Mengintip Cara Menjaga Keseimbangan Ekologi di Batur

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Denpasar IK Eriadi Ariana atau Jero Penyarikan Duuran Batur belum lama ini meluncurkan sebuah buku berjudul 'Ekologisme Batur'. Buku yang diharapkan bisa menambahkan ragam wacana kebudayaan Bali itu berisi 18 essai mengambil tema kearifan ekologis dalam kehidupan berbudaya masyarakat Bali, khususnya di wilayah Batur. Jero Penyarikan mengatakan buku tersebut di bedah di Pura Jati, Batur, tepat pada Hari Suci Saraswati atau Hari Turunnya Ilmu Pengetahuan menurut penganut Hindu Bali, pada Sabtu (30/1/2021) lalu.

Alasan dirinya menulis buku tersebut bagian dari tugas dan tanggung jawab yang ia terima saat ini sebagai pelayan umat. Terlebih, ia melanjutkan tradisi yang diwarisi komunitas adatnya mengandung pesan-pesan ekologis yang tinggi.

"Buku ini saya hadirkan tepat setahun saya terpilih sebagai penyarikan melalui ritual di Pura Ulun Danu Batur. Harapannya, kehadiran buku ini bisa menyambung pesan kearifan ekologis yang ada dalam setiap laku tradiai kami," kata alumnus Sastra Jawa Kuno Universitas Udayana ini kepada Liputan6.com. Senin (8/2/2021).

Ia menyebut, buku tersebut dibedah oleh dua orang pemuda pegiat literasi, yakni I Wayan Agus Wiratama (sastrawan muda) dan Putu Oka Suyasa (pegiat alam bebas dan founder Lingkar Studi Batur). Keduanya memandang buku tersebut dalam dua sudut pandang berbeda.

Pesan-pesan Ekologis

"Membaca buku ini seperti mengetahui seorang Jero Penyarikan Eriadi. Ia tumbuh dalam khazanah ilmu yang berkembang dari barat, dan itu dia gunakan dalam membaca diri, dirinya secara tidak langsung memproyeksikan Batur," katanya.

Menurutnya, pola yang digunakan penulis adalah upaya memandang masa lalu dengan kacamata hari ini. Tulisannya tampak berusaha untuk mempertahankan mitos dengan cara memaknai ulang mitos tersebut.

Ia menilai esai-esai Ekologisme Batur mirip dengan pantun. Jika pantun disusun sampiran dan isi, maka Ekologisme menghadirkan pola data dan interpretasi yang saling membangun struktur tulisan.

"Tulisan ini seakan mengingatkan saya bahwa manusia adalah mahkluk yang cemas. Dan, mengenali diri adalah cara mengatasi kecemasan itu," katanya.

Sementara itu, Oka Suya menyebut keunggulan buku ini juga tampak dari sampul, ia melihat penggunaan lukisan 'Filsosofi Menanam' karya I Nengah Sujena sebagai sampul sangat menggambarkan isi dan gagasan ekologi dalam buku tersebut.

"Hanya saja sangat disayangkan, buku ini tampil dengan sejumlah kesalahan ketik. Hal ini dinilai sangat mengganggu bagi pembaca. Tapi juga terdapat gaya bahasa yang membuat berpikir kembali mengenai kejadian yang mesti menjadi sebuah renungan," ujarnya.