersial berisi pernyataan pembayaran utang dalam jangka pendek.(Foto: iStock – Lemono)</em>
Surat berharga komersial berisi pernyataan pembayaran utang dalam jangka pendek.(Foto: iStock – Lemono)

Surat Berharga Komersial (SBK) adalah surat kesanggupan bayar (promes) jangka pendek tanpa jaminan yang biasanya diterbitkan perusahaan dan pemerintah asing dengan tenor maksimal 12 bulan dan dicatatkan di Bank Indonesia (BI).

Bagi penerbit besar yang layak mendapatkan kredit, Surat Berharga Komersial bisa jadi alternatif yang cukup menguntungkan karena memiliki biaya lebih rendah dibandingkan pinjaman bank.

1. Aturan Hukum/UU yang mengatur SBK

Ketentuan mengenai Surat Berharga Komersial diatur dalam Peraturan Peraturan Bank Indonesia (PBI) No.19/9/PBI/2017 tentang Penerbitan dan Transaksi Surat Berharga Komersial di Pasar Uang. Disebutkan pada bagian pembuka huruf e bahwa Surat Berharga Komersial merupakan salah satu instrumen pasar uang yang perlu dikembangkan untuk memberikan fleksibilitas pengelolaan likuiditas pelaku pasar uang dan mendorong pembiayaan ekonomi nasional.

Sejalan dengan pernyataan tersebut, dalam UU No.8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal, disebutkan di Pasal 70 bahwa Surat Berharga Komersial sebagai salah satu bentuk yang merupakan instrumen pasar uang dikecualikan dari kewajiban penawaran umum dengan pertimbangan pembinaan, pengaturan, dan pengawasan efek yang memiliki jangka waktu sampai dengan 1 tahun dilaksanakan oleh instansi lain.

Namun perlu diingat, SBK tidak termasuk dalam produk pasar modal sehingga tidak perlu didaftarkan ke instansi lain seperti Otoritas Jasa Keuangan (OJK) atau Bursa Efek Indonesia (BEI).

2. Pihak yang Menerbitkan SBK

Masih dari undang-undang yang salam, dalam Pasal 1 ayat (5) dijelaskan jika SBK diterbitkan oleh Korporasi Non-Bank berbentuk surat sanggup (promissory note) dan berjangka waktu sampai dengan 1 tahun yang terdaftar di Bank Indonesia. Dilanjutkan pada ayat (7), penerbit Surat Berharga Komersial adalah pihak yang memenuhi persyaratan untuk menerbitkan SBK.

3. Syarat-Syarat Penerbitan SBK di Indonesia

Dari poin sebelumnya telah dijelaskan jika tidak semua pihak berhak menerbitkan SBK. Hanya korporasi non-bank yang telah memenuhi syarat yang bisa menerbitkan surat tersebut. Apa saja syaratnya? Pasal 3 Peraturan Peraturan Bank Indonesia (PBI) No.19/9/PBI/2017 tentang Penerbitan dan Transaksi Surat Berharga Komersial di Pasar Uang menjabarkannya sebagai berikut:

Pihak yang dapat menerbitkan Surat Berharga Komersial yaitu korporasi non-bank yang memenuhi syarat sebagai berikut

  1. Tercatat sebagai emiten saham pada Bursa Efek Indonesia (BEI) atau pernah menerbitkan obligasi dan/atau sukuk yang dicatat di Bursa Efek Indonesia dalam 5 tahun terakhir sampai dengan tanggal pengajuan permohonan pendaftaran penerbitan Surat Berharga Komersial; atau

  2. Tidak tercatat sebagai emiten atau perusahaan publik namun memenuhi persyaratan sebagai berikut:

  3. Telah beroperasi paling singkat 3 tahun atau kurang dari 3 tahun sepanjang memiliki penjaminan atau penanggungan

  4. Memiliki ekuitas paling sedikit Rp50 miliar

  5. Menghasilkan laba bersih untuk 1 tahun terakhir

Korporasi Non-Bank sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:

