Mengintip Gang Sempak, tempat mesum di terminal Bekasi

MERDEKA.COM. Sekilas jika dilihat dari jalan raya, di Terminal Bekasi, Jawa Barat hanya terlihat pangkalan bus. Bus-bus parkir berjajar sedang tidak beroperasi. Namun, ketika dilihat lebih dekat, di sekitar pangkalan bus itu terdapat puluhan bilik semi permanen yang terbuat dari papan serta kayu.

Ya, bilik-bilik semi permanen berukuran 3X2 meter itu merupakan tempat para pekerja seks komersial (PSK) menjajakan dirinya. Selain itu, bilik itu juga digunakan sebagai 'hotel' short time bagi para lelaki hidung belang yang membawa PSK dari luar. Tidak ada yang tahu persis kapan bilik mulai berdiri hingga menjamur, namun diperkirakan sudah berdiri lebih dari tiga tahun lalu.

Uniknya, setiap gang diberi nama. Ada gang 'Sempak', dan nama lainnya yang berhubungan dengan organ intim. Gang-gang ini pun populer di kalangan para sopir angkutan umum di terminal Bekasi. Tarifnya pun beragam, untuk menyewa bilik itu dikenakan biaya mulai dari Rp 25.000 hingga Rp 30.000 dengan fasilitas seadanya, kasur serta bantal tanpa ranjang.

Meski sudah sering kali digerebek oleh Satuan Polisi Pamong Praja Pemerintah Kota Bekasi, praktik mesum di bilik-bilik tersebut masih saja terus berlanjut. Seakan para PSK dan [pria hidung belang tidak pernah kapok. Alasannya tentu klasik, yakni karena faktor ekonomi.

Minggu (07/04) dini hari, gang Sempak kembali diobok-obok Sat Pol PP Kota Bekasi. Sayangnya, kali ini petugas terpaksa gigit jari, sebab tidak satu pun PSK didapat di lokasi. Diduga, razia bocor, sehingga para PSK lebih dulu meninggalkan lokasi itu karena takut akan kedatangan petugas berseragam coklat itu. Padahal, setiap kali melakukan razia di Gang Sempak, sedikitnya tujuh PSK berhasil dijaring.

Para PSK itu kemudian digiring ke Kantor Wali kota Bekasi untuk didata sebelum dilimpahkan ke Dinas Sosial dan dibawa ke Panti Sosial Pasar Rebo untuk dibina.
Dari keterangan seorang mucikari, setiap kali menggunakan bilik tersebut seorang pelanggan dikenakan biaya sebesar Rp 25.000 untuk biaya sewa sekali 'main' dengan PSK.

"Pelanggan banyak dari orang luar yang sengaja datang ke sini. Ada juga orang-orang yang biasa di terminal," kata seorang mucikari, Purnama (45).

Purnama mengaku nekat menjadi mucikari dan 'memelihara' PSK karena faktor ekonomi. Menurut dia, daripada melakukan perbuatan seperti pencurian, lebih baik bekerja sebagai mucikari. "Daripada mencuri, mending begini," katanya.

Sementara itu, Kepala Bagian Tata Usaha Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Pemerintah Kota Bekasi, Charles Aritonang, mengatakan, para pekerja seks komersial di Kota Bekasi bersifat musiman, kadang banyak kadang juga sedikit. Namun, kata dia tempat yang menjadi favorit bagi para PSK yakni di Gang 'Sempak' di samping terminal Bekasi.

"Kami nggak punya data yang falid, karena PSK di Kota Bekasi ini musiman," jelasnya.

Kendati demikian, pihaknya tetap akan melakukan razia secara berkesinambungan, agar praktik mesum di Kota Bekasi dapat diminimalisir sedikit mungkin. "Razia terus, hasilnya kami serahkan kepada Dinsos, kemudian mereka dibawa ke Panti Sosial Pasar Rebo untuk dibina," tandasnya.

Topik pilihan:
Pemerkosaan | Penembakan Lapas | Polisi Teladan | Kasus Asusila | Kopassus

Sumber: Merdeka.com
Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.