Mengenang Senyuman Terakhir Ibu

·Bacaan 3 menit

Fimela.com, Jakarta Selalu ada cerita di balik setiap senyuman, terutama senyuman seorang ibu. Dalam hidup, kita pasti punya cerita yang berkesan tentang ibu kita tercinta. Bagi yang saat ini sudah menjadi ibu, kita pun punya pengalaman tersendiri terkait senyuman yang kita berikan untuk orang-orang tersayang kita. Menceritakan sosok ibu selalu menghadirkan sesuatu yang istimewa di hati kita bersama. Seperti tulisan yang dikirimkan Sahabat Fimela dalam Lomba Cerita Senyum Ibu berikut ini.

***

Oleh: Fuatuttaqwiyah

Cerita senyum ibu kembali membuat mataku menganak sungai. Pasalnya, aku merasa belum bisa membuat ibu tersenyum bangga dengan pencapaian dan prestasiku. Terlahir sebagai anak nomor dua dengan jumlah adik yang banyak, membuatku menjadi sosok yang ambisius. Aku ingin menjadi sosok yang sukses agar adik-adikku bisa mencontohku.

Terbiasa berjuang. Kata yang tepat untuk mewakili perasaan dan jiwaku. Kehidupan yang kujalani memang tidak mudah. Kemiskinan sempat menghentikan asaku untuk melanjutkan sekolah. Belum lagi pandangan orang-orang yang menafikan kemampuanku. Sementara aku merasa mampu dan layak mendapatkan itu semua. Sayangnya, saat itu kondisi ekonomi keluargaku sedang terjun payung. Otomatis, harapanku untuk melanjutkan sekolah pupus sudah.

Terdorong keinginan untuk membahagiakan ibu, aku berjualan snack. Setiap hari untung yang kudapat, kusimpan. Seminggu sekali aku ke bank untuk menyimpan uangku. Nominalnya tidak banyak. Aku hanya ingin mempersiapkan uang untuk kuliah. Pintaku pun tak banyak. Satu sampai dua semester cukuplah, yang terpenting aku pernah merasakan bangku kuliah.

Mengapa kuputuskan hal itu? Aku sadar diri. Kemampuan finansialku terbatas. Keterampilan yang kumiliki pun terbatas. Belum lagi, pandangan orang-orang sekitar rumahku yang seolah bisa membaca masa depanku.

Senyum Pertama

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/DrAkeKris
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/DrAkeKris

Diam-diam aku daftar ujian masuk perguruan tinggi negeri. Ketika pengumuman, ibu langsung memelukku dan tersenyum bangga. Kebahagiaan ibu begitu paripurna. Wajah ayu itu terlihat seperti matahari.

Ibu begitu bangga aku bisa kuliah. Sementara saudaraku belum ada yang kuliah. Bahkan di keluarga besar pun tidak ada cucu simbah dari pihak ibu yang kuliah. Alasannya pun beragam. Aku pun berusaha kuliah dengan baik agar senyum ibu selalu terkembang.

Usaha Membuat Ibu Tersenyum

Beberapa kali aku membuat ibu menangis. Aku yang kadang masih emosi, labil, dan seenakku sendiri. Aku sadar hal itu membuat ibu kecewa. Namun, akhirnya aku sadar. Aku harus bisa membuat ibu selalu tersenyum.

Ketika ibu bilang tidak, aku berusaha tidak melakukan. Bahkan secapek apa pun kondisiku, ketika ibu meminta, kunafikan semua. Tujuanku hanya satu, membuat ibu tersenyum bahagia.

Senyum Terakhir

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/witthayap
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/witthayap

Segala rasa telah kulewati bersama ibu. Ada bahagia, tawa, juga duka. Momen paling membuatku menangis adalah ketika ibu melepasku di Stasiun Lempuyangan. Ada rasa tak rela melepaskan pelukan hangatnya. Namun, tugas baru menanti.

Ibu tersenyum bangga. Melepaskanku dengan doa dan bahagia. Doa-doa yang karenanya aku bisa berhasil di ujung Pulau Sumatra. Senyum indah yang akan kukenang seumur hidupku. Karena itu adalah senyum terakhir yang kulihat secara nyata. Begitu juga pelukan ibu.

Air mata ini masih belum berhenti mengalir mengingat senyuman yang terukir di wajah ayu ibu. Suara bisikan ibu pun masih kudengar jelas sejelas suara toa di masjid. Pesan ibu pun masih rapi kusimpan di hati dan pikiranku.

Menyelesaikan Amanat Ibu

Aku memang tidak bisa melihat senyum ibu lagi. Namun, aku yakin ibu akan tersenyum dengan segala usaha yang kulakukan. Aku berusaha menunaikan amanat ibu. Meski saat itu aku tertatih dan harus menata hati. Tak mudah menyelesaikan amanat ibu. Terlebih memberikan pendidikan yang layak kepada adik-adikku.

Kini, ibu pasti bisa tersenyum bahagia. Adik-adikku sudah bahagia dengan kehidupan yang mereka jalani. Aku pun bisa mewujudkan semua impianku. Sayangnya, ibu tidak sempat menyaksikanku meraih semua itu. Termasuk melihatku menjadi penulis, profesi yang pernah ibu harapkan. Ibulah yang selalu berdoa agar aku menjadi penulis seperti idola beliau.

Piala untuk Ibu

Ketika namaku dipanggil sebagai juara dan menerima piala, aku seperti melihat ibu tersenyum di bangku penonton. Piala itu kupersembahkan untuk ibu. Sosok yang selalu menjadi penyemangat dan pendukung semua langkahku. Terima kasih ibu, senyummu menguatkanku.

#ChangeMaker