Mengenang Kisah Tak Normal di Piala Dunia 2006 : Cerita Segitiga Timnas Jerman, Portugal dan Swiss

Bola.com, Jakarta - Perhelatan Piala Dunia 2006 menciptakan beragam catatan menarik. Di sana ada kisah yang menghari-biru, penuh romansa dan intrik di lapangan, serta sanggup memberi kebahagiaan.

Rentang sebulan membuat Piala Dunia 2006 memberi efek ke berbagai lini. Apakah itu juga yang akan terjadi pada penyelenggaraan Piala Dunia 2022?, siapa tahu ada yang mirip dan identik.

 

Tak Bergerak

Francesco Totti memperkuat Timnas Italia menghadapi Jerman pada laga semifinal Piala Dunia 2006, di Signal Iduna Park, 4 Juli 2006. (AFP/Oliver Lang)
Francesco Totti memperkuat Timnas Italia menghadapi Jerman pada laga semifinal Piala Dunia 2006, di Signal Iduna Park, 4 Juli 2006. (AFP/Oliver Lang)

Kembali ke Piala Dunia 2006, Timnas Jerman tak bisa berbuat banyak, kendati berstatus sebagai tuan rumah. Bertekad memenangkan Piala Dunia edisi ke-18 di depan pendukung sendiri, Jerman gagal ke final dan harus puas menyandang peringkat ketiga.

Tempat pertama menjadi milik Timnas Italia setelah merubuhkan Prancis di partai pamungkas via darama adu penalti, yang berakhir 5-3 untuk Gli Azzurri. Jerman memang tergolong malang.

 

Pujian Hebat

Empat tahun sebelumnya, mereka berhasil merengkuh final namun tersungkur di kaki Brasil. Itu berarti, anak-anak Jerman seolah tak belajar dari kegagalan kala memiliki kesempatan menjadi tuan rumah.

Sebelum turnamen bergulir, semua sanjungan mengarah ke ruang ganti Jerman. Panser Eropa diyakini bisa tampil sebagai kampiun.

 

Dapat Hiburan

Banyak alasan kenapa menjagokan mereka. Jerman mengoleksi tiga gelar juara, runner up di edisi sebelumnya, dan armada Jurgen Klinsmann dihuni sederet amunusi nan mumpuni. Semua ada di setiap lini seperti kiper Oliver Kahn, Bastian Schweinsteiger, striker haus gol Miroslav Klose, Michael Ballack, serta pemain muda Lukas Podolski.

Tapi apa yang terjadi sungguh di luar dugaan. Tim banjir puja-puji itu tak mampu ke final, menyusul kekalahan memalukan 0-2 dari Italia.

 

Italia Berjaya

Namun, Cannavaro membalikkan kecenderungan tersebut. Piala Dunia 2006 seolah jadi bukti bahwa bek bisa juga bersinar. (AFP/Nicolas Asfouri)
Namun, Cannavaro membalikkan kecenderungan tersebut. Piala Dunia 2006 seolah jadi bukti bahwa bek bisa juga bersinar. (AFP/Nicolas Asfouri)

Duel yang mentas di Westfalenstadion, Dortmund, itu berlangsung sengit sebelum akhirnya Gli Azzurri menghancurkan Jerman. Negeri Pizza tersebut unggul via gol Fabio Grosso pada menit ke-119 dan Del Piero beberapa detik berselang.

Jerman memang gagal, namun Die Mannschaft masih bisa sedikit membusungkan dada. Podolski, talenta berbakat mereka, didapuk sebagai Pemain Muda Terbaik.

Selain itu, Philipp Lahm mengukir sejarah sebagai bek pertama yang mencetak gol di partai pembuka Piala Dunia. Si mungil itu membuka keunggulan Jerman pada menit keenam saat melumat Kosta Rika 4-2. Itu sekaligus gol terbanyak partai pembuka Piala Dunia.

 

Fakta Lain

Berbeda dengan Jerman, Timnas Portugal memahat pencapaian spektakuler. Cristiano Ronaldo dkk menyentuh semifinal setelah menunggu 40 tahun.

Pada perempat final, Selecao das Quinas menyingkirkan Inggris yang dibesut Sven-Goran Eriksson. Portugal finis di peringkat keempat setelah kalah dari Jerman.

 

Milik Swiss

Catatan lain menjadi milik Swiss. Bedanya, kali ini Swiss menjadi tim pertama yang tak mampu mencetak sebiji gol pun saat memungkasi laga babak 16 besar kontra Ukraina.

Tim berjuluk Nati ini keok 0-3. Lucunya, Swiss juga menjadi tim pertama yang tersingkir dari Piala Dunia tanpa kebobolan satu gol pun.

Pada fase grup, mereka bermain imbang tanpa gol melawan Prancis, menang 2-0 atas Togo. Setelah itu mereka melumat Korea Selatan juga dengan skor yang sama.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel