Mengenang Parlin Siagian, Legenda PSMS yang Ahli Tendangan Pisang

Zulfikar Husein
·Bacaan 2 menit

VIVA – Sepakbola Indonesia kembali berduka. Salah satu legenda PSMS Medan, Parlin Siagian, meninggal dunia di Medan, pada Senin 16 November 2020, sekitar pukul 12.00 WIB.

Semasa bermain, Parlin Siagian tak hanya dikenal sebagai striker tajam. Ia juga dijuluki si ahli tendangan pisang karena sepakannya yang akurat dan kerap menjebol gawang lawan.

Bahkan, Parlin juga sukses saat melanjutkan karier sebagai pelatih. Ia sukses membawa membawa klub besutannya menjuarai kompetisi termasuk PSMS.

Parlin bergabung dengan PSMS pada 1971 dengan status sebagai pemain muda. Saat usianya masih 20 tahun, Parlin sudah bermain bersama pemain hebat di era itu seperti Zulkarnaen Pasaribu, Yuswardi, Wibisono, dan Tumsila.

Di musim perdananya bersama PSMS, Parlin dan rekan seangkatannya seperti Sarman Panggabean, Taufik Lubis, dam Nobon berhasil menjuara Piala Perserikatan 1971.

Gelar juara saat berusia muda ini membuat mentalitas Parlin terbangun dengan baik. Ia tumbuh menjadi striker mematikan yang disegani kawan dan lawan.

Tahun 1975, Parlin kembali membawa Ayam Kinantan menjuarai Piala Perserikatan setelah bermain 1-1 dan menjadi juara bersama dengan Persija Jakarta. Di itu, Parlin menjadi penyumbang satu-satunya gol bagi PSMS.

Parlin Siagian tidak hanya sukses sebagai pemain yang mengangkat berbagai trofi juara tetapi juga sukses sebagai pelatih dengan mengangkat 2 trofi Piala Perserikatan pada tahun 1983 dan 1985.

Bersama Zulkarnaen Pasaribu dan Wibisono, Parlin Siagian berhasil mengantarkan PSMS juara Piala Perserikatan 1983. Dua tahun berselang, ketiganya pun sukses membawa kembali Ayam Kinantan merebut Piala Perserikatan.

Parlin Siagian juga tidak hanya sukses melatih PSMS Medan, dia juga sukses melatih sejumlah klub Indonesia lainnya seperti Persiraja Banda Aceh, PSDS Deli Serdang dan tim sepakbola PON Aceh.

Bahkan, Parlin Siagian tercatat pernah membawa PSPS Pekanbaru promosi ke Divisi Utama Liga Indonesia pada tahun 1999.

Pantas, PSMS sangat terpukul setelah Parlin Siagian pergi untuk selamanya karena almarhum bisa dibilang sebagai pelatih cerdik dan striker tajam berkat torehan prestasinya selama berkarier di lapangan hijau.