Mengenalkan jamu rasa kekinian pada kaum urban

Pagi itu kesibukan nampak terlihat pada salah satu lapak yang sedang menjadi peserta pada acara sebuah komunitas di Jakarta Selatan. Tampak seorang wanita berbaju hitam dengan potongan rambut pendek sibuk menata mejanya dengan mengatur botol-botol plastik berisi minuman jamu dengan berbagai rasa.

Ia juga dibantu oleh beberapa rekannya, dan sesekali memantau anaknya yang sedang bermain di area taman. Wanita tersebut bernama Puri Larasati, seorang pegiat jamu yang semangat mengajak para wartawan dan pengunjung untuk mencicipi jamunya.

Puri, sapaan akrabnya, sudah kurang lebih dua tahun menggeluti bidang kuliner jamu. Alasannya bisa dikatakan sederhana. Berawal saat pandemi COVID-19 melanda Indonesia pada tahun 2020, semua sekolah termasuk tempat anaknya menimba ilmu diharuskan tutup. Ia pun melihat ada seorang penjual jamu gendongan yang masih berjualan walaupun sekolah sedang tidak mengadakan pembelajaran tatap muka.

Merasa iba, ia akhirnya 'bernegosiasi' dengan Mbok jamu itu untuk membantu menjualkan dagangannya. Tak butuh waktu lama untuk Mbok jamu mengiyakan ajakan Puri. Akhirnya jadilah Puri dan Mbok jamu pilihannya itu menjajakan dagangannya, ia pun memilih metode berjualan daring karena situasi pandemi. Tak disangka, minat pembeli cukup besar. Sampai akhirnya ia juga membuka toko fisik di daerah Jakarta Selatan.

Namun, saat situasi pandemi semakin tidak menentu, Mbok jamu itu harus pulang kampung karena panggilan keluarga. Sempat kebingungan mencari-cari pembuat jamu lain, Puri memutuskan untuk mencoba mengkreasikan jamu sendiri berdasarkan apa yang pernah ia lihat dan rasakan.

Setelah beberapa kali mencoba berbagai resep dan racikan, akhirnya ia menemukan racikan jamu khasnya sendiri untuk melanjutkan berjualan jamu yang dikemas dalam botol. Sambil tersenyum, ia berkata rasa jamu racikannya memang tidak seperti Mbok jamu biasa, namun ia pastikan lidah kaum urban masih dapat menerima rasanya, karena sudah ia sesuaikan.

Pembeli jamu buatan Puri kebanyakan karena ingin tetap bugar selama pandemi, dan jamu botolan yang siap minum buatannya memudahkan pembeli untuk mengonsumsi jamu. Itulah alasan Puri untuk tetap mempertahankan produk jualannya agar tidak kehilangan pembeli yang sudah menjadi pelanggannya.


Meracik jamu sendiri

Puri mengaku masih banyak bahan-bahan rempah yang ingin ia kembangkan menjadi produk jamu. Saat ini, bahan-bahan yang biasa ia pakai untuk membuat bermacam jamu antara lain kunyit, jahe, kayu manis hingga biji pala. Bermacam daun-daunan pun juga ia coba kreasikan seperti pandan, sereh, dan bunga telang.

Meskipun beberapa daun-daunan rempah ini hanya bisa digunakan sebagai 'pemanis' karena tidak banyak yang bisa dieksplorasi. Selain itu, Puri juga masih ingin mengembangkan rempah-rempah lainnya untuk jamu, salah satunya yang berbahan dasar temulawak.

Dari belajar meracik jamu sendiri, Puri akhirnya menyadari bahwa rempah-rempah Indonesia sangat kaya dan rasanya pun bisa berbeda-beda bergantung dari cara memasaknya.

Dari kunyit saja, jika metode penyajiannya berbeda, rasa yang dihasilkannya pun juga bisa berbeda. Seperti saat kunyit diserut, rasanya akan lebih tajam. Berbeda saat dipotong-potong, rasa yang dihasilkan bisa lebih manis. Begitu pula ketika cara memasaknya dengan direbus atau godok lalu diperas, konsistensi dan rasanya akan berbeda.

Ada beberapa alasan bermacam jenis rempah dieksplorasi untuk dibuat jamu. Zaman sekarang banyak yang mengasosiasikan jamu hanya sebagai obat. Anggapan itu pun bisa ditepis, dan bergeser bahwa jamu juga bisa dinikmati layaknya kopi yang sudah berkembang seperti sekarang.

