Mengenang Kebakaran Hebat di Tanjungpinang, Komoditas dan Candu Tandas Tak Bersisa

·Bacaan 5 menit

Liputan6.com, Tanjungpinang - "Ditiup angin gersang, dalam waktu singkat dengan ganasnya api menyebar sedemikian rupa hingga ke seluruh permukiman yang terancam mengalami kehancuran total," tutur seorang pewarta ketika menggambarkan sebuah kebakaran hebat yang terjadi di Senggarang, Tanjungpinang, Kepulauan Riau pada tahun 1870.

Reportase yang tiada diketahui penulisnya itu diterbitkan oleh Surat Kabar Bataviaasch Handelsblad nomor 139, tahun 1870. Agaknya kebakaran itu bukanlah sebuah kebakaran biasa, sehingga surat kabar yang terbit dalam bahasa Belanda tersebut menganggap penting untuk mewartakannya.

Terdapat beberapa kemungkinan, beberapa di antaranya berkaitan dengan dampak kebakaran serta letak kawasan Tanjungpinang itu sendiri.

Kebakaran itu melanda sebuah permukiman komunitas Tionghoa yang berada di Senggarang. Dari Tanjungpinang yang menjadi daerah tempat berdirinya kantor residen, Senggarang tidaklah begitu jauh.

Letaknya hanya dipisahkan oleh teluk atau muara sungai yang merupakan pintu masuk menuju Hulu Riau. Komunitas Tionghoa diketahui sudah lama menempati kawasan tersebut. Sejumlah peninggalan berkaitan dengan eksistensi mereka dapat dilihat dengan keberadaan tiga buah kelenteng yang saat ini berada di kompleks Vihara Dharma Sasana.

Ketiga kelenteng itu diberitakan sudah dibangun sejak abad ke-18 Masehi oleh para pendatang dari China daratan. Tidak jauh dari tiga kelenteng tersebut, berdiri Kelenteng Tao Sa Kong yang dibangun awal abad ke-19.

Hingga sekarang, kawasan Senggarang memang dikenal sebagai salah satu kawasan yang didiami oleh masyarakat keturunan Tionghoa. Sebagain besar kelompok masyarakat tersebut tinggal pada rumah yang disangga tiang-tiang dari dalam laut. Zaman sekarang rumah-rumah tersebut sudah dibangun menggunakan beton, berbeda dengan zaman dahulu yang pada umumnya dibangun menggunakan material kayu sehingga membuatnya mudah dilalap api.

Upaya pemadaman tentu saja dilakukan oleh masyarakat sekitar. Sayangnya, pada waktu terjadinya kebakaran, air laut sedang surut, sehingga cukup sulit untuk memadamkan api. Sekalipun demikian, masyarakat berinisiatif untuk sengaja meruntuhkan sejumlah rumah hingga jatuh ke dalam laut guna mencegah api menjalar ke bangunan-bangunan lain.

Tentu saja langkah itu menjadi cara yang cukup efektif untuk memutus mata rantai api dari satu bangunan ke bangunan lain, mengingat perlengkapan pemadam kebakaran waktu itu belum selengkap sekarang.

Kebakaran dikabarkan menelan korban jiwa dengan tewasnya seorang anak berusia tiga tahun. Selain korban jiwa, tidak kurang dari 239 unit rumah terbakar berikut harta benda yang tersimpan di dalamnya.

Angka 239 bukanlah angka yang kecil, barangkali inilah yang menjadi salah satu alasan mengapa peristiwa kebakaran pada 8 Oktober itu ditayangkan oleh Bataviaasch Handelsblad yang terbit di Batavia.

Rempah dan Candu pun Terbakar Habis

Tidak hanya itu, sejumlah komoditas perdagangan juga tidak luput dalam kebakaran tersebut. Setidaknya terdapat 2.510 pikul gambir, 300 pikul lada, 360 pikul beras, 20 lapis arak, 400 opium Thailand, serta 200 ekor babi. Barang-barang tersebut diperkirakan berada pada gudang penyimpanan yang berada di kawasan permukiman.

