Mengenal Vaksin Nusantara, yang Sedang Uji Klinis di Semarang

Agus Rahmat, antv/tvOne
·Bacaan 3 menit

VIVA – Di tengah vaksinasi COVID-19 yang menggunakan produksi Sinovac, China, di dalam negeri juga sedang mengembangkan vaksin. Bukan Vaksin Merah Putih yang sudah banyak dibahas di media. Tapi Vaksin Nusantara yang ternyata sudah menyelesaikan uji fase 1 dan bersiap menuju ke fase 2.

Pembuatannya diinisiasi Dokter Terawan bekerja sama dengan Litbangkes Universitas Diponegoro, tim laboratorium RSUP Dr. Kariadi Semarang, dan Aivita Biomedical Corporation dari Amerika Serikat, dan Rama Pharma.

Vaksin Nusantara sangat berbeda dengan vaksin COVID-19 yang sudah ada. Jika vaksin yang sudah dipakai saat ini ada yang dibuat dengan memakai virus yang dimatikan seperti buatan Sinovac misalnya, atau ada juga yang terbuat dari materi mRNA seperti buatan Pfizer Biontech, maka Vaksin Nusantara dibuat dengan materi sel dendritik.

Peneliti dari Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang yang ikut ambil bagian dalam pembuatan Vaksin Nusantara, dr. Yetty Movieta Nency, Sp.A (K), IBCLC, memberi penjelasan.

Baca juga: Cegah Pemalsuan, Importir Vaksin COVID-19 Dibuat Satu Pintu

Jelasnya, salah satu metode vaksin yang tengah dikembangkan saat ini adalah vaksin berbasis sel dendritik yang bernama AV- COVID-19, dengan tujuan untuk merangsang respon imun spesifik terhadap antigen Spike (S) dari SARS-CoV-2.

Lalu apa itu sel dendritik?

"Sel dendritik autolog, yaitu komponen dari sel darah putih yang diambil dari darah subyek yang sehat. Kemudian sel tersebut dipaparkan dengan antigen protein S dari SARS-CoV-2. Sel dendritik yang telah mengenal antigen akan diinjeksikan kedalam tubuh subyek kembali," jelas dr. Yetty saat dihubungi VIVA.

"Di dalam tubuh, sel dendritik tersebut akan memicu sel-sel imun lain untuk membentuk sistem pertahanan memori terhadap SARS-CoV-2, sehingga diharapkan mampu melindungi penerima vaksin dari infeksi COVID-19 di masa yang akan datang," lanjutnya.

Dari materi yang dipaparkan dr. Yetty saat presentasi di RSUP dr. Kariadi Semarang, secara sederhana, cara kerjanya adalah calon penerima vaksin diambil darahnya. Lalu dari darah itu diisolasi bagian darah putihnya.

Kemudian dari darah putih diambil sel dendritiknya. Sel inilah yang kemudian diberi paparan protein S dari SARS-CoV-2 dan diolah menjadi vaksin. Selanjutnya, vaksin tersebut disuntikkan lagi kepada orang yang sama, yang diambil darahnya tadi.

Lalu apa kelebihan vaksin buatan lokal ini? Menurut Yetty, yang pasti Vaksin Nusantara ini made in Indonesia. Kemudian, kit dirakit dan didistribusikan oleh perusahaan lokal, dan lebih dari 90 persen komponen kit dapat dibuat oleh perusahaan lokal. Dengan begitu harganya pun menjadi lebih murah, sebanding dengan vaksin lain di Indonesia.

Vaksin Nusantara memungkinkan untuk mengupdate antigen secara real time. Sehingga tidak ada stok yang terbuang. Selain itu juga menghemat biaya penyimpanan dan pengiriman.

Di dalam Vaksin Nusantara, tidak ada komponen virus yang disuntikkan. Peptida rekombinan virus diproses oleh sel dendritik pasien secara ex vivo (di luar tubuh), sehingga kekhawatiran terkait keamanan dapat diminimalkan.

Komposisi autolog yaitu hanya sel dan serum milik pasien sendiri yang disuntikkan. Tidak ada penggunaan ajuvan seperti yang digunakan dalam semua vaksin lain, dan sering terkait dengan efek samping seperti alergi berat dan penyakit autoimun.

Vaksin Nusantara diharapkan sesuai untuk kondisi medis tertentu, dimana vaksin lain tidak bisa diberikan terutama pada kondisi-kondisi misalnya alergi komponen vaksin atau penyakit autoimun, terapi imunosupresif, dan lainnya.

"Ada harapan vaksin ini dapat dengan mudah diadaptasi untuk patogen baru. Jika virus bermutasi, atau antigen baru ditemukan, dapat dengan mudah diganti tanpa harus scale-up dan membuang stok vaksin yang ada," ungkapnya.

Saat ini Vaksin Nusantara atau AV- COVID-19 sudah menyelesaikan uji klinis fase 1 dan sedang menuju proses uji klinis fase 2 di RSUP dr. Kariadi Semarang.

Hasil dari uji klinis fase 1 tidak didapatkan kejadian serious adverse event pada seluruh subjek. Pada pengamatan 4 minggu setelah vaksin didapatkan kenaikan titer AB yang bervariasi antar individu/ grup perlakuan.

Laporan: Teguh Joko Sutrisno/ tvOne, Semarang.