  1. Memiliki laporan keuangan yang memperoleh pendapat wajar tanpa modifikasian (WTM) secara berturut-turut dari 3 akuntan publik terdaftar di Bank Indonesia untuk periode 3 tahun terakhir atau sejak Korporasi Non-Bank beroperasi untuk Korporasi Non-Bank yang beroperasi kurang dari 3 tahun;

  2. Tidak pernah mengalami kondisi gagal bayar selama 3 tahun terakhir sampai dengan tanggal pengajuan permohonan pendaftaran penerbitan Surat Berharga Komersial atau tidak pernah mengalami kondisi gagal bayar untuk Korporasi Non-Bank yang beroperasi kurang dari 3 tahun;

  3. Korporasi Non-Bank yang pernah mengalami gagal bayar dapat menerbitkan Surat Berharga Komersial paling singkat 3 tahun setelah tanggal pernyataan penyelesaian gagal bayar sepanjang penyelesaian dilakukan secara wajar;;

  4. Memiliki manajemen dengan rekam jejak yang baik;

  5. Memiliki pedoman penerapan prinsip kehati-hatian dan manajemen risiko; dan

  6. Memenuhi persyaratan administratif yang ditetapkan Bank Indonesia

[ArticleCallout]{ “title”: “Panduan Investasi Apartemen di Indonesia Terbaru”, “excerpt”: “Simak penjelasannya di sini!”, “link”: “https://www.rumah.com/panduan-properti/investasi-apartemen-dan-plus-minusnya-8320”, “image”: “https://img.iproperty.com.my/angel-legacy/1110×624-crop/static/2018/03/Superblok-di-Central-Business-Distric-CBD-Sentul-City.jpg” } [/ArticleCallout]

Jenis-Jenis Surat Berharga Komersial

<em>Contoh cek sebagai salah satu jenis SBK. (Foto: iStock – Payphoto)</em>
Contoh cek sebagai salah satu jenis SBK. (Foto: iStock – Payphoto)

Sekarang sudah jelas ya, Surat Berharga Komersial tidak bisa diterbitkan sembarangan dan pihak Korporasi Non-Bank yang ingin menerbitkannya harus memenuhi sejumlah persyaratan agar tidak terjadi kecurangan (fraud) lebih besar di masa depan. Nah, sekarang kita akan berkenalan dengan 3 jenis Surat Berharga Komersial menurut KUHD, yakni:

1. Cek

Jenis SBK satu ini adalah suatu surat yang di dalamnya terdapat cek dan dikeluarkan pada tanggal dan tempat tertentu. Cek juga memiliki perintah tanpa syarat dari pihak nasabah kepada bank untuk membayar sejumlah uang yang telah tertulis di dalamnya atau kepada pihak pembawa cek tersebut.

2. Surat Sanggup atau Promes

Surat sanggup atau promes adalah jenis SBK dimana di dalamnya tertulis janji dari satu pihak atau pembayar agar membayarkan sejumlah uang pada pihak lain. Dituliskan secara detail, kewajiban membayar dilakukan sebagai bentuk pelunasan suatu utang. Tidak bisa terlalu lama, pihak peminjam harus mengembalikan dalam waktu paling lama 1 tahun dan dinilai sebagai instrumen investasi jangka pendek.

3. Wesel

Terakhir ada wesel atau surat berharga yang di dalamnya terdapat kata wesel dan memiliki perintah untuk melakukan pembayaran sesuai syarat yang telah ditetapkan dalam KUHD.

Itulah jenis-jenis surat berharga komersial yang perlu Anda ketahui. Surat berharga komersial bisa jadi salah satu instrumen investasi sama halnya dengan properti. Jika Anda sedang mencari properti untuk investasi, cek properti rumah dijual di kawasan Serpong dibawah Rp1 miliar di sini!

