Mengenang game: Winning Eleven

Verdi Hendrawan

Bagi Anda yang telah mengenal dan senang bermain video game sejak akhir 90’an, terlebih jika merupakan penggemar olah raga sepak bola, nama game Winning Eleven tentu sudah tak asing lagi di telinga kita. Pada zamannya, game simulasi sepak bola ini adalah yang terbaik dan paling digemari di dunia, terutama kawasan Asia.

Winning Eleven pertaka kali dirilis oleh Konami pada 1995 dengan nama J-League Jikkyō Winning Eleven yang hanya menampilkan tim-tim dan pemain dari Liga Utama Jepang saat itu. Seiring perkembangannya, game ini berubah nama menjadi International Superstar Soccer dan Pro Evolution Soccer sebelum menjadi yang kita kenal saat ini, eFootball Pro Evolution Soccer.

Game ini dikembangkan oleh Konami khusus untuk konsol PlayStation 1 dan kini telah menjadi salah satu game tertua dan paling laris di industri permainan.

Dari waktu ke waktu, seiring dengan perkembangan konsol PlayStation, game ini pun tampil semakin baik dan semakin mendekati kata sempurna, baik dalam hal gameplay hingga tampilan para bintang lapangan hijau yang mereka tampilkan. Tak ayal game ini pun sukses menjadi rival abadi dari game FIFA garapan Electronic Arts sejak pertama kali rilis hingga naskah ini dibuat.

Meski terbilang selalu berada di belakang FIFA dalam hal lisensi kepada klub-klub yang ada, gameplay dari Winning Eleven atau eFootball PES yang ada saat ini adalah senjata utama agar permainan ini mampu menarik minat banyak orang dari seluruh dunia.

Dalam hal gameplay, Winning Eleven memiliki beberapa opsi permainan. Selain fitur Match, Winning Eleven juga memiliki mode League, Cup, Master League, dan Training. Selain itu ada juga opsi bagi para pemain untuk menambah atau mengurangi kemampuan pemain hingga membuat karakter baru dengan nama dan kemampuan sesuai keinginan.

Uniknya dalam memainkan Winning Eleven, ada beberapa hal yang sempat menjadi trik overpowerd (OP) yang sering dilarang dalam bermain bersama teman, bahkan di beberapa turnamen yang digelar kala itu.

Salah satu trik yang dianggap terlalu OP saat itu adalah One-Two. Move ini mampu membuat pemain bertahan lawan yang berada di sekitar menjadi tekecoh dan seakan terkena stun. Jika keduanya belum menemukan penangkal dari move tersebut, biasanya hal ini dilarang untuk dilakukan.

Trik lainnya yang menjadi momok menakutkan lainnya adalah kehadiran para pemain dengan kemampuan paling diandalkan para pemain, yaitu berlari (Speed) dan kekuatan tendangan (Shot Power). Contoh terdepan dari tipe pemain tersebut adalah Roberto Carlos.

Berposisi sebagai bek sayap kiri, Roberto Carlos memiliki statistik kecepatan lari dan tendangan tertinggi, 9. Tak jarang banyak pemain yang sering memanfaatkan kemampuan tersebut denganb menempatkan sang pemain sebagai striker demi memudahkan mereka meraup gol demi gol.

Lebih mengerikan lagi, pada saat itu Roberto Carlos memiliki rekan satu tim Ronaldo Luís Nazário de Lima yang juga memiliki kecepatan lari 9. Duet keduanya di lini serang bakal menjadi momok menakutkan bagi siapa pun karena pemain bertahan mereka takkan bisa mengejar dan kiper kesulitan untuk menghalau tendangan dari kedua pemain tersebut.

Tak ayal, saat itu sering kali tim Real Madrid dan timnas Brasil yang dihuni oleh Roberto Carlos dan Ronaldo sering dilarang untuk digunakan agar permainan menjadi lebih seru.

Selain itu, masih ada banyak lagi kenangan dan keunikan yang bisa kita kenang dari permainan yang satu ini, seperti dilarang menekan tombol “Pause” saat diserang oleh lawan dan lainnya. Semuanya telah menjadi kenangan, meski saat ini kita masih bisa memainkannya.

BACA JUGA: Esports jadi dunia yang akan digeluti Cesar Azpilicueta setelah pensiun sebagai pesepak bola