Gambir maupun lada adalah dua jenis rempah yang menjadi komoditas perdagangan yang cukup dicari. Gambir ribuan pikul itu besar kemungkinan merupakan komoditas asli dari Pulau Bintan, mengingat Senggarang dan beberapa kawasan lain di daerah tersebut merupakan lahan gambir aktif. Selain gambir dan lada hitam, Kepulauan Riau juga dikenal sebagi penghasil kopra dan sagu.

Pada abad ke-17 hingga 19, gambir adalah salah satu komoditas utama yang diperjualbelikan di Pelabuhan Riau. Gambir-gambir tersebut bahkan dibawa ke beberapa pelabuhan lain, termasuk ke Singapura. Dalam Aardrijksbeschrijving van Nederlandsch Oost Indie yang ditulis oleh Hollander pada 1868, disebutkan bahwa ladang gambir banyak tersebar di Pulau Bintan.

Daerah itu menurut Hollander juga merupakan tempat menetapnya orang-orang China yang berasal dari Kanton. Mereka bekerja sebagai penanam lada dan gambir, sementara sebagian lainnya bekerja sebagai pedagang, perajin, serta kuli.

Menurut Netscher, pada tahun 1848 harga gambir di Kepulauan Riau mencapai 31 gulden per empat pikul. Harga yang cukup menjanjikan keuntungan bagi pengusaha gambir yang ada pada masa itu.

Berdasarkan catatan yang ditulis Netscher dalam Beschrijving Van Een Gedeelte der Residentie Riouw pada 1854 itu, juga diinformasikan bahwa perkebunan dan jual beli gambir berhasil menghidupi hingga 6.000 jiwa keturunan Tionghoa, dimana pada masa tersebut jumlah masyarakat Tionghoa yang ada di Kepulauan Riau tidak kurang dari angka 8.000 jiwa.

Laporan ikut terbakarnya opium adalah informasi menarik lainnya. Setidaknya, melalui berita ini diketahui bahwa Tanjungpinang pernah menjadi salah satu titik pengedaran opium pada akhir abad ke-19. Bukan sesuatu yang mengherankan, mengingat Tanjungpinang merupakan salah satu kawasan yang menjadi tempat berlangsungnya aktivitas perdagangan di wilayah Kepulauan Riau.

Mengenai opium, di daerah Lingga terdapat sebuah rumah candu, tepatnya di Penuba. Bangunan tersebut hingga saat ini masih berdiri dan menjadi salah satu bangunan cagar budaya.

Pada masanya, rumah candu dipergunakan untuk menghisap madat oleh sejumlah kalangan. Di Hindia Belanda, opium atau yang lebih dikenal dengan sebutan candu atau madat cukup digemari masyarakat pribumi dan Tionghoa.

Oleh Belanda tentu saja hal ini menjadi perhatian khusus, sebab harga candu di pasaran cukup tinggi. Sejak awal abad ke-17, candu menjadi salah satu sumber pendapatan yang tinggi. Dari awal abad ke-17 hingga akhir abad ke-18, Belanda tercatat telah menyuplai hingga 56 ton candu ke pulau Jawa setiap tahunnya.

Tidak hanya itu, pada awal abad ke-19 penjualan candu pun dikenai pajak sehingga Belanda kembali mendulang keuntungan dari peredaran candu. Pada pertengahan abad ke-19 Belanda meraup keuntungan sebesar 155,9 juta gulden, dan hingga awal ke-20 keuntungan tersebut meningkat hingga 15 persen.

Kebakaran yang melanda Senggarang, Tanjungpinang pada 1870 itu agaknya menjadi salah satu persitiwa besar yang berdampak pada perekonomian masa itu. Selain harta benda yang dimiliki oleh masyarakat, kerugian juga disebabkan oleh terbakarnya sejumlah komoditas perdagangan yang menjadi urat nadi perekonomian masyarakat.

Barangkali bukan hanya perkara ratusan rumah yang ludes terbakar api, ludesnya komoditas perdagangan agaknya menjadi alasan lain mengapa kemudian peristiwa ini membuat geger.

Penulis:

Syahrul Rahmat / Dosen Sejarah STAIN Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau

Saksikan juga video pilihan berikut ini:

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel