Mengenang Harmoko hingga COVID-19 di Mata Anak Zaman Now

·Bacaan 1 menit

VIVA - Masih lekat di ingatan Harmoko peristiwa langka dalam Sidang Paripurna ke-V, penutupan sidang Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), 11 Maret 1998.

Peristiwa itu mengusik benak Harmoko hingga membuatnya menyampaikan permintaan maaf ke Presiden Soeharto.

Harmoko kala itu menjabat sebagai Ketua MPR. Seperti biasa, sebagai pimpinan, ia menutup sidang dengan mengetukkan palu sebanyak tiga kali.

Namun, hari itu, palu sidang patah saat diketukkan. Kepala palu terlempar ke depan meja jajaran anggota MPR.

"Begitu palu sidang saya ketukkan, meleset, bagian kepalanya patah, kemudian terlempar ke depan...," kata Harmoko

Kerusuhan Mei 1998

Tadi pagi saya ngobrol dengan karyawan restoran.

"Mbak restoran ditutup ya? "
Sebagian dirumahkan pak, tapi Resto buka untuk delivery"

'Mbak tahu kerusuhan Mei 98?"
Tidak pak
Oh mall mall dibakar
Kenapa?

Oh, sekejap saya heran generasi milennial tidak ingat kerusuhan Mei 1998.

Saya pun terbata-bata

"Kenapa kok dibakar? "

Ya, kenapa ya? Rakyat zaman now tidak paham efek krisis moneter. Efek jatuhnya exchange rate.

Zaman now tidak ada perang, tapi ada krisis moneter. Sekarang ini kita PPKM darurat, padahal akibatnya serius rakyat segera kehilangan penghasilan.

"Tapi hanya dua minggu kok"

Ya, tahun lalu dua minggu berujung enam bulan menghabiskan dana Covid Rp1.200 triliun. Sekarang, pemerintah defisit dan kekurangan likuiditas. (Goenardjoadi Goenawan, MM, Lulusan Universitas Indonesia)

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel