Mengenal Varian Baru Lonjakan Covid-19 di Indonesia

·Bacaan 2 menit

VIVA – Varian baru Covid-19 telah merambah di Indonesia dengan beberapa kasus lonjakan pasien postif Covid-19 dengan varian baru. Di Indonesia sendiri varian baru tersebut terdiri atas varian baru Alpha, varian baru Beta dan varian baru Delta.

Dengan identifikasi varian baru Alpha merupakan varian baru Covid-19 yang merupakan varian B.1.1.7 dari Inggris sedangkan varian baru Beta merupakan varian B.1.351 dari Afrika Selatan dan untuk varian Delta yang merupakan bagian dari varian B.1.617 dari India.

Dilansir dari data Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes per tanggal 17 Juni 2021 dari total 1.989 pemeriksaan didapatkan 145 kasus dengan varian baru terdeteksi dengan pembagian varian baru Alpha 36 kasus dengan rincian 2 teridentifikasi di Medan, 1 teridentifikasi di Dumai Riau, 1 teridentifikasi di Batam Riau, 1 teridentifikasi di Tapin Kalimantan Selatan, 1 teridentifikasi di Sumatra Selatan, 24 teridentifikasi di DKI Jakarta, 2 teridentifikasi di Surabaya Jawa Timur, 2 teridentifikasi di Karawang Jawa Barat, 1 teridentifikasi di Jawa Tengah dan 1 teridentifikasi di Denpasar Bali.

Untuk varian baru Beta ada 5 kasus di DKI Jakarta dan untuk varian baru Delta ada 104 kasus berada di 3 terkonfirmasi di Kalimantan Tengah Gunung Mas dan Palangkaraya, 3 terkonfirmasi di Kalimantan Timur Samarinda, 3 terkonfirmasi di Sumatera Selatan, 20 terkonfirmasi di DKI Jakarta, 1 terkonfirmasi di Surabaya, dan 75 terkonfirmasi di Jawa Tengah daerah Brebes, Cilacap dan Kudus.

Dikutip dari Profesor Epidemiologi genetika di Kings College London. Gejala virus varian delta sama seperti virus asalnya B.1.617 dengan gejala flu yang parah disertai dengan sakit kepala dan sering kali pasien membutuhkan perawatan medis bahkan bantuan oksigen.

Pada tanggal 31 Mei 2021 WHO mengumumkan bahwa varian Delta ini merupakan varian yang jauh lebih cepat penularannya daripada varian yang lain dengan lonjakan kasus lebih cepat dua kali lipat.

Varian delta ini dapat menurunkan dengan cepat sistem kekebalan tubuh dikarenakan adanya replikasi dan mutasi ganda di spike dari virus sehingga bisa menyebabkan reinfeksi.

Diketahui ini berhubungan dengan L452R dan T478K. L452R sendiri dapat menyebabkan penurunan imun dan menyebabkan reinfeksi pada penyintas Covid sedangkan dilansir dari Journal of Medical Virology T478K memuat elektrostastik superfisial yang mengubah interaksi ACE2 sehingga menghambat efisiensi obat dan memudahkan penularan dengan cepat sehingga lonjakan kasus positif pasien Covid 19 meningkat tajam.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel