Menghadapi ketidakpastian perdagangan AS, China jalin hubungan lebih dekat dengan tetangga

Chengdu (AFP) - China mengusulkan kerja sama perdagangan lebih erat kepada Jepang dan Korea Selatan dan menawarkan dukungan untuk inisiatif infrastruktur ketika ia menjadi tuan rumah kedua pemimpin tetangganya minggu ini di tengah hubungan yang tegang dengan AS.

Perdana Menteri China Li Keqiang mengatakan pada pertemuan dengan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe pada Rabu (24/12) bahwa Beijing bersedia untuk memperkuat kerja sama ekonomi dengan Jepang di pasar negara ketiga.

Pada pertemuan di sela-sela pertemuan puncak tiga pihak di kota barat daya Chengdu, Li menambahkan bahwa China akan "lebih jauh membuka industri jasa-jasanya" kepada Jepang.

Dalam pertemuan terpisah pada Senin dengan Presiden Korea Selatan Moon Jae-in, Li mengatakan China bersedia bekerja pada jaringan kereta api yang menghubungkan Korea dengan China dan Eropa, kantor berita Yonhap melaporkan.

Pernyataan Li datang ketika China dan Amerika Serikat mendekati perjanjian perdagangan awal setelah memberlakukan tarif barang bernilai miliaran dolar selama hampir dua tahun dalam perang dagang yang memorak-porandakan ekonomi global.

Pada Jumat lalu, Presiden AS Donald Trump menggembar-gemborkan "pembicaraan yang sangat baik" yang telah ia lakukan dengan Presiden China Xi Jinping dalam suatu kesepakatan untuk menyelesaikan perselisihan tersebut.

Namun rincian dari apa yang disebut kesepakatan "fase satu" antara dua ekonomi terbesar di dunia itu belum dipublikasikan secara tertulis, dengan para pejabat mengutip terjemahan dan pekerjaan hukum yang belum rampung.

Sementara itu hubungan antara kedua pasangan itu semakin tegang oleh dukungan legislator AS untuk gerakan pro-demokrasi di Hong Kong, dan kecaman mereka atas penawanan massal minoritas Muslim di wilayah Xinjiang, China barat.

Li pada Rabu menekankan pentingnya hubungan perdagangan China dengan Jepang dan Korea Selatan, mengatakan volume perdagangan mereka yang besar adalah karena "perlindungan bersama stabilitas dan perdamaian regional".

China, Jepang dan Korea Selatan mengadakan pertemuan puncak padai Selasa yang juga menyentuh kesepakatan perdagangan bebas yang direncanakan antara ketiga negara, yang telah bertahun-tahun dalam pembuatan.

Perdagangan di antara ketiganya bernilai lebih dari 720 miliar dolar AS pada 2018, menurut pernyataan bersama yang dikeluarkan Selasa malam oleh para pemimpin.

Negara-negara akan "mempercepat perundingan" pada perjanjian dan "berusaha untuk mewujudkan lingkungan perdagangan dan investasi yang bebas, adil, tidak diskriminatif, transparan, dapat diprediksi dan stabil", kata pernyataan itu.

Para pemimpin berencana untuk perjanjian perdagangan bebas trilateral baru (FTA) untuk membangun pakta perdagangan Asia yang terpisah dan didukung China, yang jika ditandatangani akan menjadi kesepakatan perdagangan terbesar di dunia.

Pakta itu, yang disebut Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional (RCEP), dimaksudkan untuk menyumbang 30 persen dari PDB global dan melingkupi setengah dari penduduk dunia.

Tetapi India menolak kesepakatan RCEP pada pertemuan puncak pada November, dan itu merupakan pukulan besar.

Anggota RCEP yang tersisa, yang mencakup 10 negara ASEAN plus China, Jepang, Korea Selatan, Australia, dan Selandia Baru, akan menandatanganinya tahun depan setelah meninjau rancangan naskah yang disepakati.

"Negosiasi tentang FTA trilateral akan menjadi lebih aktif segera setelah mereka dapat menyelesaikan negosiasi tentang RCEP," kata juru bicara kementerian luar negeri Jepang Masato Otaka, Selasa.