Menghadapi Stigma, Kenali Penyebab Pikiran untuk Mengakhiri Hidup dan Bagaimana Cara Menanggapinya

·Bacaan 3 menit

Fimela.com, Jakarta Bunuh diri selalu identik dengan depresi. Padahal banyak penyebab bunuh diri lainnya selain depresi. Masih banyak stigma mengakhiri hidup yang beredar di masyarakat. Tanpa bertanya ke ahli kita hanya akan disesatkan dengan pemikiran dan asumsi.

Beberapa waktu lalu Meghan Markle dalam wawancara dengan Oprah berbagi bahwa dia bergumul dengan pikiran untuk bunuh diri selama kehamilannya. "Saya hanya tidak ingin hidup lagi," kata Markle. "Dan itu adalah pemikiran yang sangat jelas dan nyata serta terus-menerus yang menakutkan."

Markle menyadari keseriusan situasi dan meminta bantuan dari para pejabat kerajaan, yang sangat tidak membantunya mendapatkan perawatan kesehatan mental rawat inap yang dia minta, katanya dalam wawancara. Syukurlah, dia bisa melewati masa sulit itu dan berkata dia berada di tempat yang lebih sehat sekarang.

Lebih dari 50 persen orang akan mengalami beberapa pemikiran untuk mengakhiri hidup mereka, menurut Ashley Boynton, PhD, seorang terapis dan peneliti bunuh diri. Jadi, sangat penting dan berpotensi menyelamatkan nyawa untuk mengetahui cara mengatasi pikiran-pikiran bunuh diri dan mendapatkan bantuan jangka panjang untuk mengelolanya. Mungkin sulit untuk memahami statistik itu, tapi ketahuilah pemikiran dan fenomena mengakhiri hidup ada disekitar kita.

Penting untuk seseorang didampingi dengan tenaga profesional seperti psikolog dan psikiater dalam menghadapi keinginan untuk bunuh diri. Tetapi sebelumnya mari kenali penyebab seorang mengakhiri hidupnya. Dilansir dari womenshealthmag.com, ini adalah beberapa faktor penyebab pikiran untuk bunuh diri.

Lingkungan yang tidak mendukung

Berada di keluarga yang tidak mendukung, teman-teman yang selalu melakukan bullying dan kelompok marjinal seringkali membuat seseorang tertekan. Faktor risiko yang paling umum adalah ketika keadaan dalam hidup berubah drastis menjadi lebih buruk. Semua orang punya kapasitas untuk membendung emosi. Situasi apa pun yang menyebabkan seseorang merasa kehilangan semangat, bersalah, atau malu dapat meningkatkan risiko pemikiran untuk bunuh diri.

Gangguan Mental

Depresi | Unsplash.com/ Paolao Chaaya
Depresi | Unsplash.com/ Paolao Chaaya

Depresi sendiri diartikan sebagai kelainan suasana hati yang menyebabkan perasaan sedih dan kehilangan minat secara terus-menerus.Gangguan kesehatan mental ini dapat memengaruhi penderita dalam berpikir dan berperilaku, sekaligus bisa memicu berbagai masalah fisik maupun emosional.Penyebab medis paling umum dari pikiran untuk bunuh diri adalah memiliki penyakit mental seperti depresi, gangguan kecemasan, gangguan bipolar, skizofrenia, atau anoreksia. Tetapi tidak semua penyakit mental mengarah pada bunuh diri.

Korban dari kekerasan dan pelecehan seksual

Menjadi korban kekerasan dan pelecehan seksual menyisakan kenangan pahit yang menyebabkan trauma untuk beberapa orang. Saat kenangan itu muncul seseorang bisa sangat impulsif dan berpikir bahwa dirinya tidak berharga lagi sehingga memilih untuk mengakhiri hidup.

Bagaimana cara menghadapi pikiran untuk mengakhiri hidup ?

Jika mempunyai pikiran untuk mengakhiri hidup, ingat dahulu bahwa kamu tidak sendiri. Jangan memendam perasaan sedih dan masalah sendirian. Coba cari orang yang bisa membantumu akan hal itu. Ingatlah bahwa emosi manusia tidak tetap, tapi terus berubah sewaktu-waktu. Keinginan untuk mengakhiri hidup yang dirasa saat ini bisa jadi hilang beberapa waktu kemudian, besok, atau minggu depan. Sebelum berpikir mengakhiri hidup ingat ketidakhadiranmu akan membuat seorang akan sedih. Neeraj Gandotra, MD, seorang psikiater, instruktur di Fakultas Kedokteran Universitas Johns Hopkins mengatakan jika pikiran itu sering muncul cari bantuan profesional. Bicarakan seluruh perasaan apa yang menyebabkan terpikir untuk melakukan tindakan bunuh diri. Kamu juga bisa lakukan cara ini kepada orang terdekat dan menyebarkan kebaikan.

Penulis : Adonia Bernike Anaya (Nia)