Menggugah Kesadaran Masyarakat tentang Bahaya Sampah Lewat Film Dokumenter Pulau Plastik

·Bacaan 5 menit

Liputan6.com, Bandung Puluhan orang memenuhi ruangan teater 2 XXI Trans Studio Mall, Senin (3/5/2021). Mereka yang memenuhi undangan dari Aliansi Zero Waste Indonesia (AZWI) dan Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik (GIDKP) hendak menyaksikan film dokumenter Pulau Plastik.

Acara nonton bareng yang digagas AZWI dan GIDKP ini dihadiri berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa, praktisi, pegiat lingkungan, dan media. Para penonton yang berada di ruangan teater tentunya mengikuti protokol kesehatan yang ketat seperti wajib menggunakan masker, dicek suhu tubuh, dan menjaga jarak minimal satu meter antar kursi.

Film pun dibuka dengan potret keadaan laut Indonesia yang memprihatinkan. Satu sisi Indonesia merupakan negara maritim, di mana lautan lebih luas dibanding daratan serta kaya akan potensi sumber kekayaan laut. Namun, di sisi lain Indonesia juga menjadi negara kedua terbesar penghasil sampah plastik ke laut setelah China.

Nama Pulau Plastik sendiri merujuk kepada sebuah gerakan sosial yang memiliki misi mengurangi sampah plastik di Bali. Gerakan ini memanfaatkan budaya populer dan mencakup kampanye di media sosial dan beberapa media lain.

Kampanye yang dilakukan oleh Pulau Plastik ini bertujuan untuk mengubah perilaku masyarakat agar menolak, mengurangi, menggunakan kembali, dan mendaur ulang plastik sekali pakai, mendukung implementasi kebijakan pemerintah di Bali tentang plastik sekali pakai, dan mendorong adopsi dan implementasi kebijakan tentang plastik sekali pakai pada skala nasional.

Sepanjang menonton film dokumenter ini, penonton digiring ke dalam cerita tiga individu yang berjuang untuk melawan polusi akibat penggunaan plastik sekali pakai. Ketiganya berbeda peofesi. Mulai dari vokalis band grunge Navicula Gede Robi, Tiza Mafira, pengacara muda dari Jakarta, dan Prigi Arisandi, ahli biologi dan penjaga sungai dari Jawa Timur.

Ketiga muda-mudi ini mengeksplorasi sejauh mana polusi plastik yang terjadi di Indonesia. Dalam hal ini, penting diketahui bagaiamana plastik telah memasuki rantai makanan dan memengaruhi kesehatan manusia, serta upaya untuk mengatasi krisis polusi plastik tersebut.

Penggambaran ketiga pemuda yang memerangi polusi sampah ini menujukkan bahwa pentingnya kesadaran anak bangsa tentang masalah tersebut. Saat masyarakat Indonesia terutama kaum muda sudah sadar tentang masalah ini, jadi kemungkinan besar masalah polusi sampah bisa diatasi.

Sepanjang film dokumenter berdurasi 100 menit ini diputar, ada berbagai reaksi penonton. Mulai dari tawa saat adegan Gede Robi menyerahkan sampel feses untuk diteliti tim lab, hingga terpukau aksi pawai pada Hari Bebas Kantong Plastik Internasional.

"Menurut aku bagus sih filmnya, bisa menyadarkan kita tentang bahaya plastik sekali pakai. Setelah nonton saja langsung kepikiran berapa banyak micro plastik dalam tubuh saya. Jadi, film ini bisa jadi penyemangat lagi buat lebih niat mengurangi penggunaan kantong plastik sekali pakai," kata Putri Radiyatul (36) salah seorang penonton.

Putri pun mengakui selama ini belum bisa maksimal mengurangi pemakaian plastik. Melalui film ini ia berupaya untuk menggunakan benda pengganti plastik sehingga tidak menambah persoalan lingkungan, seperti menggunakan tote bag.

"Jadi lebih mikir berkali-kali lagi kalau mau pakai kantong plastik," ucapnya.

Reza (35) menanggapi film dokumenter Pulau Plastik sudah cukup baik dalam mengampanyekan persoalan penggunaan plastik sekali pakai. Hanya saja, dalam catatannya ada tokoh masyarakat yang seharusnya bisa diangkat ke dalam film.

"Harusnya ada tokoh atau orang dari masyarakat biasa yang jadi pemerannya. Tidak hanya aktivis atau artis. Misalnya, ada masyarakat biasa atau warga yang sehari-hari mengolah sampah impor," ujarnya.

Untuk kampanye sendiri, Reza melihat ada hal yang belum bisa dipahami semua lapisan masyarakat, sehingga perlu dikomunikasikan kepada masyarakat di pedesaan.