Jika dulu minum jamu sudah menjadi tradisi keluarga, sekarang kebiasaan itu sudah mulai memudar karena terganti obat kimiawi yang mudah ditemukan di apotek. Akhirnya, masyarakat sekarang sudah kehilangan memori rasa dari jamu itu sendiri. Itulah mengapa Puri menjadikan jamu sebagai pilihan usahanya agar mengenalkan kembali rasa jamu yang mungkin sudah banyak dilupakan orang.

Puri ingin mengenalkan rasa utama dari rempah itu sendiri. Ia mengajak masyarakat yang mencoba jamunya untuk menceritakan rasa yang mereka kecap yang ia sebut dengan profil rasa.

Rasa jamu yang pahit , karena sudah tercampur dengan pahitan seperti sirih atau kapur. Padahal, jika dicicipi rasa asli dari rempah itu sendiri bisa dibilang netral, tidak asin maupun manis. Dengan mengeksplorasi profil rasa yang terasa pada lidah menurutnya bisa menepis anggapan bahwa jamu selalu identik dengan obat dan rasa tidak enak, dan menggeser menjadi minuman sehari-hari yang enak juga sehat.

Menyejahterakan petani rempah

Seiring berjalannya waktu dan usaha jamu yang digelutinya, Puri bercita-cita ingin menjadikan kebiasaan minum jamu seperti minum kopi pada kaum urban sekarang.

Karena, kopi sudah sangat berkembang dan dapat mengangkat industri dan ekosistem di sekitarnya. Ini juga bisa menjadi sesuatu yang dibanggakan petani jika hasil alam yang mereka tanam bisa dinikmati bukan hanya untuk obat tetapi sebagai minuman sehat seharu-hari.

Namun demikian, ada beberapa kendala yang ditemukan dalam memproduksi jamu, yakni perlu peningkatan kualitas rempah yang diproduksi petani. Rempah yang dipanen masih bergantung pada cuaca Indonesia yang kadang kering atau hujan, sehingga mempengaruhi kandungan air dari rempah tersebut.

Untuk menjangkau ke tingkat petani, Puri bekerja sama dengan Yayasan Negeri Rempah yang merupakan organisasi nirlaba berbasis komunitas. Komunitas ini berfokus pada rempah karena memberikan perspektif kontekstual yang unik sebagai pintu masuk untuk mendorong publik agar memiliki pengetahuan dan pemahaman terhadap keragaman yang telah membentuknya.

Kerja sama Puri dengan komunitas ini banyak melakukan pendampingan pada UMKM yang memiliki akses ke petani rempah. Lalu ia ambil dengan harga lebih baik dari tengkulak dan mengemasnya kembali untuk dijual.

Dengan pendampingan pada petani rempah itu ia berharap rantai ekosistem perdagangan rempah bisa tercukupi, setidaknya untuk memenuhi pasar nasional asalkan produksi dan standar yang dihasilkan bagus, terlebih penduduk Indonesia merupakan pengguna rempah pada makanan atau minumannya.

Wanita lulusan arsitektur Institut Teknologi Bandung ini juga berharap masyarakat lebih mengenal rempah dari asal usulnya, semudah sering ‘main’ ke pasar untuk melihat bentuk rempah asli.

Mendukung ide kreatif pegiat jamu seperti Puri, Gisel Anindita sebagai perwakilan dari Yayasan Negeri Rempah mengatakan juga ingin mengenalkan bermacam rasa rempah agar masyarakat terutama anak-anak kenal dengan warisan makanan khas Indonesia dan familiar dengan rasanya.

Dengan berbagai cara seperti literasi seni dan budaya, Gisel berharap masyarakat mudah teredukasi dengan kekayaan rempah Indonesia, salah satunya dengan workshop dan dongeng sebagai alat komunikasinya.

Gisel berharap semakin banyak masyarakat yang mengetahui rasa dari rempah-rempah Indonesia dan bertambahnya komunitas pecinta rempah-rempah.

Tidak hanya ingin mengenalkan rempah-rempah Indonesia dalam bentuk minuman, Yayasan Negeri Rempah juga menggandeng komunitas lainnya seperti pegiat kuliner tempe. Tujuannya juga cukup sederhana, agar anak-anak familiar dengan tempe dan menjadikannya sebagai salah satu pendamping makanan utama.

Yayasan Negeri Rempah dan juga komunitas Rasasastra yang ia bentuk berharap masyarakat semakin teredukasi dengan kekayaan rempah Indonesia. Salah satunya dengan berbagai literasi termasuk lisan atau berdongeng dan workshop bersama komunitas.