Mengenal Tapering Off Bank Sentral AS dan Dampaknya Bagi Indonesia

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Ekonom Raden Pardede mengatakan dampak kebijakan moneter atau tapering off yang dilakukan bank sentral Amerika Serikat (AS) atau The Fed terhadap perekonomian Indonesia minim. Dia menyarankan, Pemerintah Indonesia tidak perlu buru-buru menaikkan suku bunga.

“Perbedaan suku bunga kita dengan Amerika Serikat besar sekali. Jadi kita tidak perlu panik buru-buru menaikkan suku bunga, pada saat yang sama cadangan devisa kita yang cukup besar, saya melihat bahwa dampak dari tapering ini terhadap ekonomi kita sangat-sangat minimal,” kata Raden dalam Indonesia Knowledge Forum (IKF) X – 2021, Kamis (7/10/2021).

Menurutnya, Indonesia tidak perlu khawatir terkait isu Tapering off yang dilakukan bank Sentral Amerika Serikat. Sebab, saat ini cadangan devisa Indonesia naik menjadi USD 147 miliar, akibat ekspor dan harga komoditas yang membaik, dan perdagangan surplus.

“Kalau kita lihat cadangan devisa kita yang naik akibat dari ekspor yang membaik, ini dalam sejarah republik Indonesia baru sekali ini kita mempunyai cadangan devisa yang demikian besar USD 147 bilion, dan kita mengalami trading surplus, dan kita beruntung akibat harga komoditas yang membaik,” ujarnya.

Disamping itu, dia juga menyebut bahwa suku bunga Amerika Serikat dengan Indonesia perbedaannya cukup besar yakni hampir 7,5-8 persen. Sehingga Pemerintah Indonesia tidak perlu buru-buru menaikkan suku bunga.

“Kalau kita lihat perbedaan riil suku bunga AS dengan Indonesia besar sekali itu hampir 7,5 sampai 8 persen,” ujarnya.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Pengertian Tapering Off

Ada sebanyak 190 saham menghijau sehingga mendukung penguatan ke level 4.483,45.
Ada sebanyak 190 saham menghijau sehingga mendukung penguatan ke level 4.483,45.

Adapun Tapering off merupakan pengurangan stimulus moneter yang dikeluarkan bank sentral saat perekonomian sedang terancam dan membutuhkan banyak suntikan dana likuiditas. Hal ini dilakukan The Fed dengan mengurangi ukuran program pembelian obligasi yang dikenal sebagai pelonggaran kuantitatif (Quantitative Easing/QE).

Di Agustus 2021 kemarin, Bank Sentral Amerika Serikat, The Fed memutuskan untuk menahan suku bunga acuan di kisaran 0 - 0,25% dalam rapat Federal Open Market Committee.

Namun, Ketua The Fed, Jerome Powell sudah mengisyaratkan mulai mempertimbangkan untuk melakukan tapering off atau pengurangan stimulus besar–besaran di tahun ini.

Meskipun demikian, Powell juga memperingatkan bahwa mulainya tapering pembelian asset tidak dapat diinterpretasikan sebagai sinyal segera menyusulnya kenaikan suku bunga.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel