Menghargai masa lalu, menggenggam masa depan di Belangian

Aunul khoir, Kepala Desa Belangian, meminta waktu sejenak kepada penumpang klotok (perahu mesin) untuk berdoa di depan sebuah makam yang dianggap keramat oleh warga setempat.

Tidak seperti ziarah kubur pada umumnya, momen doa bersama ini dilakukan di tengah waduk Riam Kanan di Kecamatan Aranio, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan.

Makam Nawiyah, seorang tokoh agama Banjar yang lari dari intimidasi Belanda pada Tahun 1800, itu juga sudah tidak terlihat nisannya karena berada di dasar waduk sedalam sekitar 60 meter.

Makam hanya ditandai empat tonggak kecil yang dikelilingi tali plastik sehingga membentuk empat persegi panjang.

Sisa-sisa rangkaian bunga yang sudah mengering masih terikat di tali plastik itu.

Makam Nawiyah tenggelam bersamaan dengan ditenggelamkannya sembilan desa di Kecamatan Aranio saat pembangunan waduk Riam Kanan.

Waduk yang membendung delapan sungai di kawasan Pegunungan Meratus ini mulai dibangun pada Tahun 1958 dan diresmikan pada Tahun 1973 oleh Presiden Soeharto.

Waduk seluas 9.730 hektare itu dijadikan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) untuk memasok listrik di beberapa kawasan di Kalimantan Selatan.

Warga Desa Belangian tadinya adalah warga Desa Kalaan, salah satu desa yang ditenggelamkan saat pembuatan waduk.

"Desa kami dulu terletak di tepi Sungai Kalaan. Lebar sungai sekitar 30 meter," kata Hasriani, seorang warga Belangian.

Hasriani yang masih keturunan Suku Dayak merupakan warga asli yang dilahirkan di Desa Kalaan, sebelum desa itu tenggelam.

Dulu, warga Kalaan bekerja sebagai petani, pekebun serta penambang emas dan intan. Setelah pindah ke Desa Belangian, mereka tidak lagi menjadi penambang, namun masih bekerja sebagai petani dan peternak.

Makam Nawiyah, tokoh agama keturunan seorang habib Banjar yang kabur dari ancaman Belanda pada tahun 1800. Makam hanya dibatasi tonggak kayu kecil dilingkari tali plastik sebagai penanda karena nisannya berada di dasar waduk. ANTARA/A. Hakim
Makam Nawiyah, tokoh agama keturunan seorang habib Banjar yang kabur dari ancaman Belanda pada tahun 1800. Makam hanya dibatasi tonggak kayu kecil dilingkari tali plastik sebagai penanda karena nisannya berada di dasar waduk. ANTARA/A. Hakim


Desa wisata

Memori menyakitkan terkait simpang siur kompensasi atas hilangnya tanah, rumah dan penghidupan mereka akibat pembangunan waduk, pada akhirnya terkikis oleh waktu.

Nampaknya, warga desa sudah tidak terlalu memikirkan hal itu lagi dan menganggapnya sebagai kenangan kelam. Hidup terus berjalan.

Mereka mulai mengembangkan sektor pariwisata dengan memanfaatkan keberadaan hutan Kahung, hutan lindung yang menjadi tujuan penggemar wisata petualangan menembus hutan hujan tropis.

Desa Belangian yang berpenduduk 350 jiwa sudah menjadi desa wisata sejak Tahun 2018. Biasanya wisatawan yang datang ke desa ini ingin menelusuri hutan hujan tropis Kahung karena posisi desa ini yang menjadi pintu gerbang masuk ke Kahung.

Lembah Kahung menjadi salah satu objek wisata unggulan di Kalimantan Selatan dan merupakan bagian dari kawasan Geopark Meratus.

Untuk memasuki hutan ini, pengunjung bisa berjalan kaki hingga ke dalam hutan, atau menumpang ojek hingga ke bibir hutan yang sudah difasilitasi dengan jalan conblock.

Di dalam hutan, pengunjung bisa menikmati air terjun Lembah Kahung. Di hutan ini juga masih bisa ditemui binatang liar, seperti monyet ekor panjang, beruang madu, berbagai jenis burung, serta berbagai macam anggrek hutan dan tanaman langka lain.

Penduduk, selain menjadi petani dan peternak, juga menyediakan rumahnya untuk menjadi homestay bagi wisatawan.

Saat ini jumlah turis yang mengunjungi desa tersebut rata-rata mencapai 100 orang per bulan.

Menyadari pentingnya eksistensi Hutan Kahung, warga desa dengan kesadaran sendiri berupaya menjaga kelestarian hutan.

Namun, pengembangan desa sebagai objek wisata bukan berarti menyingkirkan kenangan warga atas desanya dulu.

Aunul bahkan dengan mantap menganggukkan kepala saat diminta untuk menunjukkan posisi Desa Kalaan, dulu, sebelum tenggelam.

"Dekat dari sini, sekitar setengah jam pakai klotok," katanya kepada ANTARA.

Meski Aunul bukan warga asli dari Desa Kalaan, namun ia begitu sering mendengar cerita masa lalu mengenai desa tersebut dari tetangga, tetua kampung, dan orang tuanya sendiri.

Kalau di tengah waduk kita melihat ujung bekas pohon yang sudah mati, biasanya di bawah itu dulunya adalah desa. Tapi Aunul mengaku tidak hafal nama-namanya.

Saat ketinggian air waduk turun, akan nampak batang-batang pohon bekas perkebunan dulu.


Menjual memori

Sekretaris Jenderal Global Geopark Network (GGN) Guy Martini yang mengunjungi Desa Belangian pada Kamis (27/10) lalu mengatakan kenangan warga terkait desa nenek moyangnya dulu bisa menjadi informasi menarik untuk dijual kepada pengunjung.

Apalagi untuk menjangkau desa yang terletak di hulu waduk Riam Kanan ini dibutuhkan waktu sekitar 2 jam perjalanan menggunakan perahu klotok dari Dermaga Desa Tiwingan.

Selama perjalanan dua jam itu, harus ada spot-spot yang ditandai untuk diberikan informasi menarik. Kalau tidak, perjalanannya jadi membosankan.

Di lokasi itu, pengunjung akan menemukan jiwa sebuah taman bumi. Karena sebuah taman bumi tidak melulu bercerita soal geologi, namun juga berkaitan erat dengan keanekaragaman hayati, budaya masyarakat, serta segala cerita terkait nenek moyang mereka.

Keterlibatan masyarakat lokal akan membangkitkan kebanggaan mereka. Sementara bagi pengelola, informasi-informasi ini menjadi sesuatu yang berharga untuk dibagi, sehingga bisa menarik turis datang ke objek wisata tersebut.

Guy mencatat, ada setidaknya empat geosite dan 15 titik perhentian yang layak digali lebih lanjut, sehingga pengunjung bisa mendapatkan informasi yang menarik.

Selama perjalanan menuju Desa Belangian, rombongan berhenti di beberapa titik, seperti Pulau Rusa yang direncanakan menjadi penangkaran rusa sambar, Pulau Bekantan untuk konservasi bekantan, Pulau Pinus yang saat ini sudah menjadi lokasi wisata umum dengan pemandangan yang instagramable, serta Pulau Siran yang memiliki situs arkeologi berupa kapak batu. Situs ini akan jelas terlihat jika air waduk surut.

Guy juga menyempatkan untuk berhenti di makam keramat Nawiyah dan mengheningkan cipta bersama Aunul. Ia juga berhenti untuk mengamati sebuah pohon mati berukuran cukup besar yang masih berdiri tegak di tengah waduk.

Di dahan pohon tersebut ditempel pelat hijau kecil dengan satu titik merah dan tulisan kecil. "Jumat 15 Januari. Banjir 2021".

Rupanya pohon dan pelat itu dijadikan penanda batas air saat banjir besar melanda Kalimantan Selatan pada pertengahan Januari tahun 2021. Banjir terparah yang menggenangi 11 dari 13 kabupaten/kota di provinsi ini selama lebih dari dua pekan.

Sebuah memori yang tidak akan pernah dilupakan masyarakat Kalimantan Selatan.