"Buat orang yang berpendidikan tinggi atau menengah ini bisa paham dampak penggunaan plastik sekali pakai seperti apa dan gimana ke depannya. Tapi kalau buat masyarakat biasa di desa-desa mungkin butuh waktu yang agak lama buat kampanye ini," tuturnya.

Penggabungan Jurnalisme Investigasi dan Budaya Populer

Aliansi Zero Waste Indonesia (AZWI) dan Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik (GIDKP) menggelar nonton bareng film dokumenter Pulau Plastik di ruangan teater 2 XXI Trans Studio Mall, Senin (3/5/2021). (Liputan6.com/Huyogo Simbolon)
Aliansi Zero Waste Indonesia (AZWI) dan Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik (GIDKP) menggelar nonton bareng film dokumenter Pulau Plastik di ruangan teater 2 XXI Trans Studio Mall, Senin (3/5/2021). (Liputan6.com/Huyogo Simbolon)

Film dokumenter Pulau Plastik telah tayang di bioskop Indonesia pada 22 April 2021. Visinema Pictures merilis film ini untuk memperingati Hari Bumi yang ke-51.

Awalnya, Pulau Plastik sendiri berbentuk series yang terdiri dari empat episode yang setiap episodenya berdurasi 20 menit. Film ini diproduksi oleh Kopernik dan Akarumput yang mencakup masalah utama seputar plastik sekali pakai, termasuk mikroplastik, pemilahan dan pembuangan rumah tangga, kebijakan pemerintah, serta industri makanan dan perhotelan.

Serial dengan empat episode ini memiliki judul yang berbeda di setiap episodenya. Episode pertama berjudul Segara Kertih (Harmoni dengan Lautan Kita), episode kedua berjudul Karmaphala (Konsekuensi Tindakan Kita), episode ketiga berujudul Bedawang Nala (Penyu yang Membawa Dunia), dan episode terakhir berjudul Tri Hita Karana (Hubungan Manusia, Tuhan dan Alam).

Film karya sutradara Dandhy Dwi Laksono dan Rahung Nasution ini merupakan penggabungan antara jurnalisme investigasi dan budaya populer.

Jurnalisme investigasi sendiri merupakan kegiatan mengumpulkan, menulis, mengedit dan menerbitkan informasi yang bersifat investigatif atau menelusuri sebuah kasus mendalam yang dianggap memiliki kejanggalan. Metode ini biasa memilih topik yang kompleks, dalam hal ini masalah polusi akibat sampah plastik.

Hasil dari laporan jurnalisme investigatif yang kompleks tersebut berusaha disampaikan dengan pendekatan budaya populer yang lebih dekat dengan masyarakat. Hasil tersebut dikemas dengan bahasa dan budaya masyarakat secara umum agar lebih mudah dipahami dan dimaknai oleh para penonton.

Membangkitkan Kepedulian Bahaya Plastik

Tiza Mafira salah satu pengisi casting film dokumenter Pulau Plastik. (Liputan6.com/Huyogo Simbolon)
Tiza Mafira salah satu pengisi casting film dokumenter Pulau Plastik. (Liputan6.com/Huyogo Simbolon)

Tiza Mafira selaku pengisi casting Pulau Plastik mengatakan, bahwa film dokumenter ini memiliki tujuan untuk menyadarkan masyarakat tentang bahayanya plastik terlebih jika masuk ke dalam tubuh.

"Kita enggak akan bosan-bosannya mengulang kampanye bahwa penggunaan plastik sekali pakai itu harus kita hilangkan dari kehidupan kita. Makanya berbagai medium kita eksplor. Mulai dari medium edukasi, kampanye langsung, bahkan medium film agar bisa menggapai penonton untuk masuk ke isu lingkungan," kata Tiza.

Ia pun berharap kepedulian terhadap isu lingkungan bukan lagi dikenyam oleh para aktivis, pegiat, dan media. Namun, pesan kepedulian terhadap bahaya plastik ini dapat menjangkau masyarakat yang lebih luas lagi.

Selain itu, Tiza melihat gabungan dua sutradara Dandy dan Rahung dalam menyajikan film ini mengajak masyarakat untuk berpikir kritis. Ada pelajaran baru yang bisa dipetik setiap orang dalam film ini.

"Pasti, harapannya masyarakat lebih kritis. Film ini adalah gabungan dari elemen investigatif dan insipiratif. Harapannya agar masyarakat selain belajar suatu fakta yang baru terkuak yang selama ini mereka belum tahu tapi juga merasa terinspirasi melakukan sesuatu," ujarnya.

"Ketiga pemeran dalam film ini berbeda karakter, berbeda latar belakang dan sebenarnya pesannya adalah siapapun bisa berbuat sesuatu apapun latar belakangnya profesinya bisa berbuat sesuatu dan perlu," kata Tiza menambahkan.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini