Mengingat Kembali Kondisi Kejiwaan Putri Candrawathi di Kasus Brigadir J

Merdeka.com - Merdeka.com - Putri Candrawathi, tersangka kasus pembunuhan berencana Brigadir J alias Nofryansyah Yosua Hutabarat, menjalani pemeriksaan di Bareskrim hari ini, Jumat (26/8). Istri Irjen Ferdy Sambo itu menjalani pemeriksaan perdana setelah ditetapkan sebagai tersangka, pekan lalu.

Putri menjadi sorotan usai Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) menyebut jiwanya mengalami gangguan. Ketua LPSK, Hasto Atmojo mengungkapkan ada indikasi Putri mengarah PTSD (post traumatic stress disorder). PTSD merupakan penyakit mental yang dipicu oleh peristiwa menakutkan, di mana seseorang mengalami atau hanya menyaksikan secara langsung.

"Sebenarnya setelah kami baca lagi memang bunyinya bukan begitu. Ibu Putri ini menunjukkan tanda-tanda dalam kesehatan jiwanya gitu. Ada tanda-tanda," kata Hasto, Sabtu (20/8).

"Ada guncangan, ada depresi, ada trauma. Itu saja sebenarnya," Hasto menambahkan.

Putri Sambo: Malu Mbak, Malu

Sementara itu, Wakil Ketua LPSK Edwin Partogi mengatakan dalam laporan yang diterima dari tim psikolog, Rabu (10/8), Putri merasa malu untuk mengungkapkan apa yang terjadi terkait peristiwa eksekusi Brigadir J.

"Memang yang terucap hanya itu. Malu mbak, malu. Malunya kenapa kita enggak tahu," tuturnya.

Putri, lanjut Edwin, harus segera ditangani dengan seorang psikiater yang ahli mengingat kondisi mentalnya yang sekarang sangat memperihatinkan.

"Menurut psikiater kami memang butuh penguatan mental ya dan itu bukan dilakukan oleh psikolog, tapi psikiater karena dia butuh pengobatan," ujar Edwin.

Tangis Putri di Depan Mako Brimob

Putri pertama kali muncul di publik, saat Ferdy Sambo ditempatkan khusus di Mako Brimob Kelapa Dua, Depok. Dalam kemunculannya itu, Putri berurai air mata. Dia menyatakan tulus mencintai sang suami.

"Saya Putri bersama anak-anak, saya mempercayai dan tulus mencintai suami saya," ujar PC, istri Ferdy Sambo dengan berlinang air mata di Mako Brimob, Depok, Minggu (7/8).

Putri pun mengaku telah memaafkan apa yang telah dilakukan oleh Brigadir J kepada keluarganya. “Saya mohon doa agar kami sekeluarga dapat menjalani masa yang sulit ini. Dan saya ikhlas memaafkan segala perbuatan yang kami sekeluarga alami," ujar Putri.

Seiring berjalannya proses penyelidikan, skenario jahat Ferdy Sambo dan istrinya pun terbongkar. Rupanya, Ferdy Sambo sebagai dalang pembunuhan Brigadir J. Sementara Putri, menurut penyidik dianggap turut serta dalam pembunuhan berencana kepada ajudannya itu.

Peran Putri dalam Eksekusi Brigadir J

Polisi menetapkan Putri Candrawathi sebagai tersangka kasus pembunuhan Brigadir J alias Nofryansyah Yosua Hutabarat. Dia dijerat Pasal 340 subsidair Pasal 338 junto Pasal 55-56 Kitab Hukum Undang-Undang Pidana (KUHP).

Kabareskrim Polri Komjen Agus Andrianto mengatakan, penetapan tersangka terhadap Putri berdasarkan keterangan saksi serta alat bukti yang ada.

"Penyidik tentu menetapkan berdasarkan keterangan para saksi dan alat bukti yang ada (fakta penyidikan)," kata Agus saat dihubungi, Sabtu (20/8).

Ia menjelaskan, peran terhadap Putri yaitu mengajak Bripka Ricky Rizal, Bharada Richard Eliezer dan Kuwat Maruf menuju ke Duren Tiga, Kalibata, Jakarta Selatan, atau lokasi terjadinya penembakan Brigadir J.

"(PC) Ada di Lantai 3 saat Riki dan Ricard, saat ditanya kesanggupan untuk menembak Almarhum Josua. Mengajak berangkat ke Duren Tiga bersama RE, RR, KM, Almarhum Josua. Mengikuti skenario yang dibangun oleh FS," jelasnya.

Tak hanya itu saja, Putri juga ternyata bersama dengan Irjen Ferdy Sambo menjanjikan uang kepada tiga tersangka lainnya. "Bersama FS saat menjanjikan uang kepada RE, RR dan KM," tutupnya. [ded]