Perbedaan Surat Berharga Komersial dengan Obligasi

<em>Baik SBK dan obligasi sama-sama bisa diterbitkan oleh korporasi. (Foto: iStock – Rawpixel)</em>
Baik SBK dan obligasi sama-sama bisa diterbitkan oleh korporasi. (Foto: iStock – Rawpixel)

Melansir situs resmi BEI, obligasi atau surat utang merupakan salah satu efek yang tercatat di Bursa di samping efek lainnya seperti saham, sukuk, efek beragun aset maupun dana investasi real estat.

Obligasi sendiri bisa dikelompokan sebagai efek bersifat utang di samping sukuk dan dikenal juga dengan surat utang jangka menengah panjang yang dapat dipindahtangankan, berisi janji dari pihak yang menerbitkan untuk membayar imbalan berupa bunga pada periode tertentu dan melunasi pokok utang pada waktu yang telah ditentukan pada pihak pembeli obligasi.

Dari pengertian tersebut, dapat terlihat perbedaan mencolok antara SBK dan obligasi terletak pada tempo pelunasan utang. Jika SBK hanya memberikan waktu paling lama 1 tahun, maka periode jatuh tempo obligasi lebih lama yakni 365 hari sampai di atas 5 tahun. Selain itu pihak penerbit Surat Berharga Komersial hanyalah Korporasi Non-Bank sementara pada obligasi korporasi atau negara bisa jadi pihak penerbit.

[PropertyTip]Bagi pemula, pilihkan instrumen investasi dengan risiko rendah seperti deposito atau logam mulia.[/PropertyTip]

Keunggulan dan Kekurangan Surat Berharga Komersial

<em>Pelunasan utang SBK harus dilakukan dalam tempo paling lama 12 bulan. (Foto: iStock – Soulmemoria)</em>
Pelunasan utang SBK harus dilakukan dalam tempo paling lama 12 bulan. (Foto: iStock – Soulmemoria)

1. Keunggulan Surat Berharga Komersial

  • Proses penerbitan cepat. Dibanding instrumen lainnya, SBK hanya membutuhkan waktu maksimal 15 hari kerja proses review BI untuk mendapatkan persetujuan apabila dokumen sudah lengkap

  • Peluang investasi jangka pendek. Dengan jatuh tempo maksimal 1 tahun, SBK bisa jadi bridging financing berbunga rendah bagi penerbit. Semenatar sebagai fasilitas investasi di apsar uang, SBK memberikan imbal hasil lebih kompetitif selain dari perbankan tanpa kewajiban agunan.

  • Biaya penerbitan Surat Berharga Komersial terbilang rendah jika dibandingkan instrumen utang lainnya.

  • Market governance. Pengaturan Surat Berharga Komersial oleh BI mampu meningkatkan governance pasar SBK sehingga meningkatkan confidence investasi SBK bagi investor.

  • Mampu mendukung transmisi kebijakan moneter. Surat Berharga Komersial mendorong akselerasi pendalaman pasar keuangan melalui peningkatan variasi instrumen pasar uang sehingga dampaknya mampu mendukung transmisi kebijakan moneter.

2. Kekurangan Surat Berharga Komersial

  • Potensi perubahan harga Surat Berharga Komersial di pasar karena SBK bersifat tidak likuid

  • Ancaman sanksi bagi penerbit berupa larangan penerbitan SBK jika diketahui terdapat wanprestasi dalam pembayaran kewajiban SBK.

  • Nominal pembelian SBK oleh investor masih dibatasi minimal Rp500 juta.

Tonton video berikut ini untuk mengetahui lebih detail tentang Nilai Jual Objek Pajak (NJOP)!

Temukan lebih banyak pilihan rumah terlengkap di Daftar Properti dan Panduan Referensi seputar properti dari Rumah.com

Hanya Rumah.com yang percaya Anda semua bisa punya rumah