Mengenal UEFA Europa Conference League, Kompetisi Antarklub Kasta Ketiga di Eropa

·Bacaan 2 menit

Bola.com, Jakarta - Sepak bola Eropa sedang repot beberapa bulan ke belakang. Setelah Liga Super Eropa tinggal wacana, kini hadir UEFA Europa Conference League, kompetisi antarklub Benua Biru kasta ketiga setelah Liga Champions dan Liga Europa.

Wacana pembentukan Europa Conference League sudah ada sejak 2015 silam, diinisiasikan oleh Michael Platini. Pada akhir 2018, Presiden UEFA, Aleksander Ceferin yang meneruskan tongkat kepemimpinan Platini merealisasikan wacana tersebut.

Setahun kemudian, Ceferin akhirnya meresmikan nama kompetisi, yakni UEFA Europa Conference League. Dengan status 'kasta ketiga', turnamen tersebut akan digelar pada musim 2021/2022.

"Terdapat permintaan dari semua klub untuk meningkatkan peluang mereka dalam berpartisipasi secara lebih reguler di kompetisi Eropa," kata Aleksander Ceferin dilansir dari The Guardian.

"Ini dijawab dengan pendekatan yang strategis dan sesuai dengan tujuan UEFA yang ingin meningkatkan kualitas dan inklusivitas dalam kompetisi antarklub," katanya lagi.

Ceferin lalu menegaskan bahwa Europa Conference League akan jadi kompetisi yang inklusif - bukan eksklusif seperti Liga Super Eropa. Selain itu, akan ada banyak asosiasi negara yang mengirimkan wakilnya di kompetisi antarklub Benua Biru.

Siapa Saja Pesertanya

Edinson Cavani telah menjadi salah satu pemain penting Manchester United musim ini. Ia berpeluang membawa trofi Liga Europa ke Old Trafford. (AP/Dave Thompson)
Edinson Cavani telah menjadi salah satu pemain penting Manchester United musim ini. Ia berpeluang membawa trofi Liga Europa ke Old Trafford. (AP/Dave Thompson)

Format Europa Conference League tak berbeda jauh dengan Liga Champions dan Liga Europa. Yang berbeda hanya plotingan tim yang tampil.

Sebelum 32 tim (dibangi dalam delapan grup) berlaga pada babak grup, akan ada tiga babak kualifikasi terlebih dahulu dan satu babak playoff. Rinciannya, 22 tim yang lolos kualifikasi dan 10 klub yang tereliminasi dari play-off Liga Europa akan tampil pada Europa Conference League.

Selain itu, lima asosiasi negara teratas hanya akan mendapat jatah satu slot saja. Peringkat 6-15 dan 51-55 akan mendapatkan dua jatah, sedangkan asosiasi berperingkat 16-50 mendapatkan tiga tempat.

Sedianya, khusus asosiasi berperingkat 1-5, partisipan adalah mereka yang memenangi Piala Liga. Misalnya, tim dari Inggris adalah mereka yang juara Carabao Cup, Italia dari Coppa Italia, dan lain sebagainya.

Namun demikian, karena juara Piala Liga otomatis lolos ke Liga Europa, dan jika mereka finis di Liga Champions, maka jatah tiket ke Europa Conference League diberikan kepada tim peringkat tujuh. Hal lain berlaku di liga lainnya.

Format

Bek Juventus, Giorgio Chiellini (kedua kanan) dan rekan satu timnya merayakan kemenangan atas Atalanta pada laga final Coppa Italia di Stadion Mapei, Kamis (20/5/2021) dinihari WIB. Juventus semakin menegaskan diri sebagai raja Coppa Italia dengan koleksi 14 gelar juara. (Miguel MEDINA / AFP)
Bek Juventus, Giorgio Chiellini (kedua kanan) dan rekan satu timnya merayakan kemenangan atas Atalanta pada laga final Coppa Italia di Stadion Mapei, Kamis (20/5/2021) dinihari WIB. Juventus semakin menegaskan diri sebagai raja Coppa Italia dengan koleksi 14 gelar juara. (Miguel MEDINA / AFP)

Seperti disebutkan di awal, format Europa Conference League tak jauh berbeda dengan Liga Champions dan Liga Europa. Delapan tim berstatus juara grup akan lolos ke fase gugur atau 16 besar.

Sementara runner-up akan lebih dulu menghadapi tim berperingkat ketiga dari babak grup Liga Europa dengan sistem play-off dua leg. Ini mirip dengan tim berperingkat ketiga fase grup Liga Champions yang kemudian melaju ke babak fase gugur Liga Europa.

Sumber: Berbagai sendiri

Video